Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Valuasi perusahaan ritel fesyen cepat (fast fashion) online Shein anjlok sekitar 70% dari valuasi puncaknya di pasar privat empat tahun lalu.
Kini, perusahaan yang didirikan di China dan berkantor pusat di Singapura itu berupaya menghimpun dana hingga HK$ 13,86 miliar atau sekitar US$ 1,77 miliar melalui penawaran umum perdana saham (IPO) di Hong Kong.
IPO Shein resmi diluncurkan pada Senin (24/8/2026), setelah perusahaan membatalkan rencana melantai di bursa New York dan London dalam empat tahun terakhir.
Baca Juga: Indeks Nikkei Goyah, Tertekan Saham AI di Tengah Penantian Kinerja Nvidia
Dalam IPO tersebut, Shein menawarkan 280 juta saham dengan kisaran harga HK$47,60 hingga HK$49,50 per saham. Jika menggunakan harga tertinggi, Shein akan memiliki valuasi sekitar US$27 miliar.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa IPO Shein akan memberikan valuasi perusahaan sekitar seperempat dari valuasi hampir US$100 miliar yang diraih pada 2022. Pada 2023 dan April 2024, valuasi Shein berada di level US$64 miliar.
Shein akan mengumumkan harga final saham pada 31 Agustus 2026 dan sahamnya dijadwalkan mulai diperdagangkan di Bursa Hong Kong pada 1 September 2026.
Sebelum IPO, Shein sempat membidik valuasi sekitar US$30 miliar hingga US$40 miliar ketika pertemuan dengan investor dimulai.
Pertumbuhan Melambat
Penurunan valuasi tersebut terjadi ketika Shein menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perlambatan pertumbuhan, kenaikan biaya, hingga perubahan kondisi pasar.
Investor menilai Shein akan kesulitan kembali mencatatkan pertumbuhan setinggi sebelumnya, yang pernah mendorong valuasinya mendekati US$100 miliar.
Winston Ma, profesor adjunct di New York University School of Law dan mantan kepala wilayah Amerika Utara di China Investment Corporation (CIC), mengatakan penurunan valuasi mencerminkan keseimbangan baru dalam menilai Shein. "Investor publik tidak lagi membayar untuk pertumbuhan hiper," ujar Ma.
Menurutnya, investor kini menilai Shein sebagai platform lintas negara yang lebih matang dan harus mempertahankan margin keuntungan di tengah tarif perdagangan, meningkatnya biaya kepatuhan, serta pengawasan regulator di Amerika Serikat dan China.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 27 miliar, valuasi Shein setara sekitar 0,7 kali proyeksi penjualannya, berdasarkan data LSEG. Valuasi tersebut lebih tinggi dibandingkan pesaingnya di Eropa, Zalando, yang berada di sekitar 0,4 kali penjualan.
Baca Juga: AS-Iran Masih Panas: 20 Kapal Melintasi Selat Hormuz Selama Akhir Pekan Lalu
Namun, valuasi Shein masih lebih rendah dibandingkan H&M dan Inditex, pemilik merek Zara, yang masing-masing diperdagangkan pada kelipatan sekitar 1,1 kali dan 4 kali penjualan.
Sejumlah investor utama juga telah menyatakan komitmen untuk membeli saham Shein. Investor yang dipimpin pemegang saham lama Boyu, Tiger Global, dan General Atlantic telah menyerap saham senilai sekitar US$ 383 juta.
Selain itu, Tencent, Greenwoods, Taikang Life, dan UBS Asset Management juga akan menjadi investor dalam IPO tersebut.
Shein mengatakan sekitar 80% dana hasil IPO akan digunakan untuk meningkatkan teknologi serta memperkuat merek dan kehadiran global perusahaan.
Berdasarkan prospektus, Shein juga telah menyepakati pembayaran tunai hingga sekitar US$ 3,5 miliar kepada sejumlah investor yang sebelumnya membeli saham khusus dalam putaran pendanaan privat.
Saham yang ditawarkan kepada publik dalam IPO Hong Kong memiliki hak suara hanya sepersepuluh dari saham yang dimiliki para pendiri. Dengan struktur tersebut, para pendiri Shein, yakni Sky Yangtian Xu, Maggie Gu, Molly Miao, dan Tony Ren, akan menguasai sekitar 90% hak suara perusahaan.
Pertumbuhan Pendapatan Hanya 1,1%
IPO Shein berlangsung ketika pertumbuhan pendapatan perusahaan melambat tajam dan laba inti melemah. Margin yang semakin menyusut juga menimbulkan kekhawatiran bahwa ekspansi Shein mulai menghadapi tekanan dari biaya perdagangan yang lebih tinggi, pengawasan regulator yang semakin ketat, serta persaingan e-commerce global yang semakin sengit.
Dalam prospektusnya, Shein memperkirakan pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026 secara umum akan sejalan dengan pertumbuhan 1,1% yang dicatat pada kuartal I-2026. Sementara itu, margin operasional diperkirakan sedikit lebih rendah dibandingkan posisi pada kuartal pertama.
Baca Juga: Saham Asia Cenderung Datar, Investor Tunggu Kabar Nvidia dan Sanksi Iran
Shein menyebut tekanan tersebut antara lain berasal dari pungutan impor baru di Eropa, tekanan harga, serta melemahnya permintaan di Timur Tengah akibat perang Iran.
Perusahaan juga mencatat kerugian kuartalan US$99 juta setelah Amerika Serikat menghapus pembebasan bea masuk untuk paket bernilai kecil. Selain itu, Shein membukukan beban US$328 juta akibat perubahan akuntansi atas saham preferen yang dapat dikonversi dan dapat ditebus.
Sebelumnya, aturan de minimis memungkinkan paket belanja online dari China dengan nilai kurang dari US$800 masuk ke Amerika Serikat tanpa bea masuk.
Shein mengatakan produk asal China yang dijual melalui platformnya maupun melalui marketplace dan dikirim ke AS kini dikenakan tarif pajak antara 10% hingga 87,5%.
Dalam prospektus, Shein menyatakan menghadapi tingkat bea dan pajak yang "jauh lebih tinggi" di AS. Kondisi tersebut secara langsung menyebabkan pendapatan Shein di pasar AS turun 14,3% pada kuartal I-2026.
Shein juga telah menyisihkan sekitar US$80 juta per akhir Maret 2026 untuk menghadapi berbagai perkara hukum dan regulasi yang masih berlangsung.
Perkara tersebut mencakup penyelidikan Komisi Perdagangan Federal AS atau Federal Trade Commission (FTC) yang berpotensi menimbulkan pembayaran dalam jumlah besar, penyelidikan berdasarkan EU Digital Services Act, serta kasus privasi data di Prancis dan Irlandia.
Selain itu, pembelian merek pakaian AS Everlane oleh Shein senilai US$80 juta pada Mei 2026 kini menghadapi peninjauan keamanan nasional oleh Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS), menurut laporan Bloomberg News pada Senin (24/8/2026). Shein belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai hal tersebut.
IPO Terbesar di Hong Kong Tahun Ini
IPO Shein menjadi aksi penawaran saham baru terbesar di Hong Kong sepanjang 2026. Nilainya melampaui IPO perusahaan teknologi kendaraan otonom Momenta Global yang menghimpun US$751 juta pada Juli 2026.
Baca Juga: Indeks Kospi Anjlok 1,31%, Saham Samsung Electronics Terjun 6,31%
IPO Shein juga menjadi yang terbesar ketiga di Asia. Posisinya berada di bawah IPO CXMT dan China Resources New Energy yang masing-masing menghimpun US$9,8 miliar dan US$3,6 miliar melalui IPO di China daratan.
Secara keseluruhan, IPO di Hong Kong telah menghimpun sekitar US$41 miliar sepanjang 2026. Berdasarkan data LSEG, nilai tersebut merupakan rekor untuk periode yang sama dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan US$17 miliar yang dihimpun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Shein dikenal sebagai salah satu pemain utama industri fast fashion global dengan menawarkan pakaian berharga murah, seperti gaun sekitar US$5 dan jeans sekitar US$10, kepada konsumen di sekitar 160 negara.














