Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Warren Buffett, yang dikenal dengan filosofi investasi jangka panjangnya, kembali membuat keputusan mengejutkan dengan menjual seluruh kepemilikan sahamnya di tiga aset utama pada kuartal keempat (Q4) 2024.
Melalui konglomerasi investasinya, Berkshire Hathaway (NYSE: BRK.A), Buffett resmi keluar dari Ulta Beauty (NASDAQ: ULTA), SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY), dan Vanguard S&P 500 ETF (VOO). Keputusan ini memicu spekulasi luas di kalangan investor mengenai arah pasar dan strategi yang diambil oleh investor legendaris ini.
Dengan berakhirnya kuartal pertama (Q1) 2025, berikut adalah kinerja ketiga aset tersebut sejak Buffett menarik diri.
Kinerja Saham dan ETF Setelah Ditinggalkan Buffett
Ulta Beauty (NASDAQ: ULTA)
Buffett pertama kali berinvestasi di Ulta Beauty pada kuartal kedua (Q2) 2024 dengan total nilai investasi mencapai US$266 juta. Namun, hanya dalam dua kuartal, ia memilih untuk melepas hampir seluruh kepemilikannya pada Q4 2024, sebuah langkah yang bertolak belakang dengan prinsip investasi jangka panjang yang sering ia pegang.
Baca Juga: Sukses di Segala Bidang Seperti Warren Buffett, Ini 6 Tips yang Bisa Anda Coba
Keputusan ini tampaknya tepat, karena saham Ulta Beauty mengalami penurunan sebesar 14,59% pada Q1 2025, diperdagangkan di angka US$366,54 per saham pada pembaruan pasar terakhir.
Meskipun Buffett tidak mengungkapkan alasan pasti di balik penjualan ini, pelemahan saham Ulta Beauty menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi sektor ritel kosmetik, ditambah dengan tekanan dari pelemahan pasar secara keseluruhan.
SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY)
Buffett juga memilih untuk keluar dari SPDR S&P 500 ETF Trust, sebuah reksa dana indeks berbiaya rendah yang melacak pergerakan S&P 500. Berkshire Hathaway pertama kali membeli 39.400 saham SPY pada Q4 2019 dan menahannya hingga akhirnya melepas seluruhnya pada Desember 2024.
Sepanjang Q1 2025, SPY mengalami penurunan sebesar 4,32%, diperdagangkan di level US$559,39. Koreksi ini sejalan dengan kinerja indeks S&P 500 yang mengalami gejolak akibat tekanan pada saham teknologi yang mendominasi pasar.
Baca Juga: Para Pria Wajib Tahu, Ini 7 Pelajaran Hidup Penting dari Warren Buffett
Vanguard S&P 500 ETF (VOO)
Sama seperti SPY, Buffett juga mengakhiri kepemilikannya di Vanguard S&P 500 ETF (VOO), ETF terbesar di dunia yang melacak indeks S&P 500. Berkshire Hathaway mulai mengoleksi 43.000 saham VOO pada Q4 2019 dan akhirnya melepasnya seluruhnya pada Desember 2024.
Sepanjang Q1 2025, harga VOO turun sebesar 4,38%, diperdagangkan di US$513,91. Beberapa analis menilai bahwa Buffett mungkin khawatir terhadap risiko konsentrasi di S&P 500, di mana hanya delapan saham – mayoritas dari sektor teknologi – menyumbang sepertiga dari nilai indeks.
Ketergantungan yang tinggi terhadap segelintir perusahaan membuat indeks rentan terhadap guncangan pasar jika salah satu dari mereka mengalami kemunduran.
Strategi di Balik Keputusan Buffett
Keputusan Buffett untuk keluar dari ETF berbasis indeks S&P 500 mengejutkan banyak pihak, mengingat selama ini ia justru merekomendasikan reksa dana indeks sebagai instrumen investasi terbaik bagi investor ritel. Namun, beberapa faktor utama yang mungkin mempengaruhi keputusannya antara lain:
-
Kekhawatiran terhadap Risiko Konsentrasi – S&P 500 semakin didominasi oleh saham teknologi besar seperti Apple, Microsoft, dan NVIDIA, yang rentan terhadap koreksi tajam.
-
Kinerja Pasar yang Tidak Stabil – Sepanjang awal 2025, pasar saham menghadapi tekanan akibat kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global.
-
Akumulasi Kas Berkshire Hathaway – Dengan menjual aset-aset ini, Buffett meningkatkan cadangan kas Berkshire Hathaway yang kini mencapai US$334 miliar, jumlah tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Baca Juga: 5 Aturan Jadi Kaya dari Warren Buffett yang Diabaikan Kelas Menengah
Kinerja Berkshire Hathaway Pasca Penjualan
Meskipun Buffett keluar dari SPY, VOO, dan Ulta Beauty, portofolio Berkshire Hathaway tetap mencatat kinerja yang mengesankan. Pada Q1 2025, saham Berkshire Hathaway melonjak hampir 20%, diperdagangkan di level US$532,58 per saham.
Keputusan strategis Buffett untuk meningkatkan posisi kas dapat membuka peluang akuisisi atau investasi besar di masa mendatang, yang sering menjadi ciri khas strategi investasinya. Dengan kondisi pasar yang tidak menentu, langkah ini dapat memberikan fleksibilitas bagi Berkshire Hathaway untuk mengambil posisi saat valuasi saham turun.