Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Konfrontasi ekonomi antarnegara kini menjadi risiko global terbesar, menggeser konflik bersenjata yang sebelumnya menempati posisi teratas.
Hal tersebut terungkap dalam survei persepsi risiko tahunan World Economic Forum (WEF) yang dirilis pada Rabu (14/1/2026).
Survei yang melibatkan lebih dari 1.300 pakar global itu menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak persaingan ekonomi dan kebijakan proteksionis kini lebih dominan dibandingkan ancaman perang konvensional.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Rabu (14/1),di Tengah Kekhawatiran Gangguan Pasokan Iran
Dalam laporan tersebut, WEF juga mencatat bahwa persepsi terhadap risiko lingkungan mengalami penurunan peringkat, sementara sejumlah kekhawatiran lain justru menguat.
Salah satunya adalah kecemasan terhadap dampak jangka panjang dari lemahnya tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Managing Director pertemuan tahunan WEF di Davos, Saadia Zahidi, menyebut meningkatnya tarif perdagangan, pembatasan investasi asing, serta pengetatan kontrol pasokan sumber daya strategis seperti mineral kritis sebagai contoh nyata dari “konfrontasi geoekonomi” yang kini menempati peringkat risiko tertinggi.
“Ini adalah kondisi ketika instrumen kebijakan ekonomi berubah menjadi senjata, bukan lagi dasar untuk kerja sama,” ujar Zahidi dalam konferensi pers daring, menjelang pertemuan WEF di Davos yang dijadwalkan mulai pekan depan.
Kebijakan “America First” yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut turut mendorong lonjakan tarif dagang AS secara global dan memperuncing ketegangan antara AS dan China.
Baca Juga: Dampak Blokade Trump: Impor Minyak China dari Venezuela Anjlok 75%
China sendiri merupakan negara dengan dominasi besar dalam pasokan mineral kritis serta ekonomi terbesar kedua di dunia.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa persepsi risiko cuaca ekstrem dalam dua tahun ke depan turun dari peringkat kedua ke peringkat keempat. Risiko polusi merosot dari posisi keenam ke kesembilan.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap perubahan kritis sistem bumi dan hilangnya keanekaragaman hayati masing-masing turun tujuh dan lima peringkat.
Namun demikian, ketika responden diminta menilai risiko terbesar dalam jangka panjang, yakni horizon 10 tahun, isu-isu lingkungan justru kembali mendominasi. Kekhawatiran terkait perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menempati tiga besar risiko global jangka panjang.
Kecemasan terhadap “dampak buruk teknologi AI” berada di peringkat ke-30 untuk horizon dua tahun, tetapi melonjak ke posisi kelima dalam pandangan risiko jangka 10 tahun.
Baca Juga: Proyek Kereta Cepat Thailand Berujung Tragedi, 25 Penumpang Tewas
Zahidi menambahkan, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar kekhawatiran terkait AI berfokus pada lemahnya tata kelola, yang berpotensi berdampak negatif terhadap lapangan kerja, tatanan sosial, dan kesehatan mental.
Selain itu, AI juga semakin dikhawatirkan digunakan sebagai alat dalam konflik dan peperangan.
WEF menyatakan survei tahunan ini disusun berdasarkan tanggapan lebih dari 1.300 pemimpin dan pakar global dari kalangan akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, organisasi internasional, serta masyarakat sipil.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
