kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.665.000   13.000   0,49%
  • USD/IDR 16.882   -7,00   -0,04%
  • IDX 9.033   84,28   0,94%
  • KOMPAS100 1.248   7,65   0,62%
  • LQ45 882   3,22   0,37%
  • ISSI 330   3,28   1,00%
  • IDX30 449   0,01   0,00%
  • IDXHIDIV20 529   -1,74   -0,33%
  • IDX80 139   0,91   0,66%
  • IDXV30 147   0,11   0,08%
  • IDXQ30 144   0,01   0,00%

WEF: Konfrontasi Ekonomi Geser Konflik Bersenjata sebagai Risiko Global Terbesar


Rabu, 14 Januari 2026 / 18:12 WIB
WEF: Konfrontasi Ekonomi Geser Konflik Bersenjata sebagai Risiko Global Terbesar
ILUSTRASI. Perang dagang Amerika Serikat dan China (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Konfrontasi ekonomi antarnegara kini menjadi risiko global terbesar, menggeser konflik bersenjata yang sebelumnya menempati posisi teratas.

Hal tersebut terungkap dalam survei persepsi risiko tahunan World Economic Forum (WEF) yang dirilis pada Rabu (14/1/2026).

Survei yang melibatkan lebih dari 1.300 pakar global itu menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak persaingan ekonomi dan kebijakan proteksionis kini lebih dominan dibandingkan ancaman perang konvensional.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Rabu (14/1),di Tengah Kekhawatiran Gangguan Pasokan Iran

Dalam laporan tersebut, WEF juga mencatat bahwa persepsi terhadap risiko lingkungan mengalami penurunan peringkat, sementara sejumlah kekhawatiran lain justru menguat.

Salah satunya adalah kecemasan terhadap dampak jangka panjang dari lemahnya tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Managing Director pertemuan tahunan WEF di Davos, Saadia Zahidi, menyebut meningkatnya tarif perdagangan, pembatasan investasi asing, serta pengetatan kontrol pasokan sumber daya strategis seperti mineral kritis sebagai contoh nyata dari “konfrontasi geoekonomi” yang kini menempati peringkat risiko tertinggi.

“Ini adalah kondisi ketika instrumen kebijakan ekonomi berubah menjadi senjata, bukan lagi dasar untuk kerja sama,” ujar Zahidi dalam konferensi pers daring, menjelang pertemuan WEF di Davos yang dijadwalkan mulai pekan depan.

Kebijakan “America First” yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut turut mendorong lonjakan tarif dagang AS secara global dan memperuncing ketegangan antara AS dan China.

Baca Juga: Dampak Blokade Trump: Impor Minyak China dari Venezuela Anjlok 75%

China sendiri merupakan negara dengan dominasi besar dalam pasokan mineral kritis serta ekonomi terbesar kedua di dunia.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa persepsi risiko cuaca ekstrem dalam dua tahun ke depan turun dari peringkat kedua ke peringkat keempat. Risiko polusi merosot dari posisi keenam ke kesembilan.

Sementara itu, kekhawatiran terhadap perubahan kritis sistem bumi dan hilangnya keanekaragaman hayati masing-masing turun tujuh dan lima peringkat.

Namun demikian, ketika responden diminta menilai risiko terbesar dalam jangka panjang, yakni horizon 10 tahun, isu-isu lingkungan justru kembali mendominasi. Kekhawatiran terkait perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menempati tiga besar risiko global jangka panjang.

Kecemasan terhadap “dampak buruk teknologi AI” berada di peringkat ke-30 untuk horizon dua tahun, tetapi melonjak ke posisi kelima dalam pandangan risiko jangka 10 tahun.

Baca Juga: Proyek Kereta Cepat Thailand Berujung Tragedi, 25 Penumpang Tewas

Zahidi menambahkan, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar kekhawatiran terkait AI berfokus pada lemahnya tata kelola, yang berpotensi berdampak negatif terhadap lapangan kerja, tatanan sosial, dan kesehatan mental.

Selain itu, AI juga semakin dikhawatirkan digunakan sebagai alat dalam konflik dan peperangan.

WEF menyatakan survei tahunan ini disusun berdasarkan tanggapan lebih dari 1.300 pemimpin dan pakar global dari kalangan akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, organisasi internasional, serta masyarakat sipil.

Selanjutnya: BI Rate Turun, Kredit Konsumer Berpotensi Pulih Bertahap pada 2026

Menarik Dibaca: Promo Alfamidi Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1, Berlaku sampai 15 Januari 2026




TERBARU

[X]
×