kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.806   72,00   0,43%
  • IDX 7.828   -492,09   -5,91%
  • KOMPAS100 1.080   -68,31   -5,95%
  • LQ45 770   -42,33   -5,21%
  • ISSI 282   -23,09   -7,57%
  • IDX30 400   -17,67   -4,23%
  • IDXHIDIV20 477   -16,49   -3,34%
  • IDX80 119   -7,65   -6,02%
  • IDXV30 131   -7,06   -5,11%
  • IDXQ30 129   -5,19   -3,87%

Ancaman Demokrasi AS: Gelombang Protes Terbesar Sepanjang Sejarah Menanti


Kamis, 29 Januari 2026 / 08:16 WIB
Ancaman Demokrasi AS: Gelombang Protes Terbesar Sepanjang Sejarah Menanti
ILUSTRASI. Kematian di Minneapolis memicu gelombang protes yang masif. Cari tahu bagaimana insiden ini mengubah fokus aksi No Kings menentang Trump. (via REUTERS/LAURENT GILLIERON)


Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gelombang ketiga aksi protes bertajuk “No Kings” dijadwalkan berlangsung pada 28 Maret 2026. Para penyelenggara mengklaim aksi ini akan menjadi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Para penggerak aksi menyebut protes ini ditujukan untuk menentang apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoritarianisme di bawah Presiden Donald Trump. Aksi-aksi sebelumnya telah menarik jutaan peserta, dan jumlah massa diperkirakan akan meningkat tajam kali ini.

Mengutip AP, lonjakan kemarahan publik dipicu oleh pengetatan kebijakan imigrasi Trump di Minneapolis, yang berujung pada bentrokan kekerasan dan kematian dua orang dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami memperkirakan ini akan menjadi aksi protes terbesar dalam sejarah Amerika,” kata Ezra Levin, direktur eksekutif bersama organisasi nirlaba Indivisible, kepada Associated Press. Ia memperkirakan hingga 9 juta orang akan turun ke jalan.

Aksi “No Kings” diorganisasi oleh jaringan berbagai kelompok di seluruh Amerika Serikat dan menjadi wadah utama bagi kemarahan publik terhadap upaya Trump untuk mengonsolidasikan dan memperluas kekuasaan presiden.

Baca Juga: Mengejutkan! Amazon PHK 16.000 Karyawan Lagi, Total 30.000 Sejak Oktober

“Ini sebagian besar merupakan respons terhadap serangan serius terhadap demokrasi dan komunitas kami, serta perasaan bahwa tidak ada pihak yang akan datang menyelamatkan kami,” ujar Levin.

Trump sebelumnya menepis kritik tersebut dengan mengatakan para demonstran tidak mewakili rakyat Amerika, serta menegaskan bahwa dirinya bukan seorang raja.

Fokus Bergeser Usai Kematian di Minneapolis

Rencana aksi terbaru sebenarnya telah disusun sebelum operasi penegakan imigrasi di Minneapolis. Namun, kematian dua warga akibat tindakan agen federal membuat fokus protes bergeser.

Levin mengatakan aksi kali ini bertujuan menunjukkan dukungan kepada Minnesota dan komunitas imigran di seluruh negeri, sekaligus menentang apa yang ia sebut sebagai praktik aparat federal yang melanggar hak konstitusional warga.

“Satu-satunya cara untuk mempertahankan hak-hak tersebut adalah dengan menjalankannya secara damai namun tegas. Itulah yang kami harapkan terlihat dalam aksi ‘No Kings’ ketiga ini,” katanya.

Trump secara luas membela kebijakan deportasi agresifnya dan menyalahkan pejabat daerah yang menolak bekerja sama. Namun, belakangan ia memberi sinyal perubahan sikap setelah muncul keprihatinan lintas partai atas kematian Alex Pretti di Minneapolis pada Sabtu lalu.

Baca Juga: Trump Senang Dolar Melemah, Tapi Investor Justru Panik Borong Emas

Jutaan Orang Pernah Turun ke Jalan

Aksi “No Kings” pertama digelar pada Juni lalu di hampir 2.000 lokasi di seluruh Amerika Serikat, mencakup kota besar, kota kecil, hingga ruang komunitas. Demonstrasi tersebut terjadi setelah gejolak akibat razia imigrasi federal serta pengerahan Garda Nasional dan Marinir ke Los Angeles.

Ketegangan kala itu meningkat setelah demonstran memblokir jalan bebas hambatan dan membakar kendaraan.

Protes tersebut juga menyoroti parade militer di Washington, D.C. yang menandai ulang tahun ke-250 Angkatan Darat AS dan bertepatan dengan ulang tahun Trump. Penyelenggara menyebut parade itu sebagai bentuk “penobatan simbolis” yang mencerminkan perluasan kekuasaan presiden.

Sebagian politisi konservatif mengecam demonstrasi tersebut dan menyebutnya sebagai aksi “anti-Amerika”.

Pada gelombang kedua yang digelar Oktober lalu, penyelenggara mencatat aksi berlangsung di sekitar 2.700 kota dan daerah. Saat itu, Levin menyoroti pengetatan imigrasi, janji penggunaan kekuasaan federal dalam pemilu paruh waktu, pembatasan kebebasan pers, serta tindakan balasan terhadap lawan politik yang dinilai mengancam hak-hak konstitusional.

Di media sosial, Trump dan akun resmi Gedung Putih sempat mengejek protes tersebut dengan mengunggah gambar hasil komputer yang menampilkan Trump mengenakan mahkota.

Meski aksi-aksi besar ini kerap mencuri perhatian publik, Levin menegaskan kelompoknya berkomitmen untuk membangun perlawanan jangka panjang melalui pelatihan dan pengorganisasian yang berkelanjutan.

Tonton: Pertamina Usul Pembelian LPG 3 Kg Maksimal 10 Tabung per Bulan, Kapan Diterapkan?

“Ini bukan soal Demokrat melawan Republik. Ini soal apakah kita masih memiliki demokrasi, dan apa yang akan kita ceritakan kepada anak dan cucu kita tentang apa yang kita lakukan di masa ini,” ujar Levin.

Selanjutnya: Tugas 22 Pejabat Baru Bea Cukai di Depan Mata

Menarik Dibaca: Fokus Hilang, Hidup Berantakan? Ini 5 Tanda ADHD yang Wajib Anda Tahu




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×