kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Atasi perang dagang, ini reformasi yang ditempuh China


Jumat, 26 April 2019 / 19:20 WIB

Atasi perang dagang, ini reformasi yang ditempuh China

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China tengah gencar untuk melakukan reformasi secara besar-besaran di negaranya. Presiden Cina Xi Jinping berbicara kepada sekitar 40 pemimpin dunia di forum Belt and Road di Beijing menyampaikan pidatonya yang ditunjukkan kepada kepala negara yang tidak hadir yaitu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Menurut Xi Jinping, China berjanji melakukan reformasi dari mengatasi masalah subsidi negara, kemudian melindungi hak kekayaan intelektual, mengizinkan investasi asing di lebih banyak sektor dan menghindari devaluasi kompetitif terhadap yuan.


Selanjutnya masalah perdagangan antara Beijing dan AS. Pihaknya akan membangun sistem perdagangan internasional yang mengikat serta mempunyai standardisasi di semua tingkat pemerintah baik dalam hal lisensi administrasi dan regulasi pasar.

“Kami juga akan menghilangkan aturan yang tidak tepat, serta penyediaan subsidi dan praktik bisnis yang menghambat persaingan yang adil dan mendistori pasar,” kata Xi, yang dikutip Bloomberg, Jumat (26/4).

Janji-janji Xi telah digemakan oleh para pejabat selama beberapa bulan terakhir dan China telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi kekhawatiran AS, termasuk mengesahkan undang-undang investasi asing baru yang melarang transfer teknologi secara paksa. 

Negosiasi perdagangan ini dipimpin oleh perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer yang akan kembali ke Beijing minggu depan karena Trump dan Xi akan bertemu untuk menandatangani kesepakatan.

“Pertemuan ini tampaknya menawarkan konsesi yang kemungkinan besar dibuat oleh China sebagai kesepakatan perdagangan antara AS-China dan hal ini akan segera terjadi,” kata Tom Rafferty , manajer regional Economist Intelligence Unit untuk China.

Stabilitas yuan

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan AS dan China telah menyetujui kesepakatan mengenai aturan mata uang dalam perjanjian perdagangan keduanya. Dalam hal ini, Amerika Serikat meminta China untuk menjaga nilai yuan agar tetap stabil sebagai cara menyelesaikan perang tarif dengan AS.

Xi menegaskan China tidak akan terlibat dalam depresiasi mata uang yang merugikan negara lain dan akan dijaga pada tingkat keseimbangan yang wajar serta secara aktif menetapkan nilai tukar.

Fiona Lim, analis mata uang senior di Malayan Banking Bhd di Singapura menjelaskan kedua negara hampir mendekati kesepakatan yang mencakup pakta mata uang. Investor juga kemungkinan menghindari devaluasi kompetitif dan nilai yuan yang lebih kuat.

Sekitar 5.000 peserta dari seluruh dunia menghadiri pidato Xi, yang juga berfokus pada upaya untuk membereskan program infrastruktur luas yang dimulai pada 2013 untuk membangun kembali rute perdagangan kuno di seluruh Eurasia. Setidaknya tujuh negara yang menyetujui proyek-proyek Belt and Road yang telah ditangguhkan, dihentikan dan sedang dipermasalahkan.

Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran, Beijing mengambil berbagai langkah untuk melakukan pengawasan lebih besar atas program tersebut, kata para pejabat dan peserta dalam forum tersebut. Mereka termasuk mendorong publikasi yang lebih tertutup, dan aturan yang lebih jelas untuk perusahaan milik negara serta penggunaan terbatas pada proyek infrastruktur Belt dan Road, dan membangun mekanisme audit dan anti korupsi di luar negeri.

Bank Rakyat Tiongkok akan membangun sistem pembiayaan dan investasi secara terbuka, berorientasi pasar, kata Gubernur Yi Gang dalam sambutannya Kamis. Pemerintah juga merilis kerangka analisisnya untuk keberlanjutan utang negara.

Xi berjanji membangun proyek baru dengan Filipina, termasuk membangun sebuah taman industri di utara Manila dan menyediakan sumber daya untuk pertumbuhan regional, kata juru bicara kepresidenan Salvador Panelo. 

Xi juga bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengatakan kerjasama antara negara-negara mereka berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada bulan Maret, seorang pejabat senior dari badan perencanaan ekonomi teratas China, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, mengatakan China ingin menggabungkan pengetahuan manufaktur dan konstruksi dengan teknologi canggih perusahaan-perusahaan barat pada program perdagangan dan infrastruktur global.


Reporter: Ferrika Sari
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×