kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45994,16   -8,36   -0.83%
  • EMAS1.133.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bank Besar China Butuh Tambahan Pencadangan Rp 1.379 Triliun Tahun 2024


Selasa, 28 November 2023 / 23:43 WIB
Bank Besar China Butuh Tambahan Pencadangan Rp 1.379 Triliun Tahun 2024
ILUSTRASI. People walk past the logo of property developer Shimao Group near Shimao Tower in Shanghai, China January 13, 2022. REUTERS/Aly Song


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Prospek kinerja industri perbankan China semakin suram karena dipaksa ikut membantu pemerintah menyelamatkan industri properti Negeri Panda itu. 

Bloomberg Intelligence memperkirakan bahwa ICBC dan 10 bank besar lainnya harus memupuk pencadangan tambahan hingga US$ 89 miliar atau setara Rp 1.379 triliun pada tahun depan, demi mengantisipasi risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dari sektor properti. 

Jumlah tersebut sekitar 21% dari perkiraan keuntungan bank-bank tersebut sebelum biaya provisi.

Bank-bank seperti ICBC kemungkinan akan diminta untuk pertama kalinya menyalurkan kredit tanpa jaminan ke pengembang yang sebagian besar sedang berada di tepi jurang kebangkrutan. 

Bank-bank China kini mempertimbangkan menurunkan target pertumbuhan. Menurut sekitar 12 bankir yang diwawancara Bloomberg namun tak bersedia menyebut nama, mereka juga punya opsi melakukan pemangkasan karyawan.

Shen Meng, Direktur bank investasi Chanson & Co mengatakan, pemerintah seharusnya tak bisa begitu saja meminta bank mengambil tindakan tanpa memberi solusi atas permasalahan yang juga dihadapi bank itu. 

Baca Juga: Tanda-tanda Pemulihan Ekonomi China Memudar Lagi

"Jika dibedah lebih dalam lagi kredit bermasalah yang dihadapi bank, segalanya tak akan terlihat baik dalam jangka waktu lama," kata dia dilansir Bloomberg, Selasa (28/11).

Bank-bank Tiongkok kini terjebak diantara tuntutan menyediakan layanan untuk membantu penyehatan sektor properti dan kewajiban mereka untuk menjalankan bisnis secara sehat. 

Seperti diketahui, pemerintah China kini tengah menyusun rancangan mengenai daftar perusahaan properti mana saja yang memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan kredit dari bank tanpa penjaminan.

Parlemen yang dikuasai Partai Komunis baru-baru ini mengatakan, masih ada ruang untuk menurunkan keuntungan sektor perbankan, demi penyehatan industri properti.

Margin bunga bersih (NIM) perbankan telah merosot ke rekor terendah pada September, yakni 1,73%. Angka tersebut berada di bawah ambang batas 1,8% yang dianggap perlu untuk mempertahankan profitabilitas yang wajar.

Baca Juga: Polisi Beijing Selidiki Kasus Manajer Investasi Bermasalah Zhongzhi Enterprise Group

Sementara itu, kredit macet telah mencapai titik tertinggi baru. Adapun pertumbuhan pendapatan berturut-turut sejak tahun 2017 untuk beberapa bank pemerintah terbesar di negara ini mungkin akan terhenti pada tahun ini.

Sementara itu, bank-bank yang lebih kecil di China juga sudah mulai melakukan pemangkasan karyawan. Salah satu bank, menurut laporan Bloomberg, juga akan melakukan pemangkasan 50% dari 400 posisi  di Departemen Kredit mereka tahun ini.

Bloomberg Intelligence memperkirakan tekanan margin akan semakin dalam hingga tahun 2024 dan membebani pendapatan, membatasi pertumbuhan laba pada level low single digit.




TERBARU

[X]
×