Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Konglomerasi investasi asal Amerika Serikat (AS) Berkshire Hathaway mencatatkan kenaikan laba operasional pada kuartal I-2026, meskipun tekanan ekonomi mulai membebani sejumlah lini bisnis yang berorientasi konsumen.
Perusahaan yang dibangun oleh Warren Buffett dan kini dipimpin CEO Greg Abel itu juga melaporkan posisi kas mencapai rekor tertinggi, mencerminkan terbatasnya peluang investasi yang sesuai dengan prinsip value investing yang dianut perseroan.
Baca Juga: Efek Domino Spirit Airlines: Penumpang Terlantar, Maskapai Lain Ambil Peran
Melansir Reuters Sabtu (2/5/2026), laba operasional dari berbagai unit usaha Berkshire meningkat 18% menjadi US$ 11,35 miliar, atau sekitar US$ 7.891 per saham kelas A, dari US$ 9,64 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih yang mencakup keuntungan dari investasi saham melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 10,1 miliar, dari sebelumnya US$ 4,6 miliar.
Namun, perusahaan menilai angka laba bersih kurang mencerminkan kinerja operasional karena dipengaruhi fluktuasi nilai investasi yang belum direalisasikan.
Dari sisi likuiditas, Berkshire mencatatkan kas sebesar US$ 380,2 miliar pada akhir Maret 2026.
Tingginya kas ini mencerminkan belum adanya akuisisi besar dalam beberapa tahun terakhir, serta aksi jual bersih portofolio saham, termasuk pengurangan kepemilikan di Apple.
Baca Juga: Spirit Airlines Bangkrut, Korban Pertama Industri Penerbangan akibat Perang Iran
Sepanjang kuartal I-2026, Berkshire tercatat menjual saham bersih senilai US$ 8,1 miliar, menandai kuartal ke-14 berturut-turut sebagai net seller di pasar saham.
Di sisi lain, perusahaan menggelontorkan US$ 9,5 miliar untuk mengakuisisi bisnis kimia milik Occidental Petroleum.
Berkshire juga kembali melakukan pembelian kembali saham (buyback) sebesar US$ 234 juta pada kuartal pertama, yang merupakan aksi buyback pertama sejak Mei 2024.
Dari sisi operasional, tekanan ekonomi mulai terasa pada sejumlah unit usaha berbasis konsumen.
Perusahaan menyebut ketidakpastian ekonomi dan melemahnya kepercayaan konsumen berdampak pada bisnis seperti Clayton Homes (perumahan), Forest River (kendaraan rekreasi), Fruit of the Loom, hingga produsen mainan Jazwares.
Baca Juga: Greg Abel Pimpin RUPS Perdana Berkshire, Investor Soroti Era Baru Tanpa Buffett
Meski demikian, beberapa lini usaha masih mencatatkan kinerja positif. Unit perkeretaapian BNSF mencatat kenaikan laba 13% menjadi US$ 1,38 miliar, didorong peningkatan permintaan pengiriman komoditas seperti gandum, bahan bakar minyak, dan produk pertanian.
Sementara itu, laba dari segmen energi melalui Berkshire Hathaway Energy naik 2%, ditopang peningkatan pendapatan dari jaringan pipa gas alam, meski diimbangi kenaikan biaya pemeliharaan dan mitigasi kebakaran.
Dari sektor asuransi, laba operasional meningkat 4% menjadi US$ 4,4 miliar. Namun, laba underwriting sebelum pajak di unit asuransi kendaraan GEICO turun 35% akibat kenaikan klaim kecelakaan dan biaya pemasaran.
Baca Juga: Jerman Respons Penarikan Pasukan AS dengan Seruan Perkuat Militer Eropa
Greg Abel mengakui industri asuransi saat ini menjadi lebih kompetitif seiring masuknya lebih banyak modal, sehingga menekan kemampuan perusahaan dalam menetapkan premi yang optimal.
Secara keseluruhan, laba dari segmen manufaktur, jasa, dan ritel meningkat 5% menjadi US$ 3,2 miliar.
Kinerja kuartal ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Greg Abel sebagai CEO, setelah resmi menggantikan Warren Buffett pada Januari 2026. Buffett sendiri tetap menjabat sebagai chairman.
Laporan ini dirilis menjelang rapat tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway yang rutin menarik puluhan ribu investor ke Omaha.
Baca Juga: AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman, Ini Peta Kekuatan Militernya di Eropa
Meski demikian, kinerja saham Berkshire masih tertinggal dari pasar. Sepanjang 2026, saham kelas A Berkshire turun sekitar 6%, sementara indeks S&P 500 justru menguat 6%.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Berkshire dalam beradaptasi dengan tren pasar, terutama di tengah dominasi saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.













