Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - TEXAS. Persaingan memperebutkan aset internasional milik raksasa minyak Rusia, Lukoil, kian memanas. Raksasa energi Amerika Serikat Chevron menggandeng perusahaan ekuitas swasta Quantum Energy Partners untuk mengajukan penawaran pembelian seluruh portofolio aset luar negeri Lukoil yang ditaksir bernilai US$ 22 miliar.
Jika transaksi berhasil, dalam laporan Reuters (7/1), Chevron dan Quantum akan membagi kepemilikan aset tersebut. Portofolio yang dibidik mencakup bisnis produksi minyak dan gas, kilang, hingga lebih dari 2.000 SPBU yang tersebar di Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
Berbeda dari calon pembeli sebelumnya, Quantum dan Chevron menegaskan komitmen untuk memiliki dan mengelola aset itu dalam jangka panjang. Sikap ini dinilai menjadi nilai tambah di mata pemerintahan AS yang sejak awal ingin memastikan aset strategis tersebut jatuh ke tangan perusahaan paman sam, bukan sekadar dibeli lalu dijual kembali.
Quantum mengajukan penawaran bersama Artemis Energy, perusahaan portofolionya yang berbasis di London. Namun, nilai resmi penawaran belum diungkap ke publik. Sementara itu, Chevron menegaskan hanya menyebut terus mengevaluasi berbagai peluang investasi tanpa mengomentari detail transaksi.
Baca Juga: Grab akuisisi Infermove, robot AI perkuat layanan logistik
Persaingan bisnis
Masuknya Chevron-Quantum menambah ketat persaingan, setelah sebelumnya Carlyle dan konglomerat Abu Dhabi, International Holding Company, juga menyatakan minat terhadap aset non-Rusia Lukoil.
Proses divestasi ini sendiri bermula pada November lalu, setelah pedagang komoditas asal Swiss, Gunvor, batal mengakuisisi aset tersebut. Pemerintahan AS kala itu secara tegas menolak memberi izin dan bahkan menyebut Gunvor sebagai boneka Kremlin.
Quantum, yang didirikan oleh taipan minyak asal Texas Wil VanLoh, disebut telah lebih dulu melobi pejabat pemerintahan AS. Perusahaan ini mengklaim akuisisi tersebut akan memperkuat kendali Amerika atas aset energi strategis global.
Seorang pejabat senior AS bahkan secara terbuka menyambut proposal Chevron-Quantum. Pemerintah AS, kata dia, menginginkan aset itu dikuasai operator Amerika dalam jangka panjang, bukan untuk kepentingan spekulasi jangka pendek.
Dari sisi strategi, Chevron juga disebut mengincar kepemilikan 5% saham Lukoil di ladang minyak Tengiz, Kazakhstan aset yang sebagian sudah dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan asal AS tersebut.
Meski begitu, jalan menuju kesepakatan masih terjal. Departemen Keuangan AS hanya memberi waktu negosiasi hingga 17 Januari. Setiap transaksi tetap harus mengantongi restu regulator AS, yang secara praktis memberi Presiden Donald Trump hak veto penuh.
Kegagalan Gunvor menjadi pengingat keras bahwa faktor politik masih menjadi penentu utama dalam transaksi ini. Terlebih, Gunvor memiliki sejarah keterkaitan dengan Gennady Timchenko, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, meskipun yang bersangkutan sudah keluar dari perusahaan lebih dari satu dekade lalu.
Dengan tensi geopolitik yang masih tinggi, akuisisi aset global Lukoil kini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan juga bagian dari perebutan pengaruh energi di panggung global.
Baca Juga: Sejarah Greenland sebagai Wilayah Denmark dan Alasan Trump Ingin Menguasainya













