Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ancaman terhadap pasokan energi global kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan rencana blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Langkah ini berpotensi memperburuk gangguan distribusi minyak dunia yang sebelumnya telah dipicu oleh terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat.
Jika blokade benar-benar diterapkan, dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah Selat Hormuz dan Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb berisiko mengalami gangguan secara bersamaan.
Baca Juga: Yield US Treasury Naik Senin (20/7), Cermati Dampak Konflik Iran terhadap Inflasi
Bab el-Mandeb menjadi jalur vital setelah gangguan di Selat Hormuz
Belum jelas bagaimana Houthi akan menerapkan blokade terhadap Arab Saudi, termasuk apakah mereka akan kembali menyerang kapal-kapal komersial seperti yang terjadi pada 2023 dan 2024.
Namun, posisi Yaman yang menguasai Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah, membuat ancaman tersebut menjadi perhatian serius.
Sejak gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran, Laut Merah menjadi jalur alternatif utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Arab Saudi bahkan mengalihkan lebih dari 70% ekspor minyak mentah hariannya menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Baca Juga: Houthi Umumkan Blokade Laut terhadap Arab Saudi, Konflik Timur Tengah Memanas
Dari Yanbu, kapal menuju Eropa melalui Terusan Suez, sedangkan pengiriman ke Asia melewati Selat Bab el-Mandeb.
Data Kpler dan Signal Ocean menunjukkan pengiriman minyak dari Yanbu dalam beberapa pekan terakhir mencapai rata-rata 4 juta barel per hari, melonjak dari sekitar 973.000 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, volume minyak yang melintasi Bab el-Mandeb mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari pada Juni, atau sekitar 7% dari total produksi minyak dunia.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 4,2 juta barel per hari pada tahun lalu.
Jalur tersebut menjadi penyangga penting pasokan energi global dan membantu meredam lonjakan harga minyak setelah gangguan di Selat Hormuz.
Reuters sebelumnya juga melaporkan Arab Saudi tengah mempertimbangkan perluasan jaringan pipa minyak menuju Laut Merah guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Sisakan 10 Catatan, dari Format 48 Tim hingga Kontroversi Tiket
Siapa Houthi?
Houthi merupakan kelompok politik, militer, dan keagamaan yang muncul di Yaman utara pada 1990-an.
Kelompok tersebut telah berperang melawan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi selama lebih dari satu dekade dan beberapa kali melancarkan serangan rudal maupun drone ke wilayah Saudi.
Meski gencatan senjata yang dimulai pada 2022 relatif bertahan, ketegangan kembali meningkat setelah pemerintah Yaman menyerang Bandara Sanaa pekan lalu untuk menggagalkan pendaratan pesawat Iran.
Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut dan kemudian membalas dengan serangan rudal ke Bandara Abha di wilayah barat daya Saudi.
Seorang anggota biro politik Houthi, Mohammad al-Farah, kemudian memperingatkan bahwa jika eskalasi terus berlanjut, Selat Bab el-Mandeb akan ditutup.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik 0,5% Senin (20/7), Impor China dan Pasokan Ketat Jadi Penopang
Kedekatan dengan Iran
Iran selama ini memasukkan Houthi sebagai bagian dari "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), bersama Hizbullah di Lebanon dan kelompok milisi Syiah di Irak.
Namun, hubungan Houthi dengan Iran dinilai tidak seerat kelompok-kelompok tersebut.
Houthi tidak mengakui Pemimpin Tertinggi Iran sebagai otoritas agama tertinggi mereka.
Motif perjuangan mereka juga lebih banyak dipengaruhi dinamika domestik Yaman, meski secara ideologis tetap sejalan dengan Teheran.
Amerika Serikat menuduh Iran memasok senjata, dana, serta pelatihan militer kepada Houthi dengan bantuan Hizbullah. Tuduhan tersebut dibantah Houthi yang mengklaim mengembangkan persenjataannya sendiri.
Karena itu, belum dapat dipastikan apakah ancaman blokade Laut Merah sepenuhnya merupakan kepentingan strategis Houthi atau bagian dari strategi Iran dalam konflik regional.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Bikin Investor Waspada, Dolar AS Masih Bergerak Datar
Dampak serangan Houthi sebelumnya
Setelah serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 dan operasi militer Israel di Gaza, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina.
Serangan tersebut memaksa perusahaan pelayaran besar seperti Maersk dan Hapag-Lloyd mengalihkan rute kapal mengitari Tanjung Harapan di Afrika, yang jauh lebih panjang dan mahal.
Lalu lintas melalui Terusan Suez hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Data Otoritas Terusan Suez menunjukkan, volume pelayaran sepanjang 2025 masih sekitar 52% lebih rendah dibandingkan 2023 dan menjadi yang terendah dalam sedikitnya 50 tahun terakhir.
Amerika Serikat kemudian memimpin operasi militer internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah melalui serangan terhadap target-target Houthi serta pencegatan ratusan rudal dan drone.
Serangan Houthi baru benar-benar mereda setelah tercapainya gencatan senjata di Gaza pada Oktober tahun lalu.
Pada bulan lalu, Houthi sempat mengancam akan melarang kapal yang memiliki hubungan dengan Israel melintasi Laut Merah, namun ancaman tersebut tidak pernah direalisasikan.
Seiring membaiknya situasi keamanan, sejumlah perusahaan pelayaran, termasuk Maersk dan Hapag-Lloyd, mulai kembali membuka sebagian rute melalui Laut Merah.
Baca Juga: Hamas Tunjuk Khalil Al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Gantikan Yahya Sinwar
Peran Houthi dalam konflik Iran-AS
Berbeda dengan Hizbullah dan kelompok milisi Irak yang sejak awal aktif mendukung Iran melalui serangan roket dan drone, keterlibatan Houthi dalam perang Iran-AS relatif terbatas.
Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi pada Maret lalu menyatakan kelompoknya siap bertindak sewaktu-waktu apabila situasi mengharuskannya.
Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, Esmaeil Qaani, juga pernah memperingatkan bahwa Houthi dapat menutup jalur Laut Merah.
Kini, ancaman tersebut tampaknya mulai diwujudkan melalui pengumuman blokade terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Serangan Iran-AS Meluas, Pelayaran Teluk dan Pasokan Air Terancam
Apabila Bab el-Mandeb benar-benar terganggu, pasar energi global berpotensi menghadapi tekanan baru karena dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah akan mengalami gangguan secara bersamaan.
Kondisi ini dapat mempersempit pasokan minyak dunia dan kembali mendorong kenaikan harga energi global.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
