kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.372   -17,22   -0,23%
  • KOMPAS100 1.024   -3,73   -0,36%
  • LQ45 753   0,65   0,09%
  • ISSI 259   -0,76   -0,29%
  • IDX30 400   1,22   0,31%
  • IDXHIDIV20 496   5,23   1,07%
  • IDX80 115   -0,30   -0,26%
  • IDXV30 134   1,07   0,80%
  • IDXQ30 129   0,47   0,37%

Bursa Australia Ditutup Jatuh Lebih dari 1% Kamis (12/3), Harga Minyak Dekati US$100


Kamis, 12 Maret 2026 / 13:49 WIB
Bursa Australia Ditutup Jatuh Lebih dari 1% Kamis (12/3), Harga Minyak Dekati US$100
ILUSTRASI. Australian Securities Exchange (Dok/ASX)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah lebih dari 1% pada Kamis (12/3/2026) setelah harga minyak melonjak akibat laporan serangan terhadap kapal tanker bahan bakar di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral.

Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 1,3% dan ditutup di level 8.629,00. Sepanjang Maret, indeks ini telah merosot lebih dari 6% dan berada di jalur menuju kinerja bulanan terburuk sejak September 2022.

Baca Juga: Iran Pertimbangkan Boikot Piala Dunia 2026 Usai Serangan AS-Israel

Harga minyak sempat melonjak mendekati US$100 per barel setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah.

Lonjakan tersebut memicu aksi jual aset berisiko karena investor khawatir kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi global dan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.

“Tanpa perkembangan positif terkait Iran dan Selat Hormuz, pasar saham kemungkinan tetap berada dalam mode risk-off mengingat kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

Pasar kini mulai mencerminkan kekhawatiran tersebut. Kontrak swap menunjukkan peluang hampir 75% bagi bank sentral Australia untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan, naik tajam dari sekitar 20% sebelum konflik di Timur Tengah memanas.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Brent ke US$ 100 Pasca Iran Tingkatkan Serangan Kapal di Teluk

Analis di ANZ bahkan bergabung dengan tiga bank besar Australia lainnya yang memproyeksikan kenaikan suku bunga pada Maret, dengan potensi kenaikan lanjutan hingga mencapai 4,35% pada Mei.

Lingkungan suku bunga yang lebih ketat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan memperumit prospek pasar saham Australia.

Tanda-tanda pelemahan konsumsi rumah tangga juga mulai terlihat. Indeks belanja rumah tangga yang disusun oleh Commonwealth Bank of Australia menunjukkan penurunan pada Februari, yang menjadi penurunan pertama dalam 17 bulan.

Di bursa, saham sektor keuangan dan pertambangan dua sektor dengan bobot terbesar di indeks masing-masing turun 1,5% dan 1,7%.

Indeks saham unggulan yang mencakup empat bank terbesar Australia dan produsen bijih besi utama juga melemah 1,2%.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Brent ke US$ 100 Pasca Iran Tingkatkan Serangan Kapal di Teluk

Sektor kesehatan, teknologi, dan properti turut turun antara 1,5% hingga 3,5%.

Di sisi lain, saham sektor energi naik 2,1% sehingga membatasi pelemahan pasar. Saham Yancoal Australia melonjak 10,5% ke level tertinggi sekitar sembilan tahun, sementara Whitehaven Coal naik 6,7%.

Sementara itu di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,7% menjadi 13.199,29.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×