Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Bursa saham Inggris bergerak melemah pada perdagangan Kamis (20/8/2026), tertekan penurunan tajam saham JD Sports setelah perusahaan memangkas prospek labanya. Kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah Inggris turut menambah tekanan terhadap pasar saham.
Indeks saham unggulan FTSE 100 turun 0,2% menjadi 10.723,02 poin pada pukul 10.17 GMT. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi menengah FTSE 250 melemah 0,3% ke level 24.575,63 poin.
Saham peritel pakaian olahraga dan fesyen Inggris, JD Sports, menjadi salah satu penekan utama pasar. Saham perusahaan tersebut anjlok hampir 15% dan berada di jalur penurunan harian terbesar dalam sembilan bulan terakhir.
Penurunan terjadi setelah JD Sports memangkas proyeksi laba menyusul penurunan penjualan pada kuartal II di pasar Amerika Utara, yang merupakan salah satu pasar utama perusahaan.
Baca Juga: Alibaba Catat Pendapatan Naik 9%, Bisnis AI Jadi Mesin Pertumbuhan
Saham perusahaan asuransi Legal & General turun 3,6%, sedangkan saham perusahaan pengelola kekayaan Investec merosot 4,5%. Kedua saham tersebut diperdagangkan tanpa hak atas pembayaran dividen.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Inggris bertenor 30 tahun kembali naik mendekati 5,80%. Sehari sebelumnya, imbal hasil tersebut sempat turun hingga 5,76% setelah adanya pengumuman mengejutkan mengenai pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Kekhawatiran terhadap inflasi dan peningkatan utang pemerintah Inggris membuat investor tetap berhati-hati.
Harga minyak naik
Sementara itu, harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam tiga pekan. Kenaikan harga minyak didorong kekhawatiran bahwa kebuntuan dalam konflik Iran akan terus mengganggu pasokan dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan konsekuensi ekonomi terhadap negara mana pun yang memberikan "segala jenis bantuan untuk mempertahankan Iran."
Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% menjadi sekitar US$94 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut turut mengangkat saham perusahaan energi Inggris, termasuk BP dan Shell.
Baca Juga: China Kerahkan Robocop untuk Mengatur Lalu Lintas
Sejumlah saham Inggris tertekan
Di antara saham lainnya, Trainline, perusahaan penyedia layanan tiket kereta api, melanjutkan penurunan pada perdagangan sebelumnya dengan melemah 10%.
Penurunan saham Trainline terjadi setelah regulator persaingan usaha Inggris melakukan penyelidikan terkait praktik penetapan harga tiket.
Sementara itu, saham Ashtead Technology merosot 15,4%. Perusahaan penyewaan peralatan dan penyedia solusi untuk sektor subsea tersebut memperkirakan hasil tahunan berada di bawah ekspektasi pasar.
Proyeksi tersebut dipengaruhi penundaan sejumlah proyek di berbagai wilayah.
Pergerakan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa investor di bursa Inggris masih menghadapi tekanan dari sejumlah faktor, mulai dari prospek kinerja korporasi, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah, hingga ketidakpastian geopolitik yang kembali mendorong harga komoditas energi.












