Sumber: Yahoo News,Forbes | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Greg Hart menghabiskan lebih dari dua dekade bekerja langsung bersama pendiri Amazon Jeff Bezos dan CEO saat ini Andy Jassy. Kini, ia memimpin Coursera, platform pembelajaran daring bernilai US$ 1,35 miliar dan menerapkan banyak pelajaran yang ia dapatkan dari raksasa e-commerce itu.
Karier Hart dimulai pada 1997, sehari sebelum resmi bergabung dengan Amazon. Ia bahkan dipanggil Bezos untuk wawancara khusus di hari Minggu. Saat itu, Amazon hanya memiliki sekitar 200 karyawan dan Bezos mewawancarai hampir semuanya demi memastikan budaya awal perusahaan terjaga.
“Bezos ingin memastikan semangat, fokus pada pelanggan, standar tinggi, dan kecepatan bekerja tetap menjadi jati diri Amazon saat perusahaan tumbuh,” ujar Hart mengenang.
Baca Juga: Setelah Menikah, Jeff Bezos Jual Saham Amazon Senilai US$ 5,4 Miliar
Pelajaran itu terus ia bawa hingga kini. Sejak memimpin Coursera, Hart ingin mendorong budaya yang selaras dan peningkatan kecepatan inovasi agar lebih baik dalam melayani pelajar di seluruh dunia.
Ia memperkenalkan seperangkat prinsip kepemimpinan yang terinspirasi dari perusahaan-perusahaan teknologi paling sukses.
Upaya transformasi ini tepat waktu. Lonjakan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan skill baru melesat. Coursera kini menawarkan lebih dari 12.000 kursus, termasuk lebih dari 1.100 kursus berbasis generative AI melonjak 44% dibanding tahun sebelumnya.
Topik AI menjadi yang paling diminati, baik oleh individu maupun perusahaan.
Baca Juga: Jeff Bezos Jual Saham Amazon Senilai Rp 87,5 Triliun Usai Menikah
Untuk menjaga fokus budaya kerja, Hart juga mengubah format rapat. Alih-alih pertemuan besar yang tidak terarah, setiap sesi dipusatkan pada satu prinsip kepemimpinan.
“Sebagus apa pun pemahaman kita di level pimpinan, pesan itu harus terus diulang agar seluruh karyawan menangkap esensinya,” tegas Hart.
Cara CEO Coursera Memanfaatkan AI
Seperti banyak pemimpin perusahaan lainnya, Hart tengah memaksimalkan pemanfaatan AI di tempat kerja. Sebuah survei KPMG 2025 di AS menunjukkan 74% CEO menempatkan investasi AI sebagai prioritas utama, meski ekonomi belum pasti.
Namun ada satu hal yang tidak akan dilakukan Hart: menggunakan AI untuk menulis. “Menulis adalah cara saya berpikir,” ujarnya.
“Kalau saya menyerahkan itu ke AI, artinya saya menyerahkan proses berpikir saya.”
Meski begitu, ia mendorong seluruh karyawan bereksperimen memakai AI sesuai kebutuhan. Mereka bahkan memiliki forum internal bernama *“AI Sparks” yang menjadi ajang berbagi praktik terbaik dan pengalaman penggunaan AI di berbagai divisi.
Baca Juga: Jeff Bezos Lepas Saham Amazon Senilai Rp 88 Triliun Pekan Kemarin
Pertemuan ini disebut sebagai yang paling populer di Coursera.
Pelajaran terakhir dari Amazon, kata Hart, adalah tidak terpaku pada hasil jangka pendek saat teknologi baru berkembang.
“Kami ingin tenaga kerja yang mencoba AI sebanyak mungkin dalam berbagai cara. Dampaknya akan kami ukur seiring waktu,” ujar Hart. “Jika terlalu fokus pada hasil sekarang, kita bisa kehilangan peluang besar di masa depan.”













