kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

China punya senjata kuat di pasar keuangan dalam duel dengan Trump


Jumat, 10 Mei 2019 / 11:06 WIB

China punya senjata kuat di pasar keuangan dalam duel dengan Trump

KONTAN.CO.ID - BEINJING. China tampaknya tidak gentar dengan ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) yang akan menaikkan tarif produk-produk Tiongkok. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu tersebut memiliki senjata kuat di pasar keuangan. Senjata tersebut dapat digunakan menghadpai pergolakan perdagangan dengan AS, termasuk timbunan treasury dan mata uangnya. Namun penggunaan senjata tersebut bukan tanpa biaya.

Mengutip Bloomberg, Jumat (10/5), Beijing berjanji membalas jika Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti ancamannya menaikkan tarif pada Jumat atas impor produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% dari 10%.


Tetapi hanya menanggapi dengan tarifnya sendiri bukanlah strategi China yang paling jitu, kata Brad Setser, mantan pejabat Departemen Keuangan yang sekarang menjadi rekan senior untuk ekonomi internasional di Council on Foreign Relations.

"Menyesuaikan dolar AS dengan dolar pada tarif AS akan menyiratkan kenaikan tarif 25% pada semua impor AS, termasuk yang masuk ke ekspor China," kata Setser. Namun China tentu saja bisa melakukan itu, tetapi ia bilang, hal itu, dalam banyak kasus akan merusak China secara langsung.

Apalagi Trump juga memperhatikan pasar keuangan. Dia sering tweet tentang saham karena mereka telah diperbesar ke rekor tertinggi. Setelah Trump mengumumkan kenaikan tarif pada hari Minggu, S&P 500 telah turun setiap hari.

Tiongkok, ekonomi terbesar kedua di dunia, memiliki beberapa pasar yang dapat ditarik untuk meningkatkan pertempuran. Inilah beberapa di antaranya:

Mendevaluasi Yuan

Pembuat kebijakan Tiongkok dapat mendevaluasi yuan untuk mengimbangi dampak kebijakan AS terhadap ekonomi Tiongkok. Yuan melemah 5,5% terhadap dolar pada tahun 2018, hal ini sempat menimbulkan kemarahan Trump dan memicu spekulasi bahwa negara itu sengaja melemahkan mata uangnya. 

Sementara itu Yuan kembali jatuh 1,3% minggu ini, mata uang Yuan sempat naik pada hari Jumat setelah Bank Rakyat China menetapkan penetapan harian pada tingkat yang lebih kuat dari yang diperkirakan.

Namun, pengalaman menyakitkan Tiongkok dalam mendevaluasi yuan pada tahun 2015, yang mendorong modal keluar dari negara tersebut, kemungkinan akan menghalangi langkah yang sama. 

Menurut Tao Wang, kepala ekonom China UBS Group AG dan kepala penelitian ekonomi Asia Tiongkok tidak menyukai arus keluar yang terpenuhi dengan sendirinya sebagai akibat dari depresiasi, yang cenderung mengurangi kepercayaan domestik. 

"Selain itu, depresiasi yuan tahun lalu membuat marah pemerintahan Trump dan menyebabkan tarif AS yang lebih tinggi,"ucapnya.

Mata uang telah menjadi titik fokus dalam pembicaraan perdagangan. AS telah mencari pakta stabilitas yuan sebagai bagian dari kesepakatan akhirnya, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini.

Perbendaharaan Dumping

China memiliki US$ 1,1 triliun utang pemerintah AS, lebih banyak dari negara asing lainnya. Jika China mengurangi kepemilikannya sebesar US$ 15,9 triliun itu, itu bisa menjadi senjata ampuh. Pasar obligasi tersentak tahun lalu oleh laporan bahwa pejabat China merekomendasikan perlambatan atau menghentikan pembelian Treasury.

Namun, China tidak benar-benar memiliki pilihan lain yang baik untuk memarkir cadangan mata uang asingnya yang bernilai US$ 3,1 triliun, menjadikan ini jalur yang tidak mungkin, menurut Ed Al-Hussainy dari Columbia Threadneedle Investments

Selain itu, jika China membuang Treasuries, yang dapat menyebabkan harga anjlok, mendorong hasil lebih tinggi dan mendevaluasi apapun utang AS yang masih dipegang China. Sejauh ini, obligasi telah rally, tidak jatuh.

"Setiap langkah tajam yang lebih tinggi di AS akan berdampak buruk pada kedua negara, termasuk pada penilaian saham Treasury mereka yang ada dan dapat memicu reli dolar," kata ahli strategi itu. Ia menambahkan, risiko stabilitas finansial dan FX dari kebijakan ini bisa lebih besar daripada manfaatnya.

Tolak impor Kedelai

China pembeli kedelai AS terbesar telah mengenakan bea 25% untuk kedelai. Sebagian besar hasil panen ditanam di negara-negara bagian Midwestern yang membentuk basis pemilihan Trump, menjadikan nasibnya lebih penting bagi presiden.

Sebelum negosiasi perdagangan memburuk, China membuat apa yang Menteri Pertanian AS Sonny Perdue gambarkan pada Februari sebagai pembelian dengan itikad baik.

Sekarang. Sementara mendevaluasi yuan atau membuang Treasury akan lebih sulit untuk dilakukan, tapi mendekan impor kedelai akan menjadi langkah yang relatif mudah. "Ada beberapa hal mudah yang harus dilakukan Tiongkok," termasuk menarik diri dari pembelian  kedelai AS,"ujarnya.

 


Sumber : Bloomberg
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan


×