kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Dampak Perang Iran Makin Dalam, Ekonomi Global Mulai Tertekan


Kamis, 23 April 2026 / 21:46 WIB
Dampak Perang Iran Makin Dalam, Ekonomi Global Mulai Tertekan
ILUSTRASI. Krisis Timur Tengah- Selat Hormuz (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kian terasa di perekonomian global. Guncangan harga energi mulai menekan aktivitas bisnis, meningkatkan inflasi, dan memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Melansir Reuters, survei terbaru dari S&P Global menunjukkan tekanan semakin meluas, tidak hanya di sektor manufaktur tetapi juga merambah sektor jasa.

Kenaikan tajam biaya produksi akibat lonjakan harga energi menjadi faktor utama pelemahan aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Dolar Berotot, Bersiap Catat Kenaikan Mingguan di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS

Eropa Paling Terpukul

Kawasan euro mencatat kontraksi aktivitas bisnis. Indeks PMI gabungan turun dari 50,7 pada Maret menjadi 48,6 di April, di bawah ambang batas 50 yang menandakan kontraksi.

Lonjakan biaya input juga signifikan, dengan indeks harga produksi naik tajam. Sektor jasa yang menjadi tulang punggung ekonomi Eropa ikut melemah, mencerminkan tekanan yang semakin luas.

“Zona euro menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam akibat perang di Timur Tengah,” ujar Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global.

Baca Juga: Saham Lululemon Anjlok 12%, Penunjukan CEO Eks Nike Tak Yakinkan Investor

AS Lebih Tangguh, Tapi Bukan Tanpa Risiko

Di AS, aktivitas ekonomi masih menunjukkan ekspansi. PMI manufaktur naik ke 54,0 tertinggi dalam hampir empat tahun. Sementara sektor jasa kembali tumbuh ke 51,3.

Namun, peningkatan ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi, melainkan didorong oleh aksi “panic buying” dan percepatan produksi untuk mengantisipasi gangguan pasokan.

Tekanan harga juga meningkat, dengan biaya input dan harga output naik ke level tertinggi sejak gangguan rantai pasok pascapandemi.

Baca Juga: Freeport-McMoRan Cetak Laba Lebih Tinggi dari Estimasi Berkat Lonjakan Harga Tembaga

Perusahaan Mulai Terdampak

Dampak konflik juga tercermin dalam kinerja korporasi global. Sejumlah perusahaan besar mulai memperingatkan gangguan operasional dan tekanan keuangan.

Dari sekitar 166 perusahaan yang ditinjau, sebanyak 26 perusahaan memangkas atau menarik proyeksi kinerja, 38 mengisyaratkan kenaikan harga, dan 32 memperingatkan dampak finansial akibat perang.

Perusahaan seperti Danone dan Otis Worldwide melaporkan gangguan pengiriman akibat disrupsi rantai pasok.

Baca Juga: Kendalikan Inflasi, Bank Sentral Filipina Kerek Naik Suku Bunga Jadi 4,5%

Efek “Front-Loading” dan Risiko ke Depan

Di sejumlah negara seperti Jepang, India, dan Inggris, aktivitas manufaktur justru meningkat karena perusahaan mempercepat produksi untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut fenomena yang dikenal sebagai “front-loading”.

Namun, strategi ini berpotensi diikuti perlambatan tajam di periode berikutnya ketika permintaan mulai melemah.

Baca Juga: IPO Raksasa Teknologi: SpaceX, OpenAI, dan Anthropic Siap Uji Selera Investor

Sektor AI Jadi Penopang

Di tengah tekanan global, sektor teknologi khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penopang.

Lonjakan investasi AI mendorong permintaan chip dan menopang pertumbuhan di negara seperti Korea Selatan.

Sektor keuangan juga diuntungkan dari volatilitas pasar yang tinggi, meningkatkan aktivitas perdagangan.

Baca Juga: OECD Nilai Risiko Stagflasi Akibat Konflik Iran Masih Terbatas

Risiko Resesi Mengintai

Ketidakpastian terbesar tetap berasal dari gangguan pasokan energi, terutama jika konflik terus menghambat jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz.

International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1% tahun ini, dan memperingatkan risiko skenario yang lebih buruk, termasuk potensi resesi jika gangguan berlanjut.

Pengalaman dari krisis energi sebelumnya mulai dari Perang Yom Kippur hingga invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan dampak bisa bertahan bertahun-tahun, memengaruhi inflasi, investasi, dan produksi energi.

Secara keseluruhan, ekonomi global kini berada dalam fase rapuh: masih bertahan, tetapi semakin tertekan oleh kombinasi lonjakan harga energi, gangguan pasokan, dan ketidakpastian geopolitik.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×