Sumber: Time,Time | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Rodríguez adalah seorang pengacara dan pernah menjadi dosen di Universitas Central Venezuela. Karier politiknya dimulai pada 2003 di era Presiden Hugo Chávez, tokoh kunci Revolusi Bolivarian.
Ia mengisi berbagai jabatan strategis, mulai dari wakil menteri urusan Eropa hingga koordinator wakil presiden. Saudaranya, Jorge Rodríguez, kini menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional.
Pada 2013, Nicolás Maduro mengangkatnya sebagai Menteri Komunikasi, lalu menjadikannya Menteri Luar Negeri perempuan pertama Venezuela pada 2014. Dalam posisi itu, Rodríguez dikenal vokal membela Maduro dari kritik internasional, termasuk soal pelanggaran HAM, di forum-forum global seperti PBB.
Ia kemudian memimpin Majelis Konstituante dan pada 2018 ditunjuk sebagai Wakil Presiden untuk periode kedua Maduro. Jabatan ini terus ia pegang hingga masa jabatan ketiga Maduro, yang dipenuhi kontroversi pemilu.
Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah, termasuk hasil pemilu Juli 2024. Mereka menganggap mantan duta besar Edmundo González Urrutia sebagai pemenang yang sah.
Sejak 2020, Rodríguez juga merangkap sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Perminyakan, mengendalikan sektor paling vital bagi perekonomian Venezuela.
Tonton: Kronologi Operasi Militer AS di Venezuela: 150 Pesawat Dikerahkan, Maduro Ditahan di USS Iwo Jima
Disanksi Barat, Tapi Dianggap “Profesional”
Rodríguez dikenai sanksi oleh Uni Eropa, Kanada, Swiss, dan Amerika Serikat, termasuk pembekuan aset dan larangan bepergian, atas tuduhan pelanggaran HAM dan represi politik. Ia juga dilarang masuk Kolombia.
Meski begitu, di Washington ia justru dinilai relatif pragmatis. Sebagai Menteri Perminyakan, Rodríguez dianggap mampu menstabilkan ekonomi dan meningkatkan produksi minyak meski diterpa sanksi ketat AS.
Trump bahkan menyatakan akan mengambil alih industri minyak Venezuela. “Kami akan membuat rakyat Venezuela kaya,” ujarnya.
Menurut laporan The New York Times, pemerintahan Trump menerima Rodríguez sebagai pemimpin sementara karena dinilai paling “bisa diajak bekerja sama”, terutama terkait kepentingan AS di sektor minyak.
“Dia mungkin bukan solusi permanen, tapi jelas sosok yang bisa kami ajak bekerja secara lebih profesional dibanding Maduro,” ujar seorang pejabat AS.
Namun, belum jelas apakah Rodríguez benar-benar akan mengikuti kehendak Washington. Pejabat AS menegaskan opsi aksi militer lanjutan tetap terbuka jika ia dianggap tidak sejalan dengan kepentingan Amerika.
Kesimpulan
Delcy Rodríguez muncul sebagai figur kunci pasca-penangkapan Nicolás Maduro, berada di persimpangan antara loyalitas pada rezim lama dan tekanan besar dari Amerika Serikat. Meski disanksi Barat dan dikenal sebagai loyalis Chávez–Maduro, ia justru dipandang Washington sebagai sosok pragmatis yang bisa menjamin stabilitas, terutama di sektor minyak. Nasib Venezuela kini sangat bergantung pada pilihan Rodríguez: melawan dan mempertahankan kedaulatan, atau berkompromi dengan AS demi transisi kekuasaan yang penuh risiko geopolitik.












