kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Delcy Rodríguez, Pewaris Kekuasaan Venezuela Usai Maduro Ditangkap AS


Senin, 05 Januari 2026 / 08:04 WIB
Delcy Rodríguez, Pewaris Kekuasaan Venezuela Usai Maduro Ditangkap AS
ILUSTRASI. Hanya beberapa jam setelah Nicolás Maduro ditangkap, Wakil Presiden Delcy Rodríguez langsung muncul sebagai pemimpin de facto negara tersebut. (REUTERS/HANDOUT)


Sumber: Time,Time | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Hanya beberapa jam setelah pasukan Amerika Serikat menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro pada Sabtu (3/1/2026) pagi, Wakil Presiden Delcy Rodríguez langsung muncul sebagai pemimpin de facto negara tersebut.

Rodríguez, yang menjabat wakil presiden sejak 2018, mengambil alih kendali di tengah tekanan militer AS yang selama berbulan-bulan bertujuan menyingkirkan Maduro. Mantan presiden Venezuela itu ditangkap di Caracas bersama istrinya, Cilia Flores, lalu diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan kasus narkotika.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan “mengelola negara tersebut” hingga terjadi “transisi kekuasaan yang tepat dan bijaksana”, meski tanpa penjelasan rinci soal mekanismenya.

Melansir Time, pernyataan Trump mengejutkan banyak kalangan diaspora Venezuela. Ia menepis kemungkinan tokoh oposisi sekaligus peraih Nobel Perdamaian, María Corina Machado, menjadi pemimpin baru. Trump menilai Machado tidak memiliki dukungan yang cukup.

Sebaliknya, Trump justru menyebut Delcy Rodríguez sebagai sosok yang paling mungkin menggantikan Maduro. Ia mengklaim Rodríguez telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan sepakat bekerja sama dengan peran AS di Venezuela.

“Dia bersikap cukup kooperatif, meski sebenarnya tidak punya banyak pilihan,” ujar Trump. “Pada dasarnya, dia bersedia melakukan apa yang menurut kami perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat.”

Baca Juga: Amerika Kian Agresif: Usai Maduro, Trump Bidik Greenland dan Kuba

Namun, Rodríguez secara terbuka membantah klaim tersebut. Dalam pernyataan resmi di televisi pemerintah, ia menuntut bukti bahwa Maduro dan istrinya masih hidup.

“Kami menuntut pembebasan segera Presiden Nicolás Maduro dan Cilia Flores. Satu-satunya presiden Venezuela adalah Nicolás Maduro,” tegas Rodríguez. “Kami tidak akan pernah lagi menjadi budak atau koloni kekaisaran mana pun. Kami siap membela Venezuela.”

Sejumlah tokoh inti rezim lama masih terlihat mendampingi Rodríguez, termasuk saudaranya yang juga Menteri Dalam Negeri, Diosdado Cabello, serta Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López. Untuk saat ini, Delcy Rodríguez secara faktual memegang kendali kekuasaan di Venezuela.

Lahir dari Keluarga Politik Keras

Delcy Rodríguez lahir di Caracas pada 1969. Ayahnya, Jorge Antonio Rodríguez, adalah tokoh Marxis yang terlibat dalam penculikan pengusaha Amerika, William Niehous, yang ditahan selama tiga tahun hingga 1979.

Sang ayah turut mendirikan Liga Sosialis, kelompok kiri militan era 1960–1970-an, dan meninggal dunia pada 1976 saat berada dalam tahanan. Rodríguez kecil kerap mengunjungi ayahnya di penjara dan baru berusia tujuh tahun ketika ayahnya wafat.

Baca Juga: Pemerintah Venezuela Kompak Bersatu Mendukung Presiden Maduro

Dalam sebuah wawancara lama, Rodríguez pernah berkata, “Revolusi adalah balas dendam kami atas kematian ayah kami.”

Loyalis Chávez, Benteng Maduro

Rodríguez adalah seorang pengacara dan pernah menjadi dosen di Universitas Central Venezuela. Karier politiknya dimulai pada 2003 di era Presiden Hugo Chávez, tokoh kunci Revolusi Bolivarian.

Ia mengisi berbagai jabatan strategis, mulai dari wakil menteri urusan Eropa hingga koordinator wakil presiden. Saudaranya, Jorge Rodríguez, kini menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional.

Pada 2013, Nicolás Maduro mengangkatnya sebagai Menteri Komunikasi, lalu menjadikannya Menteri Luar Negeri perempuan pertama Venezuela pada 2014. Dalam posisi itu, Rodríguez dikenal vokal membela Maduro dari kritik internasional, termasuk soal pelanggaran HAM, di forum-forum global seperti PBB.

Ia kemudian memimpin Majelis Konstituante dan pada 2018 ditunjuk sebagai Wakil Presiden untuk periode kedua Maduro. Jabatan ini terus ia pegang hingga masa jabatan ketiga Maduro, yang dipenuhi kontroversi pemilu.

Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah, termasuk hasil pemilu Juli 2024. Mereka menganggap mantan duta besar Edmundo González Urrutia sebagai pemenang yang sah.

Sejak 2020, Rodríguez juga merangkap sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Perminyakan, mengendalikan sektor paling vital bagi perekonomian Venezuela.

Tonton: Kronologi Operasi Militer AS di Venezuela: 150 Pesawat Dikerahkan, Maduro Ditahan di USS Iwo Jima

Disanksi Barat, Tapi Dianggap “Profesional”

Rodríguez dikenai sanksi oleh Uni Eropa, Kanada, Swiss, dan Amerika Serikat, termasuk pembekuan aset dan larangan bepergian, atas tuduhan pelanggaran HAM dan represi politik. Ia juga dilarang masuk Kolombia.

Meski begitu, di Washington ia justru dinilai relatif pragmatis. Sebagai Menteri Perminyakan, Rodríguez dianggap mampu menstabilkan ekonomi dan meningkatkan produksi minyak meski diterpa sanksi ketat AS.

Trump bahkan menyatakan akan mengambil alih industri minyak Venezuela. “Kami akan membuat rakyat Venezuela kaya,” ujarnya.

Menurut laporan The New York Times, pemerintahan Trump menerima Rodríguez sebagai pemimpin sementara karena dinilai paling “bisa diajak bekerja sama”, terutama terkait kepentingan AS di sektor minyak.

“Dia mungkin bukan solusi permanen, tapi jelas sosok yang bisa kami ajak bekerja secara lebih profesional dibanding Maduro,” ujar seorang pejabat AS.

Namun, belum jelas apakah Rodríguez benar-benar akan mengikuti kehendak Washington. Pejabat AS menegaskan opsi aksi militer lanjutan tetap terbuka jika ia dianggap tidak sejalan dengan kepentingan Amerika.

Kesimpulan

Delcy Rodríguez muncul sebagai figur kunci pasca-penangkapan Nicolás Maduro, berada di persimpangan antara loyalitas pada rezim lama dan tekanan besar dari Amerika Serikat. Meski disanksi Barat dan dikenal sebagai loyalis Chávez–Maduro, ia justru dipandang Washington sebagai sosok pragmatis yang bisa menjamin stabilitas, terutama di sektor minyak. Nasib Venezuela kini sangat bergantung pada pilihan Rodríguez: melawan dan mempertahankan kedaulatan, atau berkompromi dengan AS demi transisi kekuasaan yang penuh risiko geopolitik.

Selanjutnya: Inilah Emiten Pembayar Dividen Saham yang Cum Date Pekan 1 Januari 2026

Menarik Dibaca: Bridgerton dan 5 Buku Klasik untuk Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Wajib Baca




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×