Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan pada perdagangan Rabu (29/7/2026).
Mata uang Negeri Paman Sam mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, sementara pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Kalahkan Indonesia, Negeri Jiran Ini Segera Jadi Negara Maju Menurut Bank Dunia
Mengutip Reuters, pergerakan mata uang utama relatif terbatas pada awal perdagangan Asia karena investor memilih menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan pada hari ini.
Pasar memperkirakan peluang sekitar 33% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Kekhawatiran terhadap inflasi juga kembali meningkat setelah militer AS menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang diluncurkan Iran ke arah pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Penguatan dolar membuat euro bertahan di dekat level terendah dalam satu bulan di US$ 1,1386. Sepanjang Juli, euro telah melemah sekitar 0,3%.
Sementara itu, pound sterling turun 0,06% menjadi US$ 1,3282 atau mendekati posisi terendah sejak 1 Juli.
Baca Juga: SK Hynix Cetak Laba Operasional Melonjak 6 Kali Lipat di Kuartal II-2026
Analis Pasar IG Fabien Yip memperkirakan, The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini.
"Saya masih berpandangan The Fed membutuhkan lebih banyak bukti mengenai seberapa lama risiko inflasi akan bertahan," ujar Yip.
Menurutnya, dolar AS berpotensi tetap kuat karena ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung.
Selain itu, dibandingkan bank sentral utama lainnya, kebijakan moneter AS dinilai masih lebih berpeluang mempertahankan sikap hawkish.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, bertahan di level 101,43.
Terhadap yen Jepang, dolar menguat tipis ke level 163,88 yen. Pelemahan yen yang masih berada di dekat level terendah dalam 40 tahun terus memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Anjlok 5% ke Level Terendah 2 Minggu, WTI ke Bawah US$ 80
Kepala Strategi Valuta Asing SMBC Hirofumi Suzuki mengatakan, keputusan FOMC dan konferensi pers Ketua The Fed berpotensi mendorong penguatan dolar lebih lanjut hingga pasangan USD/JPY mencapai level 164.
"Risiko intervensi valuta asing terlihat cukup besar karena otoritas keuangan Jepang telah meningkatkan peringatannya. Jika yen kembali melemah setelah rapat kebijakan Bank of Japan, kondisi itu bisa menjadi pemicu intervensi," kata Suzuki.
Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia bergerak relatif datar di US$ 0,6973 menjelang rilis data inflasi domestik. Sementara itu, dolar Selandia Baru melemah 0,09% menjadi US$ 0,5782.














