kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.549.000   34.000   1,35%
  • USD/IDR 16.781   21,00   0,13%
  • IDX 8.934   74,42   0,84%
  • KOMPAS100 1.226   8,17   0,67%
  • LQ45 865   5,28   0,61%
  • ISSI 322   1,78   0,55%
  • IDX30 443   0,30   0,07%
  • IDXHIDIV20 516   -0,09   -0,02%
  • IDX80 136   0,92   0,68%
  • IDXV30 143   1,50   1,06%
  • IDXQ30 142   -0,22   -0,16%

Dolar AS Menguat Awal 2026, Pasar Tunggu Data Ekonomi dan Arah The Fed


Minggu, 04 Januari 2026 / 14:44 WIB
Dolar AS Menguat Awal 2026, Pasar Tunggu Data Ekonomi dan Arah The Fed
ILUSTRASI. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan penguatan pada Jumat (2/1), (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan penguatan pada Jumat (2/1/2025), mengakhiri tren pelemahan tajam yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya kewaspadaan investor menjelang pekan krusial rilis data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan pasar global.

Pada 2025, dolar AS mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2017, yakni lebih dari 9% terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Pelemahan tersebut dipicu oleh menyempitnya selisih suku bunga AS dengan negara-negara lain, kekhawatiran berkelanjutan terhadap kondisi fiskal AS, eskalasi perang dagang global, serta isu independensi bank sentral AS.

Baca Juga: Dolar AS Mulai 2026 Menguat Tipis Usai Penurunan Terbesar 8 Tahun

Memasuki awal 2026, risiko-risiko tersebut masih membayangi pasar. Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, dengan puncaknya laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls pada Jumat mendatang.

Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kemungkinan langkah lanjutan The Fed dalam memangkas suku bunga acuannya.

Saat ini, pasar keuangan memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga The Fed sepanjang 2026, lebih agresif dibandingkan proyeksi satu kali pemangkasan yang diisyaratkan oleh dewan The Fed yang masih terbelah pandangannya.

“Ini akan menjadi periode evaluasi yang sangat penting. Kita memang belum akan melihat pertemuan The Fed hingga akhir bulan, namun saat ini belum ada konsensus yang jelas,” ujar Juan Perez, Director of Trading Monex USA di Washington.

Perez menambahkan bahwa penutupan pemerintahan AS (government shutdown) yang terjadi sebelumnya tergolong belum pernah terjadi sebelumnya dan berlangsung sangat lama, sehingga memengaruhi kualitas serta interpretasi data ekonomi yang tersedia di pasar.

Volume perdagangan pada Jumat terpantau relatif tipis karena pasar keuangan di Jepang dan China tutup dalam rangka libur awal tahun.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, naik 0,24% ke level 98,48. Pada saat yang sama, euro melemah 0,25% ke posisi US$ 1,1716 per euro.

Baca Juga: Dolar AS Lesu di Awal 2026 Usai Catat Penurunan Terdalam dalam Delapan Tahun

Data survei terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur zona euro pada Desember turun ke level terlemah dalam sembilan bulan terakhir. Meski demikian, sepanjang 2025 euro mencatatkan lonjakan lebih dari 13%, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 2017.

Pound sterling juga melemah 0,18% ke level US$ 1,3445, setelah sebelumnya menguat 7,7% sepanjang 2025, yang juga merupakan kinerja tahunan terbaiknya sejak 2017.

Selain data ekonomi, pelaku pasar juga mencermati keputusan Presiden AS Donald Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya, seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Trump menyatakan akan mengumumkan pilihannya bulan ini.

Sejumlah pelaku pasar memperkirakan kandidat pilihan Trump cenderung mendukung kebijakan penurunan suku bunga yang lebih agresif. Selama ini, Trump kerap mengkritik Powell dan The Fed karena dinilai terlalu lambat dan kurang besar dalam menurunkan biaya pinjaman.

“Kami memperkirakan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral akan berlanjut hingga 2026. Pergantian kepemimpinan di The Fed menjadi salah satu faktor utama yang membuat risiko proyeksi suku bunga dana Fed condong ke arah dovish,” tulis analis Goldman Sachs dalam catatan kepada klien.

Yen Jepang Masih Tertinggal

Di tengah penguatan dolar AS, yen Jepang kembali melemah 0,16% ke level 156,91 per dolar AS. Sepanjang 2025, yen hanya menguat kurang dari 1% terhadap dolar, menjadikannya salah satu mata uang utama dengan kinerja terlemah.

Baca Juga: Dolar AS Ambruk Paling Dalam Hampir 10 Tahun, Rubel Rusia Justru Meroket

Yen masih bergerak dekat level terendah 10 bulan di 157,89 yang sempat tersentuh pada November lalu, memicu perhatian otoritas dan meningkatkan spekulasi potensi intervensi Bank of Japan (BOJ).

Meski BOJ telah menaikkan suku bunga dua kali sepanjang tahun lalu, langkah tersebut belum cukup menopang nilai tukar yen. Investor menilai bank sentral Jepang perlu mengambil kebijakan yang lebih agresif.

Berdasarkan data LSEG, pasar belum sepenuhnya memproyeksikan peluang lebih dari 50% untuk kenaikan suku bunga BOJ berikutnya sebelum Juli 2026.

Sementara itu, di pasar aset digital, harga bitcoin tercatat menguat 1,64% ke level US$ 89.741,61, mencerminkan minat investor yang tetap tinggi terhadap aset kripto di tengah dinamika kebijakan moneter global.

Selanjutnya: Primaya Hospital (PRAY) Targetkan Pendapatan Tumbuh 15%–20% di 2026, Ini Strateginya

Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×