Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada awal perdagangan Asia, Selasa (19/5/2026), setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi.
Stabilnya pasar obligasi global setelah dua hari aksi jual juga turut menopang pergerakan mata uang Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh Solid di Kuartal I, Tetapi Terancam Dampak Perang Iran
Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, tercatat bertahan di level 99,026.
Sebelumnya, indeks ini sempat melemah 0,3% pada Senin (18/5), sekaligus memutus tren penguatan selama lima hari berturut-turut.
Analis Westpac dalam risetnya menyebut sentimen pasar mulai membaik setelah muncul laporan bahwa Trump membatalkan rencana serangan militer ke Iran menyusul permintaan para pemimpin negara Teluk Persia.
“Sentimen stabil setelah laporan bahwa Presiden AS membatalkan rencana serangan terhadap Iran setelah adanya permintaan dari para pemimpin kawasan Teluk,” tulis analis Westpac.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Selasa (19/5) Pagi, Brent ke US$ 109,09 & WTI ke US$ 107,28
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3 basis poin ke level 4,591% setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam setahun terakhir.
Penurunan yield terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun 2,4% ke level US$ 109,43 per barel setelah ketegangan geopolitik sedikit mereda.
Sebelumnya, dolar AS sempat menguat tajam dalam sepekan terakhir karena diburu investor sebagai aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global.
Investor juga mulai memperhitungkan kemungkinan bank sentral akan menaikkan suku bunga guna menahan tekanan inflasi akibat terganggunya pasokan energi global setelah Selat Hormuz ditutup.
Baca Juga: Trump Tunda Rencana Serangan ke Iran, Sinyalkan Peluang Kesepakatan Nuklir
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 36,2% bahwa bank sentral AS The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang.
Sebulan lalu, probabilitas tersebut hanya sebesar 0,5%.
Terhadap yen Jepang, dolar AS bergerak datar di level 158,895 yen setelah data pemerintah Jepang menunjukkan ekonomi negara tersebut tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal I-2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 1,7%.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Senin (18/5) mengatakan pemerintah siap mengambil langkah untuk meredam volatilitas nilai tukar yen apabila diperlukan.
Namun, intervensi tetap akan dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pasar obligasi AS.
Pasar juga masih mencermati kemungkinan intervensi lanjutan dari pemerintah Jepang untuk menopang yen.
Berdasarkan data bank sentral Jepang, Tokyo diperkirakan telah menggelontorkan hampir 10 triliun yen atau sekitar US$ 63 miliar sejak memulai intervensi pasar pada 30 April lalu.
Baca Juga: Google Gandeng Blackstone Bangun Bisnis Cloud AI Senilai US$ 5 Miliar
Di pasar mata uang lainnya, euro bergerak stabil di level US$ 1,1650, sementara poundsterling Inggris melemah 0,1% ke posisi US$ 1,3427.
Dolar Australia turun 0,1% ke level US$ 0,7164 dan dolar Selandia Baru melemah 0,1% menjadi US$ 0,5868.
Terhadap yuan China di pasar offshore, dolar AS tercatat stabil di level 6,798 yuan.
Adapun aset kripto bitcoin naik tipis 0,2% ke level US$ 77.005,69, sedangkan ethereum menguat 0,8% ke posisi US$ 2.131,91.













