kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Donald Trump Akan Kunjungi China Akhir Maret, Tarif Jadi Sorotan


Sabtu, 21 Februari 2026 / 10:36 WIB
Donald Trump Akan Kunjungi China Akhir Maret, Tarif Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di sela-sela KTT APEC, di Busan (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April 2026 untuk bertemu Presiden China, Xi Jinping.

Pertemuan ini menjadi sorotan karena berlangsung di tengah ketidakpastian baru terkait kebijakan tarif Amerika Serikat.

Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi rencana kunjungan tersebut pada Jumat (20/2/2026), hanya beberapa saat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah tarif impor luas yang diberlakukan Trump dalam perang dagang global, termasuk sebagian tarif terhadap China.

Baca Juga: Apa Itu Tarif Global Trump dan Kapan Berlakunya?

Putusan Mahkamah Agung Guncang Kebijakan Tarif

Mahkamah Agung menyatakan Trump telah melampaui kewenangannya saat menerapkan tarif 20% terhadap ekspor China ke AS berdasarkan Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA).

Tarif tersebut sebelumnya dikaitkan dengan kondisi darurat nasional, termasuk isu distribusi fentanil dan ketidakseimbangan perdagangan.

Namun demikian, tarif lain terhadap barang-barang China yang diberlakukan melalui ketentuan hukum perdagangan seperti Section 301 dan Section 232 tetap berlaku.

Belum jelas berapa banyak tarif yang akan dipulihkan kembali oleh Trump. Dalam konferensi pers, ia menyatakan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 10% selama 150 hari.

Baca Juga: Trump Ganti Tarif IEEPA dengan Bea Masuk Global 10%, Siapkan Investigasi Baru

Pertemuan Krusial Trump-Xi

Kunjungan ini akan menjadi pertemuan tatap muka pertama kedua pemimpin sejak pertemuan mereka di Korea Selatan pada Oktober lalu, yang menghasilkan kesepakatan gencatan sementara perang dagang. Kesepakatan tersebut mencegah kedua negara menaikkan tarif lebih lanjut.

Pertemuan di Beijing diperkirakan akan membahas perpanjangan gencatan dagang tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan AS-China sempat menunjukkan stabilisasi setelah Washington memangkas sebagian tarif terhadap produk China, dengan imbalan langkah Beijing menekan perdagangan fentanil ilegal serta menangguhkan pembatasan ekspor mineral penting.

Trump menyebut kunjungan tersebut akan menjadi momen besar. “Itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujarnya kepada para pemimpin asing di Washington.

Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington belum mengonfirmasi tanggal kunjungan tersebut.

Baca Juga: Trump Perintahkan Pembukaan Arsip UFO, Sebut Publik Berhak Tahu

Isu Taiwan dan Kedelai

Selain tarif, isu sensitif seperti Taiwan juga berpotensi mencuat dalam pembahasan. China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Amerika Serikat meski tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taipei merupakan pemasok utama persenjataan bagi pulau tersebut.

Pada Desember lalu, Washington menyetujui penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah kepada Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS.

Di sisi lain, sektor pertanian AS juga menjadi perhatian. Trump menyebut Presiden Xi akan mempertimbangkan peningkatan pembelian kedelai dari AS. China merupakan konsumen kedelai terbesar di dunia, sementara petani AS merupakan basis politik penting bagi Trump.

Namun sejumlah analis menilai putusan Mahkamah Agung dapat membuat Beijing lebih berhati-hati dalam merealisasikan komitmen pembelian tersebut.

Baca Juga: Deretan Perkara Besar di Mahkamah Agung AS, dari Tarif Trump hingga Hak Aborsi

Dampak terhadap Hubungan Bilateral

Pakar ekonomi China dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Scott Kennedy, menilai putusan pengadilan dapat memperlemah posisi tawar Trump di mata Beijing.

Sementara itu, Martin Chorzempa dari Peterson Institute for International Economics menyebut tarif terhadap China relatif lebih “tahan uji hukum” dibandingkan tarif terhadap negara lain.

Perang dagang global yang dimulai Trump sejak awal masa jabatan keduanya pada Januari 2025 telah memicu ketegangan dengan banyak mitra dagang AS, termasuk sekutu tradisionalnya.

Kini, kunjungan Trump ke Beijing dipandang sebagai momen penting untuk menentukan arah hubungan dua ekonomi terbesar dunia di tengah dinamika hukum dan geopolitik yang terus berkembang.

Selanjutnya: 10 Film Netflix Teratas Hari Ini Sabtu (21/2), Banyak Film Horor Indonesia

Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca BMKG Sepekan: Waspada Potensi Hujan Sangat Lebat di Awal Ramadhan




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×