Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Senin (22/6/2026), didorong optimisme pasar terhadap perkembangan perundingan antara AS dan Iran.
Di saat yang sama, pound sterling bergerak volatil setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya.
Baca Juga: DBS Terbitkan Obligasi Covered Bond US$ 2 Miliar, Permintaan Tembus US$ 2,6 Miliar
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah meletakkan "fondasi yang baik" menuju kesepakatan damai permanen, meski ketegangan terkait Selat Hormuz dan Lebanon masih membayangi proses negosiasi.
Sentimen positif dari perundingan tersebut turut menekan harga minyak dunia. Minyak mentah AS turun 2,61% menjadi US$ 74,60 per barel, sementara minyak Brent melemah 3,21% ke level US$ 77,98 per barel.
Meski demikian, penurunan harga minyak tertahan oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan kembali serangan terhadap Iran serta pengumuman Teheran mengenai penutupan Selat Hormuz.
Melansir Reuters Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, naik 0,06% ke level 100,90. Sementara euro melemah 0,24% ke posisi US$ 1,1444.
Baca Juga: Saham Gazprom Anjlok ke Level Terendah Sejak 2009, Tertekan Konflik Ukraina
Pound Sterling Berfluktuasi
Di Inggris, pound sterling sempat tertekan setelah Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh sekaligus membuka jalan bagi kemungkinan Andy Burnham menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam satu dekade sejak referendum Brexit.
Sterling sempat menyentuh level terendah harian di US$ 1,318 sebelum akhirnya berbalik menguat. Pada perdagangan terakhir, mata uang Inggris tersebut naik 0,12% ke level US$ 1,3248.
Marc Chandler, Chief Market Strategist Bannockburn Capital Markets menilai, pasar obligasi akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pemerintahan baru Inggris.
"Pasar obligasi kemungkinan menjadi pagar pembatas agar pemerintahan baru tidak bergerak terlalu jauh ke kiri. Akan ada kontestasi politik, tetapi yang akan dipantau investor adalah kredibilitas pemerintah baru melalui respons pasar obligasi," ujarnya.
Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Turun Senin (22/6): Brent ke US$79,11 & WTI ke US$76,84
Yen Dekati Posisi Terlemah 40 Tahun
Sementara itu, dolar AS terhadap yen Jepang bergerak relatif stabil. Dolar turun tipis 0,02% menjadi 161,32 yen setelah sebelumnya sempat menyentuh 161,92 yen, mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Jika dolar menembus level 161,96 yen, maka mata uang Jepang akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.
Pergerakan yen sempat berfluktuasi tajam setelah Bank Sentral Jepang (BoJ) menaikkan suku bunga pada pekan lalu sesuai ekspektasi pasar.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga menegaskan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons pergerakan nilai tukar yang berlebihan.
Namun, yen kini telah menghapus penguatan yang sempat terjadi setelah intervensi pemerintah Jepang pada akhir April. Pergeseran ekspektasi kebijakan moneter AS membuat investor kembali memburu dolar.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, 3 Warga Prancis Meninggal
Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Sejumlah lembaga keuangan besar mulai memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
Deutsche Bank dan BofA Global Research pada Senin menyesuaikan proyeksi mereka dengan memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Bahkan, BofA memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember 2026.
Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia.














