Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga emas kembali melemah karena penyesuaian indeks komoditas dan dolar Amerika Serikat (AS) yang kuat terus menekan harga. Di sisi lain, pelaku pasar mengambil posisi menjelang data non-farm payrolls AS yang penting yang akan dirilis kemudian hari.
Jumat (9/1/2026) pukul 13.30 WIB, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.469,03 per ons troi, meskipun diperkirakan akan naik lebih dari 3% dalam seminggu. Harga emas batangan mencapai rekor tertinggi US$ 4.549,71 pada 26 Desember.
Sejalan, harga kontrak emas berjangka untuk pengiriman Februari 2026 menguat 0,4% menjadi US$ 4.477,7 per ons troi.
"Harga emas, selama tiga hari terakhir, telah mengalami penurunan karena aksi ambil untung, tetapi pendorong utama saat ini adalah penguatan dolar AS menjelang data NFP," kata analis independen Ross Norman.
Baca Juga: Menkeu Jepang Akan Nyatakan Sikap Atas Kontrol Ekspor China Pekan Depan
Dolar AS menguat ke level tertinggi hampir satu bulan, karena para pedagang bersiap menghadapi keputusan Mahkamah Agung AS tentang penggunaan kekuasaan tarif darurat oleh Presiden Donald Trump. Dolar AS yang lebih kuat membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Mengenai data non-farm payrolls, para ekonom memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja yang moderat sebesar 60.000 dan sedikit penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,5% dari 4,6%.
Harga diperkirakan akan berada di bawah tekanan selama beberapa hari ke depan karena penyeimbangan ulang tahunan Indeks Komoditas Bloomberg - penyesuaian berkala bobot komoditas untuk menjaga indeks tetap selaras dengan kondisi pasar - dimulai minggu ini.
"Beberapa indeks sedang menyesuaikan bobot jumlah logam mulia dan emas di dalamnya pada awal tahun. Jadi, sampai batas tertentu, ada sedikit kelemahan pada penyeimbangan ulang indeks, tetapi secara fundamental saya pikir semuanya tetap cukup positif," tambah Norman.
Harga emas bisa naik hingga $5.000 per ons pada paruh pertama tahun 2026 karena meningkatnya risiko geopolitik dan utang, kata HSBC.
Baca Juga: Rio Tinto Akan Akuisisi Glencore, Berpotensi Ciptakan Raksasa Tambang Terbesar Dunia
Aset yang tidak menghasilkan imbal hasil cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah dan selama ketidakpastian ekonomi.
Harga perak spot turun 0,1% menjadi US$ 76,83 per ons setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 83,62 pada 29 Desember. Logam putih ini berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan lebih dari 6%.
Harga platinum spot turun 0,8% menjadi US$ 2.250,30 per ons troi setelah mencapai rekor tertinggi $2.478,50 pada Senin lalu. Palladium tetap stabil di US$ 1.785,25 per ons troi. Kedua logam tersebut diperkirakan akan mencatatkan kenaikan mingguan juga.













