kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.847   -53,00   -0,30%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Harga Minyak Dunia Naik 2% Senin (1/6) Pagi: Brent ke US$ 93,28 & WTI ke US$ 89,73


Senin, 01 Juni 2026 / 08:35 WIB
Harga Minyak Dunia Naik 2% Senin (1/6) Pagi: Brent ke US$ 93,28 & WTI ke US$ 89,73
ILUSTRASI. NORWAY-SWF/ESG (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan awal pekan ini setelah Israel memerintahkan pasukannya memperluas operasi militer di Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Baca Juga: Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed

Pada Senin (1/6/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,37 atau 2,71% menjadi US$ 89,73 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent menguat US$ 2,16 atau 2,37% ke level US$ 93,28 per barel.

Peningkatan intensitas pertempuran ini terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara Israel dan Lebanon di Washington pada Jumat (30/5).

Eskalasi terbaru tersebut mengurangi optimisme pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera mengumumkan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya menjadi salah satu faktor penopang sentimen pasar energi.

Sebelumnya, harga Brent dan WTI masing-masing ditutup menguat 1,8% dan 1,7% pada akhir pekan lalu berkat harapan tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Ditopang Euforia AI Senin (1/6), Risiko AS-Iran Masih Membayangi

Konflik Meluas ke Lebanon

Konflik Israel-Lebanon menjadi dampak paling luas dari perang Iran yang berlangsung sejak awal tahun ini.

Ketegangan dimulai pada 2 Maret ketika kelompok Hizbullah mulai meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Meski kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata pada pertengahan April, baku tembak masih terus terjadi hingga saat ini.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Jumat lalu mengatakan bahwa dirinya akan segera memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata dengan Iran yang diumumkan sejak awal April.

Kesepakatan tersebut bertujuan memberi waktu tambahan bagi para perunding untuk mencari penyelesaian permanen atas konflik, termasuk persoalan program nuklir Iran yang menjadi akar sengketa.

Namun, Israel diperkirakan akan memainkan peran penting dalam setiap kesepakatan yang tercapai.

Di sisi lain, Iran juga berulang kali menegaskan bahwa Hizbullah harus dilibatkan dalam proses negosiasi.

Baca Juga: Investasi AI China Terancam: AS Perketat Akses Pembelian Chip, Ini Detailnya!

Kekhawatiran Selat Hormuz Kembali Meningkat

Analis pasar dari IG Tony Sycamore mengatakan, kekhawatiran pasar kini beralih pada ancaman ranjau laut di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Menurutnya, ancaman tersebut berpotensi memperlambat proses pembukaan kembali Selat Hormuz dan menunda pemulihan pasokan energi global.

"Bahkan jika kesepakatan tercapai, pasar tidak akan langsung dibanjiri pasokan minyak baru," ujarnya.

Laporan Axios pada Jumat lalu menyebut Iran kembali menempatkan ranjau di wilayah Selat Hormuz awal pekan ini.

Langkah tersebut dilakukan tidak lama setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa upaya penempatan ranjau tambahan akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Sejak konflik pecah akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu, Teheran secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital ekspor energi dunia.

Baca Juga: Tantang Dominasi MacBook Neo, Dell Luncurkan Laptop XPS 13 Seharga US$ 699

Data China Tak Mampu Tekan Harga Minyak

Lonjakan harga minyak terjadi meskipun data ekonomi terbaru dari China menunjukkan aktivitas manufaktur yang masih lesu.

Data yang dirilis akhir pekan lalu mengindikasikan sektor manufaktur China mengalami stagnasi akibat pelemahan ekspor dan meningkatnya tekanan biaya produksi.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu sedang kehilangan momentum pertumbuhan.

Meski demikian, pelaku pasar untuk sementara lebih fokus pada risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dibandingkan prospek perlambatan permintaan minyak dari China.

Akibatnya, sentimen geopolitik kembali menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak global.




TERBARU

[X]
×