Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kevin Warsh resmi dilantik sebagai ketua bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pada Jumat (22/5/2026), di tengah situasi krusial bagi ekonomi AS. Lonjakan harga bensin akibat perang Iran mendorong inflasi naik dan melemahkan sentimen konsumen, menciptakan dilema kebijakan yang sarat implikasi politik.
Melansir Reuters, Warsh, mengenakan setelan jas gelap dan didampingi istrinya Jane Lauder, pewaris kerajaan bisnis kosmetik Estee Lauder, dilantik oleh Hakim Mahkamah Agung Clarence Thomas setelah diperkenalkan secara panjang lebar oleh Presiden AS Donald Trump. Ruang East Room Gedung Putih dipenuhi pejabat tinggi kabinet, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent, serta sahabat lama Warsh seperti mantan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice.
Trump, yang selama ini terus mengkritik mantan Ketua The Fed Jerome Powell karena tidak memangkas suku bunga, mengatakan Warsh akan mendapat “dukungan penuh” dari pemerintahannya dan diharapkan tetap “sepenuhnya independen” dalam menjalankan tugasnya. Namun Trump juga menekankan bahwa “pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti inflasi.”
“Kita akan menurunkan suku bunga,” kata Trump di Rockland Community College, New York. “Suku bunga akan turun bersama harga energi. Kalian lihat saja nanti. Dulu saya punya kepala The Fed yang buruk, sekarang saya punya ketua The Fed yang hebat, Kevin Warsh.”
Menyebut jabatan itu sebagai “kehormatan terbesar dalam hidup”, Warsh berjanji memimpin Federal Reserve yang berorientasi reformasi dengan belajar dari keberhasilan maupun kesalahan masa lalu.
Ia menghadapi ledakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai pejabat The Fed dapat mengubah ekonomi secara mendalam bagi pekerja, perusahaan, dan konsumen, namun sulit diukur dampaknya secara real time.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Ragukan Terobosan Perundingan Damai AS-Iran
Di saat yang sama, inflasi berada di level tinggi dan berpotensi meningkat lebih jauh akibat lonjakan harga minyak di atas US$ 100 per barel karena perang AS-Israel melawan Iran, tarif impor tinggi, serta kenaikan biaya utilitas dan energi terkait ekspansi AI.
Menunjukkan tingginya taruhan politik dan ekonomi, survei konsumen Universitas Michigan pada Jumat menunjukkan sentimen konsumen jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. Optimisme di kalangan pemilih Partai Republik maupun independen juga turun ke titik terendah selama masa jabatan kedua Trump.
“Mandat kami di The Fed adalah menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum,” kata Warsh. “Jika kami menjalankan tujuan itu dengan kebijaksanaan, kejelasan, independensi, dan ketegasan, maka inflasi bisa lebih rendah, pertumbuhan lebih kuat, pendapatan riil masyarakat meningkat, dan Amerika menjadi lebih makmur sekaligus lebih aman secara global.”
The Fed pada Jumat malam menyatakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) secara bulat memilih Warsh sebagai ketua, menjadikannya pemimpin resmi panel penentu suku bunga AS.
Waller Dorong The Fed Tinggalkan Bias Pemangkasan Suku Bunga
Perdebatan mengenai kebijakan The Fed kini semakin memanas. Gubernur The Fed Christopher Waller, yang juga ditunjuk Trump dan sempat menjadi kandidat kuat ketua The Fed, mengatakan bank sentral perlu menghapus “bias pelonggaran” dalam prospek kebijakan moneternya dan membuka peluang kenaikan suku bunga.
Menurut Waller, data terbaru menunjukkan inflasi semakin meluas dan menguat di berbagai sektor ekonomi.
“The Fed harus menjelaskan bahwa peluang penurunan suku bunga kini tidak lebih besar dibanding peluang kenaikan suku bunga,” kata Waller sesaat sebelum Warsh dilantik.
Baca Juga: Rubio Mengklaim Ada Sejumlah Kemajuan Dalam Perundingan AS dengan Iran
Komentar tersebut langsung mendorong ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga paling cepat Oktober mendatang.
Warsh, 56 tahun, memenangkan dukungan Trump setelah proses seleksi publik yang berlangsung lebih dari setahun.
Selama proses itu, Warsh menyampaikan agenda reformasi besar bagi bank sentral AS yang menurutnya mulai kehilangan arah sejak ia mundur sebagai gubernur The Fed pada 2011 karena menolak kebijakan pembelian obligasi.
Namun kini, tantangan terbesarnya adalah menentukan apakah perlu menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi bergerak makin jauh dari target 2% The Fed, atau justru mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai pejuang antiinflasi sejak awal masa jabatan.
“Inflasi adalah pilihan The Fed,” kata Warsh dalam sidang konfirmasi Senat AS.
The Fed sendiri telah gagal mencapai target inflasi selama lebih dari lima tahun dan saat ini inflasi berada lebih dari satu poin persentase di atas sasaran tersebut.
Pilihan Sulit di Depan Mata
Upaya menurunkan inflasi sering kali membutuhkan keputusan sulit yang dapat berbenturan dengan kebijakan pemerintahan Trump maupun target penciptaan lapangan kerja The Fed.
Sejak awal menjabat sebagai ketua The Fed ke-11, Warsh akan terus diawasi pasar obligasi global yang mulai mendorong kenaikan imbal hasil obligasi akibat kekhawatiran inflasi.
Ia juga akan menghadapi tekanan dari kolega seperti Waller yang mulai memberi sinyal perlunya suku bunga lebih tinggi, serta tekanan politik dari Trump yang sebelumnya menganggap kenaikan suku bunga sebagai ancaman terhadap program ekonominya.
Pertemuan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni mendatang, saat para pejabat menentukan suku bunga dan memperbarui proyeksi ekonomi.
Salah satu keputusan penting pertama Warsh adalah apakah ia akan mengungkap proyeksi suku bunga versinya sendiri melalui “dot plot” The Fed. Langkah itu akan memperlihatkan apakah pandangannya sejalan dengan kolega-koleganya yang pernah ia kritik karena “groupthink”, atau justru menjadi pandangan ekstrem yang dapat semakin membingungkan pasar.
Tonton: China Bikin “Payung Luar Angkasa”! Teknologi Baru Penantang Starlink Elon Musk
Faktor Tekanan terhadap The Fed
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Harga minyak di atas US$ 100/barel | Memicu inflasi |
| Tarif impor tinggi | Menambah tekanan harga |
| Lonjakan biaya AI dan utilitas | Mendorong biaya ekonomi |
| Sentimen konsumen AS anjlok | Risiko perlambatan ekonomi |
| Tekanan politik dari Trump | Tantangan independensi The Fed |
Posisi Kebijakan The Fed
| Isu | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Target inflasi The Fed | 2% |
| Inflasi AS saat ini | >3% |
| Arah kebijakan terbaru | Potensi kenaikan suku bunga |
| Pertemuan FOMC berikutnya | 16-17 Juni 2026 |
| Ketua baru The Fed | Kevin Warsh |













