kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

Harga Minyak Melonjak 1,7% Selasa (13/1), Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Iran


Selasa, 13 Januari 2026 / 17:28 WIB
Harga Minyak Melonjak 1,7% Selasa (13/1), Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Liz Hampton)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (13/1/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran, salah satu produsen utama minyak dunia, yang menutupi prospek tambahan pasokan dari Venezuela.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak US$ 1,06 atau 1,7% menjadi US$ 64,93 per barel pada pukul 09.34 GMT, berada di level tertinggi sejak pertengahan November.

Baca Juga: UNICEF: Lebih dari 100 Anak Tewas di Gaza Sejak Gencatan Senjata

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,02 atau 1,7% ke US$ 60,52 per barel.

Analis PVM Oil Associates John Evans mengatakan pasar minyak mulai memasukkan faktor perlindungan harga akibat meningkatnya risiko geopolitik global.

“Pasar minyak sedang membangun perlindungan harga terhadap faktor geopolitik,” ujar Evans, seraya menyoroti potensi tersingkirnya ekspor Iran, ketidakpastian di Venezuela, pembicaraan terkait perang Rusia-Ukraina, hingga isu geopolitik Greenland.

Iran, yang merupakan salah satu produsen utama Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), tengah menghadapi gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Tindakan keras pemerintah terhadap para demonstran yang menurut kelompok hak asasi manusia telah menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan penangkapan memicu peringatan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kemungkinan aksi militer.

Baca Juga: Trump Ancam Tarif 25% untuk Negara yang Berbisnis dengan Iran

Trump juga menyatakan bahwa setiap negara yang melakukan bisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25% atas perdagangan dengan AS. Selama ini, sebagian besar ekspor minyak Iran ditujukan ke China.

Namun, analis ING menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan dilema bagi Washington.

“Dengan AS dan China yang telah mencapai gencatan senjata dagang, kami mempertanyakan apakah AS ingin kembali mengguncang hubungan tersebut dengan menerapkan tarif tambahan terhadap China,” tulis ING dalam catatannya.

Premi Brent Menguat

Ketegangan geopolitik juga mendorong premi harga minyak Brent terhadap acuan Timur Tengah Dubai naik ke level tertinggi sejak Juli, menurut data LSEG.

Baca Juga: Dua Keterampilan Ini Akan Menentukan Kesuksesan Anda di Era AI

Barclays memperkirakan keresahan di Iran telah menambahkan premi risiko geopolitik sekitar US$ 3–4 per barel pada harga minyak global.

Di sisi lain, pasar masih mencermati potensi tambahan pasokan minyak dari Venezuela, menyusul rencana kembalinya negara tersebut ke pasar ekspor.

Setelah tergulingnya Presiden Nicolas Maduro, Trump menyatakan pekan lalu bahwa Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS, dengan tetap memperhatikan sanksi Barat yang berlaku.

Sejumlah rumah dagang minyak global disebut telah menjadi pihak yang lebih dulu diuntungkan dalam perebutan aliran minyak Venezuela, bahkan mendahului perusahaan energi besar asal Amerika Serikat.

Selanjutnya: Tinjau IKN, Prabowo Minta Pembangunan Untuk Fasilitas Pemerintahan Dipercepat

Menarik Dibaca: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat 9-15 Januari 2026, Detergent Beli 1 Gratis 1




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×