Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi perekonomian Singapura, meningkatkan biaya barang dan jasa tidak hanya pada harga bahan bakar, kata para analis pada Senin (9/3/2026).
Perang telah memicu beberapa produsen minyak besar di Timur Tengah untuk memangkas pasokan karena kekhawatiran gangguan panjang dalam pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia setiap hari.
Baca Juga: Dolar Melemah Seiring Harga Minyak Turun, Perang Iran Bisa Segera Berakhir
Gangguan pasokan ini mendorong harga Brent crude sempat melampaui US$100 per barel pada Senin, menyamai level saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Sebagai ekonomi kecil dan terbuka yang mengimpor sebagian besar bahan bakunya, Singapura rentan terhadap gejolak harga energi global, menurut para analis.
“Pergerakan harga energi yang signifikan cepat terasa di lapangan,” ujar Song Seng Wun, penasihat ekonomi di perusahaan fintech Singapura, SDAX.
Dampak pada Inflasi dan Konsumen
Selena Ling, kepala ekonom dan pimpinan OCBC Group Research mencatat bahwa dampak kenaikan harga bahan bakar sudah dirasakan masyarakat pada akhir pekan.
“Jika harga energi tetap tinggi, kemungkinan akan muncul tekanan lebih lanjut pada tarif utilitas dan transportasi,” tambahnya.
Baca Juga: Mesir Naikkan Harga Bahan Bakar Hingga 17% di Tengah Gejolak Energi Global
Kenaikan harga diperkirakan akan terlihat pertama pada sektor transportasi dan logistik, diikuti sektor lain seperti pangan, ritel, dan konstruksi saat biaya produksi diteruskan sepanjang rantai pasokan.
Inflasi Singapura telah stabil, namun kemungkinan sudah mencapai titik terendah pada paruh kedua 2025.
Data Kementerian Perdagangan dan Industri menunjukkan inflasi inti Singapura rata-rata 0,7% pada 2025, turun dari 2,8% pada 2024.
Pada Januari, Monetary Authority of Singapore (MAS) menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 1–2%, naik dari perkiraan sebelumnya 0,5–1,5%.
Ling menekankan, “Jika harga minyak mentah tetap tinggi sekitar US$92 per barel sepanjang tahun ini, CPI Singapura bisa naik dari sekitar 1,3% menjadi 1,8%.”
Song menambahkan, dampak kenaikan harga tidak langsung terasa di semua sektor; misalnya, harga sayuran mungkin naik lambat, sedangkan tarif penerbangan lebih cepat terdampak karena konsumsi bahan bakar tinggi.
Baca Juga: Pasar Asia Bangkit dan Harga Minyak Jatuh, Trump: Perang Iran Bisa Segera Berakhir













