kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Minyak Melonjak, Singapura Waspada Dampaknya pada Inflasi dan Biaya Hidup


Selasa, 10 Maret 2026 / 09:17 WIB
Harga Minyak Melonjak, Singapura Waspada Dampaknya pada Inflasi dan Biaya Hidup
ILUSTRASI. Kawasan CBD Singapura (REUTERS/Edgar Su)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

Dampak Lebih Luas pada Ekonomi

Song menekankan, konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasokan minyak, tetapi juga komoditas lain seperti produk kimia dan logam.

Hal ini bisa menaikkan biaya pupuk yang berimbas pada harga bahan makanan, atau gangguan pasokan aluminium yang meningkatkan biaya konstruksi.

Selain inflasi, harga minyak yang tinggi dapat menurunkan kepercayaan bisnis dan konsumen.

“Semakin lama harga minyak tinggi, konsumen akan mengurangi konsumsi karena khawatir terhadap biaya energi, yang pada gilirannya bisa membuat bisnis menahan produksi,” katanya.

Ling menambahkan, reaksi negatif pasar keuangan juga bisa membuat konsumen berhati-hati dalam pengeluaran discretionary dan mengurangi rencana perjalanan melalui hub penerbangan di Timur Tengah.

Dampak ekonomi akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di kawasan tersebut.

Jika harga minyak tetap tinggi lebih dari enam bulan, dampaknya pada pertumbuhan dan inflasi bisa signifikan, ujar Song.

Namun ia menekankan, “Ini baru minggu pertama, banyak hal sudah terjadi. Biaya energi saat ini mencerminkan ketidakpastian pasokan dan permintaan, bukan hanya hari ini, tapi juga minggu-minggu mendatang.”

Baca Juga: Emas Spot Stabil US$ 5.131 Selasa (10/3), Trump Prediksi Perang Bisa Segera Berakhir

Dampak Sementara dan Penyangga Ekonomi

Sheana Yue, ekonom senior Oxford Economics mengatakan, kenaikan harga energi kemungkinan hanya menyebabkan lonjakan inflasi jangka pendek dan tidak mengubah tren disinflasi jangka panjang.

Perusahaan mungkin tidak langsung meneruskan seluruh kenaikan biaya ke konsumen, sehingga kenaikan harga akan bertahap.

Singapura memiliki mekanisme penyangga untuk meredam gejolak harga energi, seperti tarif listrik kuartalan dan mekanisme nilai tukar MAS untuk mengurangi dampak kenaikan harga impor.

“Secara keseluruhan, dampak ini diperkirakan dapat dikelola dan bersifat sementara bagi sebagian besar rumah tangga,” ujar Yue.

Baca Juga: Trump Putar Otak: Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Rusia Demi Minyak?

Sebagai salah satu hub pengolahan dan perdagangan minyak terbesar di Asia, dampak makroekonomi perang bisa lebih ringan jika margin keuntungan di kilang tetap tinggi.

Ling menambahkan, peran Singapura dalam pengolahan, penyimpanan, dan perdagangan energi dapat meningkatkan permintaan layanan pengolahan bahan bakar dan penyimpanan, meski tidak sepenuhnya menutupi tekanan ekonomi jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×