Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (6/1/2026), dipicu kekhawatiran pasokan yang memperpanjang reli komoditas logam di awal tahun.
Sementara itu, harga nikel ikut melesat ke level tertinggi dalam 14 bulan, mendekati US$18.000 per ton, seiring kebijakan pembatasan produksi tambang di Indonesia.
Melansir Reuters, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat naik hingga 3,1% ke level tertinggi intraday US$13.487,50 per ton. Pada pukul 10.30 GMT, harga tembaga masih menguat 0,9% di US$13.101 per ton.
Baca Juga: Diam-Diam, Menlu Israel Kunjungi Somaliland Usai Pengakuan Kemerdekaan
Sepanjang tahun 2026, harga tembaga telah naik sekitar 5,6% dan menembus level US$13.000 per ton untuk pertama kalinya pada Senin, setelah melonjak 42% sepanjang tahun lalu.
Analis ING Ewa Manthey menyebut, reli tembaga didorong oleh ketidakseimbangan struktural antara pasokan yang semakin ketat dan permintaan yang terus meningkat.
“Kenaikan harga tembaga di atas US$13.000 didorong oleh ketimpangan yang makin lebar antara pasokan yang secara struktural terbatas dan permintaan yang meningkat pesat dari elektrifikasi serta investasi pusat data,” ujar Manthey.
“Bertahun-tahun kurangnya investasi dan gangguan tambang yang berkelanjutan membuat pasar memiliki bantalan pasokan yang sangat tipis.”
Baca Juga: Bursa Asia Dekati Level Tertinggi 5 Tahun, Taiwan, Singapura, & Indonesia Cetak Rekor
Kekhawatiran pasokan kembali mencuat setelah terjadinya aksi mogok kerja di tambang tembaga dan emas Mantoverde milik Capstone Copper di Chile utara.
Selain itu, produsen tembaga China, Tongling Nonferrous, melaporkan keterlambatan peluncuran fase kedua tambang mereka di Ekuador.
Persediaan tembaga di gudang LME turun menjadi 142.550 ton, terendah sejak 17 November. Sementara itu, stok di bursa Comex AS justru terus meningkat di tengah spekulasi penerapan tarif impor tembaga oleh Amerika Serikat, sehingga memperketat pasokan di luar AS.
Di sisi lain, harga nikel melonjak 5,8% ke US$17.980 per ton, menyentuh level tertinggi sejak 8 Oktober 2024. Kenaikan ini didorong oleh rencana Indonesia untuk membatasi produksi tambang nikel.
Pemerintah Indonesia saat ini mengizinkan perusahaan tambang menggunakan kuota produksi 2026 yang telah disetujui sebelumnya hingga akhir Maret, sembari melakukan evaluasi terhadap kuota baru.
Baca Juga: PBB Menilai Aksi Militer AS di Venezuela Menjadikan Dunia Tidak Aman
“Pengetatan produksi oleh Indonesia, melalui perlambatan persetujuan dan rencana pemangkasan kuota 2026, terbukti efektif mendorong harga dalam jangka pendek,” kata Manthey.
Namun demikian, ia mengingatkan reli harga nikel berpotensi tidak bertahan lama.
“Dengan surplus pasokan yang masih diperkirakan terjadi pada 2026, kenaikan harga kemungkinan tidak berkelanjutan kecuali pembatasan pasokan diperketat atau permintaan meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Logam dasar lainnya juga menguat. Aluminium naik 0,7% ke US$3.107,50 per ton, level tertinggi sejak April 2022.
Seng menguat 1,3% ke US$3.237 per ton, tertinggi sejak Oktober 2024, sementara timbal naik 1,4% ke US$2.051,50 per ton.
Harga timah melonjak 3,9% ke US$44.015 per ton, setelah sebelumnya sempat melesat hingga 7,4% ke level tertinggi sejak Maret 2022.












