Pekan ini dalam sejarah: Berakhirnya Konferensi Potsdam yang memicu perang dingin

Selasa, 28 Juli 2020 | 05:36 WIB Sumber: History
Pekan ini dalam sejarah: Berakhirnya Konferensi Potsdam yang memicu perang dingin

ILUSTRASI. Winston Churchill, Harry S. Truman, dan Joseph Stalin saat bertemu di hari pertama pelaksanaan Konferensi Potsdam, 17 Juli 1945.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konferensi Potsdam jadi salah satu event paling bersejarah di masa perang dunia kedua. Ini adalah konferensi terakhir yang dihadiri oleh negara "Big Three", yakni Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Inggris, semasa Perang Dunia II.

Konferensi ini pada akhirnya gagal menyelesaikan sejumlah masalah penting yang dibahas dan justru dinilai jadi pemicu perang dingin tak lama setelah Perang Dunia II usai.

Potsdam jadi tempat ketiga pertemuan ketiga negara setelah sebelumnya pernah terjadi di Teheran, Iran, tahun 1943 dan di Yalta, Uni Soviet, pada Februari 1945.

Pertemuan ini dihadiri oleh para pemimpin negara "Big Three". Antara lain pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Clement Attlee, serta Presiden AS Harry S. Truman.

Baca Juga: Tepat 72 tahun lalu, diskriminasi rasial militer AS resmi dihapuskan

Inggris diwakili oleh dua perdana menteri yang berbeda karena di tengah konferensi berlangsung, Churchill kalah dalam pemilu dan posisinya digantikan oleh Attlee.

Diadakan pada 17 Juli-2 Agustus 1945 di Potsdam, Jerman, konferensi ini utamanya membahas nasib Jerman setelah kekalahan telak yang diterimanya pada perang dunia.

Berdasarkan catatan History.com, Soviet menginginkan Jerman untuk tetap bersatu, tetapi mereka juga meminta Jerman untuk benar-benar dilucuti.

Di sisi lain, pihak AS menaruh kecurigaan pada sikap Uni Soviet di Eropa. Apalagi saat itu Uni Soviet sudah menempatkan sejumlah besar tentaranya di Eropa.

Bagi AS, permintaan Uni Soviet untuk melucuti Jerman hanyalah alasan agar mereka bisa lebih leluasa dalam mendominasi Eropa.

Baca Juga: Hari Ini dalam sejarah: Micin dipatenkan Kikunae Ikeda, profesor Jepang

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru