Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur global kembali mendapat sorotan setelah impor tembaga China pada awal 2026 tercatat menurun tajam.
Pelemahan ini dinilai menjadi sinyal berkurangnya aktivitas industri di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Data bea cukai China menunjukkan impor unwrought copper atau tembaga mentah pada periode Januari–Februari 2026 mencapai sekitar 700.000 ton, turun 16,1% secara tahunan.
Penurunan terjadi di tengah harga tembaga global yang masih tinggi serta aktivitas perdagangan yang melambat selama libur Tahun Baru Imlek.
Baca Juga: Pasokan dari Indonesia, Impor Tembaga China Menurun 6,2% di September
Tembaga dikenal sebagai indikator penting bagi aktivitas industri karena banyak digunakan dalam sektor manufaktur, konstruksi, hingga kendaraan listrik. Karena itu, pelemahan impor kerap dipandang sebagai sinyal perlambatan permintaan industri.
Selama dua bulan pertama tahun ini, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) justru bergerak naik. Kontrak tiga bulan tembaga tercatat meningkat 5,91% pada Januari dan bertambah 1,41% pada Februari. Kenaikan harga tersebut ikut menekan minat pembelian dari luar negeri.
Minat China terhadap tembaga impor juga tercermin dari premi tembaga Yangshan, indikator permintaan fisik logam tersebut di pasar domestik.
Premi ini sempat merosot hingga sekitar US$20 per ton pada akhir Januari, level terendah sejak Juli 2024, sebelum kembali pulih setelah libur Imlek.
Baca Juga: Data Agustus 2025: Impor Batubara China dari Mongolia Melonjak, Indonesia Tertinggal
Di sisi lain, persediaan tembaga di gudang yang terdaftar di Shanghai Futures Exchange melonjak tajam. Stok meningkat lebih dari dua kali lipat dari sekitar 180.543 ton pada 9 Januari menjadi 391.539 ton pada 27 Februari, menandakan pasokan domestik relatif melimpah.
Meski impor tembaga mentah menurun, pembelian bahan bakunya masih meningkat. Impor konsentrat dan bijih tembaga China pada Januari–Februari tercatat naik 4,9% menjadi 4,93 juta ton.
China biasanya merilis data perdagangan Januari dan Februari secara bersamaan untuk meredam distorsi akibat libur Tahun Baru Imlek, yang tanggalnya berubah setiap tahun dan kerap memengaruhi aktivitas perdagangan pada salah satu bulan tersebut.













