Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India dan Uni Eropa (UE) akhirnya merampungkan kesepakatan dagang besar yang telah lama tertunda.
Kedua pihak mengumumkan finalisasi perjanjian tersebut pada Selasa (27/1/2026), di tengah upaya global untuk mengurangi ketergantungan pada hubungan dagang yang kian tidak pasti dengan Amerika Serikat.
Kesepakatan ini diproyeksikan akan melipatgandakan ekspor Uni Eropa ke India pada 2032 melalui penghapusan atau penurunan tarif pada 96,6% nilai barang yang diperdagangkan.
Uni Eropa memperkirakan, perusahaan-perusahaan Eropa dapat menghemat bea masuk hingga 4 miliar euro atau sekitar US$ 4,75 miliar berkat perjanjian ini.
Kementerian Perdagangan India menyebut, Uni Eropa akan memangkas tarif untuk 99,5% produk perdagangan dalam kurun tujuh tahun. Tarif akan diturunkan hingga nol persen untuk sejumlah produk India seperti hasil laut, kulit, tekstil, bahan kimia, karet, logam dasar, serta perhiasan dan batu mulia.
Baca Juga: India Mulai Buka Pintu, Tarif Mobil Eropa Dipangkas
Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut kesepakatan ini sebagai perjanjian bersejarah. “Dunia menyebut ini sebagai mother of all deals. Perjanjian ini akan membawa peluang besar bagi 1,4 miliar penduduk India dan jutaan warga Eropa,” ujar Modi.
Tarif Mobil dan Minuman Keras Dipangkas Tajam
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah terbukanya pasar India yang selama ini dikenal sangat protektif.
India sepakat memangkas tarif impor mobil dari sebelumnya setinggi 110% menjadi 10% dalam lima tahun. Kebijakan ini akan menguntungkan produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen, Renault, Mercedes-Benz, dan BMW.
Selain itu, tarif minuman beralkohol seperti anggur langsung dipangkas dari 150% menjadi 75%, dan secara bertahap akan turun menjadi 20%. Tarif minuman keras (spirits) juga akan diturunkan menjadi 40%.
Uni Eropa juga memastikan pemangkasan tarif untuk berbagai produk ekspor mereka ke India, termasuk mesin, peralatan listrik, bahan kimia, besi, dan baja.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut momen ini sebagai tonggak sejarah baru hubungan kedua kawasan.
“Eropa dan India sedang menciptakan sejarah hari ini. Ini baru permulaan,” tulis von der Leyen di media sosial.
Baca Juga: India Pangkas Tarif Impor Mobil Uni Eropa Jadi 40%, Sinyal Menuju Pakta Dagang Bebas
Nilai Perdagangan Capai US$ 136,5 Miliar
Nilai perdagangan antara India dan Uni Eropa tercatat mencapai US$ 136,5 miliar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025.
Penandatanganan resmi perjanjian akan dilakukan setelah proses peninjauan hukum yang diperkirakan memakan waktu lima hingga enam bulan. Pemerintah India menargetkan implementasi perjanjian ini dapat dimulai dalam waktu satu tahun.
Gelombang Perjanjian Dagang Global
Kesepakatan India–UE ini merupakan bagian dari tren meningkatnya perjanjian dagang global. Dalam beberapa hari terakhir, Uni Eropa juga menandatangani perjanjian penting dengan blok Amerika Selatan Mercosur, menyusul kesepakatan sebelumnya dengan Indonesia, Meksiko, dan Swiss.
Sementara itu, India juga telah merampungkan perjanjian dagang dengan Inggris, Selandia Baru, dan Oman.
Gelombang perjanjian ini mencerminkan upaya banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat di tengah kebijakan proteksionis Presiden Donald Trump, termasuk ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa dan tarif 50% terhadap produk India.
Perundingan dagang India–AS bahkan dilaporkan gagal tahun lalu akibat gangguan komunikasi antar kedua pemerintahan.
Baca Juga: Presiden Xi Jinping Sebut China dan India Sebagai Tetangga, Sahabat, dan Mitra
Perundingan India dan Uni Eropa sendiri sempat terhenti selama sembilan tahun, sebelum kembali dilanjutkan pada 2022. Pembahasan semakin dipercepat setelah AS memberlakukan tarif tinggi kepada sejumlah mitra dagangnya.
Menurut mantan pejabat perdagangan India, Ajay Srivastava, pemangkasan tarif dengan Uni Eropa akan membantu meningkatkan ekspor India, terutama di sektor padat karya, yang dapat mengimbangi dampak tarif tinggi dari AS.
Di sisi lain, produk Uni Eropa akan langsung memiliki keunggulan harga di pasar India karena terbebas dari tarif tinggi, seperti tarif mobil yang sebelumnya mencapai 110%.
Kesepakatan ini menandai babak baru dalam hubungan ekonomi India dan Uni Eropa, sekaligus mencerminkan perubahan peta perdagangan global di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.













