kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Jepang Kecam Larangan Ekspor China, Ketegangan Dagang Kian Memanas


Rabu, 07 Januari 2026 / 15:59 WIB
Jepang Kecam Larangan Ekspor China, Ketegangan Dagang Kian Memanas
ILUSTRASI. Bendera Jepang dan China (Thomas Peter/REUTERS). Pemerintah Jepang mengecam keras keputusan China melarang ekspor barang penggunaan ganda yang berkaitan dengan kepentingan militer Jepang.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pemerintah Jepang mengecam keras keputusan China melarang ekspor barang “dual-use” atau penggunaan ganda yang berkaitan dengan kepentingan militer Jepang. 

Tokyo menilai kebijakan tersebut tidak sejalan dengan praktik internasional dan berpotensi memicu pembatasan lebih luas terhadap ekspor mineral langka (rare earth) dari China.

Larangan yang diumumkan Beijing pada Selasa itu mencakup barang, perangkat lunak, dan teknologi yang memiliki fungsi sipil sekaligus militer, termasuk mineral penting yang digunakan dalam pembuatan drone dan semikonduktor. 

Kebijakan ini muncul di tengah memanasnya hubungan kedua negara, dua ekonomi terbesar di Asia.

Baca Juga: Penangguhan Ekspor Mineral Langka China: Jangan Senang Dulu! Pembatasan Tetap Berlaku

Juru Bicara Utama Pemerintah Jepang, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara, menyebut langkah China sebagai tindakan yang “sangat tidak dapat diterima dan sangat disesalkan”, karena secara khusus menargetkan Jepang. 

Namun, pemerintah Jepang belum dapat memastikan dampak langsung kebijakan tersebut terhadap industri nasional karena jenis barang yang terdampak belum dijelaskan secara rinci.

Ketegangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada akhir tahun lalu yang menyebut kemungkinan serangan China ke Taiwan sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang. 

China menuntut pernyataan tersebut dicabut, namun Takaichi menolak. Taiwan sendiri diperintah secara demokratis dan menolak klaim kedaulatan China atas wilayahnya.

Baca Juga: Ekspor Tanah Jarang China Melonjak pada November, Pasca Pertemuan Xi-Trump

Sebagai respons, Beijing menerapkan serangkaian langkah balasan, termasuk larangan ekspor barang yang ditujukan bagi pengguna militer atau yang dapat memperkuat kemampuan pertahanan Jepang.

Sentimen negatif pasar langsung terasa. Indeks saham Nikkei turun sekitar 1% pada Rabu, berlawanan dengan tren penguatan bursa AS dan Eropa. Saham kontraktor pertahanan besar seperti Kawasaki Heavy Industries dan Mitsubishi Heavy Industries termasuk yang paling tertekan, masing-masing turun sekitar 2%.

Ancaman Pembatasan Rare Earth

Kekhawatiran pasar meningkat setelah media China Daily melaporkan bahwa Beijing tengah mempertimbangkan pembatasan lanjutan terhadap ekspor rare earth ke Jepang. Jika terealisasi, langkah tersebut berpotensi berdampak besar pada sektor manufaktur Jepang, terutama industri otomotif.

Meski Jepang telah berupaya mendiversifikasi sumber pasokan sejak China membatasi ekspor rare earth pada 2010, negara itu masih bergantung sekitar 60% pada impor dari China. Untuk jenis rare earth berat tertentu, seperti yang digunakan dalam magnet motor kendaraan listrik dan hibrida, ketergantungan Jepang terhadap China nyaris total.

Produsen mobil Subaru menyatakan terus memantau perkembangan situasi, sementara Toyota dan Nissan belum memberikan komentar.

Baca Juga: Malaysia Tetap Larang Ekspor Tanah Jarang Mentah Meski Teken Kesepakatan dengan AS

Ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi, memperkirakan pembatasan ekspor rare earth selama tiga bulan dapat merugikan dunia usaha Jepang hingga 660 miliar yen atau sekitar US$ 4,2 miliar, serta memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan sebesar 0,11%. 

Jika berlangsung selama satu tahun, dampaknya bisa mencapai penurunan PDB sebesar 0,43%.

Pengamat rantai pasok dari Shanghai, Cameron Johnson, menilai Jepang tidak akan tinggal diam jika pembatasan China mulai menyasar sektor sipil dan komersial. 

Baca Juga: Radar Dikunci Jet China, Jepang Kecam Manuver Berbahaya di Dekat Okinawa

Menurutnya, Jepang berpotensi melakukan pembalasan di sektor lain, seperti semikonduktor dan material manufaktur berteknologi tinggi yang dibutuhkan China.

Di sisi lain, China juga meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor dichlorosilane dari Jepang, bahan kimia penting untuk industri semikonduktor, sebagaimana diumumkan Kementerian Perdagangan China.




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×