Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BASRAL/DUBAI. Serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan Teluk kembali meningkat setelah dua kapal tanker bahan bakar diserang di perairan Irak pada Rabu (11/3/2026). Insiden tersebut diduga melibatkan perahu bermuatan bahan peledak yang terkait dengan Iran, menyebabkan kebakaran pada kapal dan menewaskan satu awak kapal.
Laporan dari otoritas pelabuhan, perusahaan keamanan maritim, serta firma manajemen risiko menyebutkan bahwa serangan terbaru ini menandai eskalasi konflik yang melibatkan Iran dengan pasukan Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Dua Kapal Tanker Terbakar di Perairan Irak
Dua kapal tanker yang menjadi sasaran serangan adalah Safesea Vishnu berbendera Kepulauan Marshall dan Zefyros berbendera Malta. Kedua kapal tersebut sebelumnya memuat kargo bahan bakar di Irak sebelum diserang pada malam hari di wilayah Teluk dekat perairan Irak.
Menurut pejabat pelabuhan Irak, serangan terjadi di area pemuatan kapal-ke-kapal (ship-to-ship loading) yang berada di dalam wilayah perairan teritorial Irak.
Baca Juga: Goldman Sachs Tunda Proyeksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed ke September
State Organization for Marketing of Oil (SOMO) menyatakan bahwa kapal Safesea Vishnu disewa oleh perusahaan Irak yang memiliki kontrak dengan SOMO. Sementara itu, kapal Zefyros membawa produk kondensat dari Basra Gas Company.
Serangan menyebabkan kebakaran besar pada kedua kapal. Tim penyelamat Irak berhasil mengevakuasi sebagian awak kapal, tetapi pencarian masih berlangsung untuk awak lain yang belum ditemukan.
Direktur Jenderal General Company for Ports of Iraq (GCPI), Farhan al-Fartousi, mengatakan bahwa kapal penyelamat berhasil mengevakuasi 25 awak dari kedua kapal yang terbakar.
Namun, seorang pejabat keamanan pelabuhan mengonfirmasi bahwa satu awak kapal asing ditemukan meninggal dunia di laut.
Pelabuhan Minyak Irak Hentikan Operasi
Akibat serangan tersebut, seluruh pelabuhan ekspor minyak Irak menghentikan operasi sementara. Meski demikian, pelabuhan komersial lainnya masih tetap beroperasi.
Gangguan ini memperburuk situasi pelayaran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut menurun drastis. Ketegangan geopolitik juga mendorong lonjakan harga minyak global ke level tertinggi sejak 2022.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Jatuh Lebih dari 1% Kamis (12/3), Harga Minyak Dekati US$100
Ancaman Iran terhadap Jalur Minyak Dunia
Korps Garda Revolusi Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika serangan terhadap Iran terus berlanjut, mereka tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” dikirim dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Israel, atau sekutunya.
Peringatan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan meningkatkan serangan terhadap Iran jika negara tersebut mencoba memblokir ekspor minyak dari kawasan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa perusahaan minyak seharusnya tetap menggunakan Selat Hormuz karena sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran telah melemah.
Beberapa Kapal Lain Juga Diserang
Selain dua tanker yang terbakar di perairan Irak, sejumlah kapal lain juga dilaporkan mengalami serangan pada hari yang sama.
Kapal curah Mayuree Naree berbendera Thailand terkena dua proyektil saat melintasi Selat Hormuz. Operator kapal, Precious Shipping, menyebutkan bahwa insiden tersebut menyebabkan kebakaran di ruang mesin dan merusak bagian kapal.
Tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin, sementara 20 awak lainnya berhasil dievakuasi dengan selamat dan dibawa ke Oman.
Korps Garda Revolusi Iran melalui kantor berita Tasnim menyatakan bahwa kapal tersebut ditembak oleh pesawat tempur Iran, yang menunjukkan kemungkinan keterlibatan langsung militer Iran dalam serangan tersebut.
Baca Juga: Iran Pertimbangkan Boikot Piala Dunia 2026 Usai Serangan AS-Israel
Tiga Kapal Lain Mengalami Kerusakan
Selain itu, beberapa kapal lain juga mengalami kerusakan ringan akibat proyektil yang belum diketahui asalnya, antara lain:
- ONE Majesty, kapal kontainer berbendera Jepang, mengalami kerusakan ringan saat berlabuh sekitar 25 mil laut dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab.
- Star Gwyneth, kapal curah berbendera Kepulauan Marshall, mengalami kerusakan pada lambung kapal sekitar 50 mil laut barat laut Dubai.
- Sebuah kapal kontainer lain dilaporkan mengalami kebakaran kecil setelah terkena proyektil sekitar 35 mil laut di utara Jebel Ali, Uni Emirat Arab.
Meski terjadi kerusakan, seluruh awak kapal dalam insiden-insiden tersebut dilaporkan selamat.
Risiko Keamanan Pelayaran Meningkat
Industri pelayaran global kini menghadapi risiko keamanan yang semakin tinggi di kawasan Teluk. Sumber industri menyebutkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat sejauh ini menolak permintaan hampir setiap hari dari perusahaan pelayaran untuk memberikan pengawalan militer melalui Selat Hormuz karena tingkat ancaman yang dinilai terlalu tinggi.
Namun demikian, pemerintah Amerika Serikat menyatakan siap memberikan pengawalan angkatan laut jika diperlukan.
Dengan meningkatnya jumlah kapal yang diserang—setidaknya 16 kapal sejak konflik dimulai—ketegangan di kawasan Teluk berpotensi memperburuk stabilitas perdagangan energi dunia serta memperpanjang gangguan terhadap jalur pelayaran internasional yang vital.













