Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Jempol yang terus bergerak di layar ponsel kini ikut mengubah cara orang menikmati cerita. Di sela perjalanan, antrean, atau waktu luang beberapa menit, penonton bisa menyelesaikan satu episode drama tanpa harus menyediakan waktu berjam-jam. Format vertikal dengan alur cepat dan cerita yang dibuat menggantung di setiap episode itu dikenal sebagai micro-drama. Tren ini semakin populer di Asia dan perlahan mendorong industri hiburan mengubah bukan hanya cara bercerita, tetapi juga cara memproduksi konten.
Perubahan perilaku penonton tersebut membuat kecepatan menjadi semakin penting. Cerita harus mampu menarik perhatian sejak awal, sementara proses produksinya dituntut lebih ringkas dan efisien. Di titik inilah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengambil peran.
Tommy Lo, Controller TVB Plus dan First Frame Studio, mengatakan AI membuka ruang bagi kreator untuk mewujudkan ide yang sebelumnya kerap terbentur persoalan produksi. Konsep cerita yang membutuhkan lokasi sulit, biaya besar atau sumber daya berlebihan tidak harus langsung dibatalkan.
"Namun sekarang dengan AI, saya rasa kita tidak punya batasan atau hambatan seperti itu lagi. Kita bisa tetap menggunakan imajinasi kita dan membuat berbagai jenis cerita yang kita inginkan," ujar Tommy kepada KONTAN di sela Digital Entertainment Leadership Forum (DELF) 2026 di Hong Kong.
Menurut Tommy, AI tidak serta-merta menghapus proses produksi konvensional. Penulisan naskah, praproduksi, desain karakter, kostum, setting dan storyboard tetap diperlukan. Bedanya, sejumlah pekerjaan dapat dilakukan jauh lebih cepat, termasuk membuat gambaran visual melalui prompt dan mengembangkan beberapa alternatif sebelum menentukan hasil akhir.
Kecepatan tersebut membuat AI bukan sekadar alat penghemat biaya. Kreator memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencoba ide, mengubah konsep dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan cerita. "AI sebenarnya memperpendek seluruh siklus produksi," katanya.
Baca Juga: Kontraksi Sektor Konstruksi Zona Euro Makin Dalam pada Agustus
Perkembangan teknologi itu datang ketika kebiasaan penonton juga berubah. Masyarakat semakin terbiasa menikmati hiburan melalui ponsel dengan waktu menonton yang terpecah-pecah. Karena itu, format pendek dengan alur cepat atau fast-pacing menjadi semakin menarik.
China menjadi salah satu pasar yang menunjukkan besarnya perubahan tersebut. Tommy menyebut riset di China mencatat sekitar 128.000 micro-drama ditayangkan secara online pada kuartal I tahun ini, dengan sekitar 95% di antaranya dibuat menggunakan AI. Menurutnya, tren tersebut membuka peluang bagi drama AI berdurasi lebih panjang hingga film berbasis AI.
Perubahan itu juga menjadi peluang bagi Indonesia. Dengan pasar digital yang besar, kreator lokal kini memiliki hambatan masuk yang lebih rendah. Jika sebelumnya produksi drama membutuhkan tim besar, AI memungkinkan kelompok kecil bahkan individu membuat konten dan mendistribusikannya ke pasar yang lebih luas.
Teknologi juga memungkinkan cerita berlatar budaya lokal dikembangkan untuk pasar global, baik melalui penyesuaian bahasa, karakter maupun visual. Namun, Tommy mengingatkan kreator agar tidak terjebak mengejar kuantitas. Kemudahan produksi justru harus diimbangi dengan kualitas cerita karena narasi tetap menjadi penentu utama keberhasilan sebuah konten.
Baca Juga: Vietnam Perkuat Diplomasi Ekonomi, To Lam Melawat Rusia hingga AS
Di sisi lain, AI bukan tanpa tantangan. Industri membutuhkan talenta yang mampu menggabungkan kemampuan kreatif dengan keterampilan menggunakan teknologi, termasuk menerjemahkan gagasan visual ke dalam prompt. Penerimaan penonton juga menjadi persoalan karena tidak semua audiens menginginkan konten yang sepenuhnya dibuat oleh mesin.
"Audiens tidak keberatan dengan video konten AI, tetapi mereka tidak ingin semua konten dihasilkan oleh AI," tandas Tommy.
Karena itu, AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan live-action maupun metode produksi tradisional. Teknologi ini lebih menjadi pilihan baru dalam menciptakan cerita. Bagi Indonesia, peluangnya terbuka lebar selama kreator mau menguasai teknologi, tetap menjaga kualitas narasi dan berani membidik pasar internasional. Bahkan, pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia kini mulai masuk radar eksplorasi TVB.














