Sumber: Business Insider | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Elon Musk saat ini seolah menjadi antagonis bagi sebagian warga Amerika Serikat, bahkan dunia.
Aksinya sebagai tangan kanan Presiden Donald Trump dalam memimpin Department of Government Efficiency (DOGE), membuatnya panen kecaman akibat dampak pemutusan hubungan kerja besar-besaran di berbagai lembaga pemerintah.
Tak hanya di bidang politik, posisinya sebagai pebisnis pun tengah bergoyang.
Baca Juga: Elon Musk Kembali Jadi Orang Terkaya di Dunia! Menggeser Bernard Arnault
Pekan ini menjadi periode berat bagi manusia terkaya di dunia versi Forbes ini. Diawali dari kabar buruk yang ia terima pada hari Selasa waktu AS, soal kekalahan jagoan yang didukungnya dalam perebutan jabatan Hakim Agung Wisconsin.
Dikutip dari Business Insider, Musk dikabarkan sudah menggelontorkan setidaknya US$ 20 juta alias lebih dari Rp 331 miliar untuk memenangkan Brad Schimel. Namun, Susan Crawford yang didukung Partai Demokrat, justru yang menjadi pemenang. Kegagalan ini membuat daya tarik politik Musk diragukan.
Seolah tak cukup sampai situ, pria kelahiran Afrika Selatan ini dapat kabar buruk lagi keesokan harinya. Kali ini soal pengiriman Tesla yang anjlok 13% secara tahunan di kuartal pertama tahun ini. Penurunan penjualan ini terjadi di tengah aksi boikot terhadap mobil listrik tersebut.
Baca Juga: Elon Musk Bongkar Rahasia! Ingin Tunjukkan Cadangan Emas Raksasa AS yang Tersembunyi
Aksi boikot dan demonstrasi terhadap Tesla, yang beberapa kali berakhir dengan aksi vandalisme, membuat daya tarik merek tersebut merosot di mata investor. Di hari pengumuman kinerjanya, saham Tesla makin terbenam. Bila dilihat sejak awal tahun, penurunan saham Tesla bahkan mencapai 30%.
Padahal tanpa masalah politik pun, Tesla sejatinya tengah menghadapi masalah serius dari pesaing dari belahan dunia lain di pasar kendaraan listrik. Tak hanya di AS, penjualan Tesla juga turun di sejumlah negara.
Salah satunya akibat kehadiran merek mobil listrik asal China yang semakin memikat di mata konsumen. Sebut saja BYD yang terus memposisikan dirinya sebagai pesaing utama Tesla berkat teknologi canggih yang terus disematkan di mobil buatannya. Belum lagi Xiaomi yang sedang ekspansi besar-besaran dengan harga miring.
Baca Juga: Elon Musk Gabungkan X dengan xAI dalam Kesepakatan Senilai $33 Miliar
Bahkan investor Ross Gerber yang telah lama menjadi pendukung Tesla, mulai menyerukan agar Elon Musk mengundurkan diri sebagai CEO bila ingin lebih fokus Musk pada perannya di Gedung Putih.
Saat Tesla menghadapi reaksi politik dan kekhawatiran atas perhatian Musk yang terbagi, Gerber menegaskan bahwa perusahaan membutuhkan pemimpin yang berdedikasi untuk mendapatkan kembali stabilitas.
Namun belakangan, sebuah laporan dari Politico berhasil membuat saham Tesla berbalik arah. Mengutip tiga orang sumber di Gedug Putih, media tersebut melaporkan bahwa Trump saat ini mempersiapkan Musk untuk mundur dari perannya di Gedung Putih.
Baca Juga: Aksi Protes Terhadap Trump dan Musk Mulai Marak di AS
Trump sendiri sebenarnya disebut cukup senang dengan kinerja yang ditunjukkan rekan sesama miliardernya ini. Namun belakangan, Musk mulai dianggap sebagai beban politik untuk Trump.