kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45938,93   0,00   -0.00%
  • EMAS932.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.50%
  • RD.CAMPURAN -0.14%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Pesawat ruang angkasa DART menghancurkan asteroid dengan cara menabraknya


Senin, 20 September 2021 / 12:07 WIB
Pesawat ruang angkasa DART menghancurkan asteroid dengan cara menabraknya
ILUSTRASI. Pesawat ruang angkasa DART menghancurkan asteroid dengan cara menabraknya

Penulis: Arif Budianto

KONTAN.CO.ID - New York. Pesawat ruang angkasa DART (Double Asteroid Redirection Test) milik NASA menghancurkan asteroid dengan cara menabraknya. Ketika bertabrakan dengan asteroid, energi tumbukan akan setara tiga ton ledakan TNT, ribuan puing-puing akan bertebaran di luar angkasa.

Benda-benda yang berada di luar Bumi kerap kali menjadi ancaman yang sulit untuk diprediksi kapan datangnya. Begitu pula dengan asteroid yang dapat mengancam keselamatan penghuni Bumi bila tidak terdeteksi kedatangannya.

Oleh karena itu, NASA atau Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat memiliki proyek yang dikenal dengan Double ASteroid Redirection Test (DART). Proyek tersebut melibatkan pesawat ruang angkasa yang akan ditabrakan ke asteroid supaya tidak menuju ke Bumi.

Mengutip dari Sciencetimes, laporan dari MIT Technology Review, NASA bermaksud dengan sengaja menghancurkan sebuah pesawat ruang angkasa dengan asteroid dalam sebuah gladi resik untuk menyelamatkan Bumi dari potensi ancaman asteroid. 

Para Insinyur hampir menyelesaikan integrasi pesawat ruang angkasa, membawanya selangkah lebih dekat untuk diluncurkan. DART sendiri merupakan kombinasi yang cukup menarik dari teknologi lama dan modern. 

Pesawat ruang angkasa ini kemungkinan akan diluncurkan pada bulan November 2021, seperti yang dikutip dari Republic World. Setelah pesawat tersebut satu tahun transit, ia akan mencapai targetnya, yakni Dimorphos.

Dimorphos merupakan asteroid seukuran stadion yang mengelilingi asteroid yang jauh lebih besar yang dikenal Didymos. Nah, tugas pesawat ruang angkasa DART yang seukuran mobil dan beratnya sekitar 3 ton ini akan menabrak asteroid dengan kecepatan 4 mil per detik (6,5 km/detik).

Baca Juga: Cari tahu apa itu badai matahari, fenomena yang menjadi penyebab kiamat internet

Bila sesuai dengan rencana, orbit Dimorphos selama 12 jam di sekitar Didymos akan berubah setiap menit.

Dalam studi MIT, Tom Statler yang merupakan ilmuwan dari kantor pusat NASA di Washinton, DC menjelaskan bahwa mereka ingin menghindari bencana alam yang benar-benar menghancurkan. Para ilmuwan telah melakukan studi signifikan tentang apa yang diharapkan dari perubahan lintasan Dimorphos ini.

Ilustrasi Asteroid dekati Bumi

Sebuah studi yang telah diterbitkan berjudul "The Escited Spin State of Dimorphos Result From Dart Impact" juga membahas topik yang menggambarkan simulasi pertama yang bertujuan untuk membangun gambar Dimorphos pasca benturan. Para peneliti menggunakan perhitungan momentum tumbukan untuk melakukan simulasi sejauh mana DART dapat mempercepat atau memperlambat putaran Dimorphos.

Meski pada akhirnya kesimpulan mereka masih campur aduk.

Berdasrkan simulasi awal, DART bertabrakan dengan Dimorphos menghasilkan energi tumbukan setara dengan tiga ton ledakan TNT. Ledakan tersebut menghasilkan ribuan puing-puing yang mengarah ke luar angkasa.

Slashgear mengutip dari MIT menggambarkan bahwa efeknya mirip dengan mobil golf yang menabrak sisi stadion sepak bola dengan kecepatan 15.000 mph.

Namun demikian, perubahannya tidak instan setelah pesawat DART bertabrakan dengan asteroid Dimorphos. Hasilnya akan terlihat selama beberapa hari ke depan.

Dimorphos perama-tama akan sedikit bergoyang, yang akan menjadi lebih terlihat ketika gaya tumbukan mendorong putaran asteroid keluar dari keseimbangan. Karena tidak ada gesekan antara asteroid dan luar angkasa, asteroid akan terus bergoyang hingga seluruh energi tumbukan diubah menjadi gerak asteroid.

Dimorphos bisa berputar ke berbagai arah, termasuk di sepanjang porosnya, seperti ayam yang dipanggang dan terus berputar di oven.

Untuk memahami hasilnya akan membutuhkan penelitian tentang banyak proses yang sangat rumit, mulai dari keadan putaran yang tidak beraturan hingga pengaruh sinar matahari dan perambatan panas.

Selanjutnya: Kapsul SpaceX dengan awak sipil pertama di dunia sukses mendarat di Samudera Atlantik




TERBARU
Kontan Academy
UU Kepailitan Tuntas Mendelegasikan Tugas

[X]
×