Sumber: The Fed | Editor: Khomarul Hidayat
Berikut adalah gambaran singkat mengenai apa yang akan saya sampaikan dalam pidato pagi ini. Anda bisa menyebutnya sebagai kerangka acuan... atau peta jalur pendakian... asal jangan menyebutnya sebagai forward guidance atau panduan kebijakan ke depan.
Pertama, saya akan membahas beberapa pertanyaan jangka panjang yang sedang kami kaji di The Fed terkait teknologi serbaguna terkini, yaitu kecerdasan buatan (AI), serta ke mana teknologi ini mungkin akan membawa perekonomian kita.
Kemudian, saya akan sedikit mengulas praktik forward guidance serta interaksi antara bank sentral dan pasar keuangan. Selanjutnya, saya akan memaparkan beberapa prinsip utama yang menurut saya harus menjadi pedoman dalam pelaksanaan kebijakan moneter.
Dan terakhir, saya akan menyampaikan penilaian saya mengenai kondisi perekonomian.
Bersiap Menghadapi Situasi Kebijakan di Masa Depan
Dengan latar belakang pemandangan Pegunungan Teton yang tak lekang oleh waktu, kita berkumpul di sini untuk meninjau lanskap ekonomi yang sama sekali tidak statis.
Belum lama berselang—menjelang krisis tahun 2008 dan selama satu dekade setelahnya—para ekonom dan pembuat kebijakan sering membahas tentang stagnasi sekuler dan melimpahnya tabungan global (global saving glut). Kala itu, pandangan umum yang berkembang adalah bahwa kelebihan modal akan tetap menganggur dalam waktu yang sangat lama karena kurangnya peluang investasi yang cukup menarik. Segala inovasi besar dianggap sudah tercipta. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi diprediksi akan rendah dan lambat.
Namun, zaman telah benar-benar berubah. Kita kini berada di titik balik sejarah.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Usai Komentar Warsh, Berpeluang Catat Kenaikan Mingguan
Sebagai contoh paling nyata, kemajuan dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI)—sebuah istilah berusia 80 tahun untuk teknologi terkini—berlangsung lebih cepat daripada prediksi para pendukungnya beberapa tahun lalu.
Potensi pertumbuhan yang jauh lebih tinggi kini kian terbuka lebar. Modal dalam jumlah besar terus mengalir ke berbagai jenis infrastruktur yang terkait dengan AI. Fenomena yang menyerupai versi ekstrem dari Hukum Moore tampaknya sedang terjadi. Demikian pula, hukum skala (scaling laws) turut mengubah metode maupun kecepatan inovasi.
Modal dan tenaga kerja telah berpadu menciptakan model bahasa berskala besar yang menjadi inti dari AI. Pengguna membeli token untuk mendapatkan akses ke model-model tersebut. Berbagai laporan mencatat bahwa penjualan token tahunan dari dua laboratorium terkemuka saja telah melampaui angka US$ 100 miliar—sebuah peningkatan lebih dari 500% dibandingkan tahun sebelumnya.
The Fed memantau semua perkembangan ini dengan saksama. Kami menyadari bahwa AI merupakan variabel baru—yang berpotensi menjadi faktor produksi baru—yang akan membawa dampak bagi perekonomian maupun pelaksanaan kebijakan moneter. Hal ini memunculkan sejumlah pertanyaan penting:
Akankah penerapan AI memicu peningkatan produktivitas yang signifikan dan berkelanjutan di seluruh sektor ekonomi? Dan jika ya, kapan hal itu akan terjadi?
Apakah penggunaan token akan bersifat melengkapi atau justru menjadi pesaing bagi tenaga kerja? Akankah generasi model AI berikutnya menuntut intensitas modal yang jauh lebih besar, atau justru model-model itu sendiri yang akan membantu merancang solusi yang lebih hemat modal?














