Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Jepang terus menunjukkan ekspansi pada Juni 2026. Kinerja tersebut sekaligus menutup kuartal II-2026 sebagai periode terbaik bagi sektor manufaktur Negeri Sakura sejak kuartal I-2014, didorong lonjakan pesanan baru yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Mengutip Reuters, Rabu (1/7/2026), survei S&P Global Japan Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan indeks manufaktur Jepang naik menjadi 54,8 pada Juni dari 54,5 pada Mei. Angka tersebut juga sejalan dengan estimasi awal (flash estimate).
Baca Juga: Iran Tolak Bertemu Utusan AS, Prospek Perdamaian Kembali Memudar
PMI yang berada di atas level 50 menandakan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Juni menjadi bulan keenam berturut-turut sektor manufaktur Jepang mencatat pertumbuhan.
Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes mengatakan, hasil survei terbaru menunjukkan industri manufaktur Jepang menikmati kinerja kuartalan terbaik dalam lebih dari 12 tahun.
"Produksi pabrik terus meningkat dengan laju yang solid, didorong oleh perbaikan signifikan pada permintaan pelanggan," ujarnya.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Rabu (1/7), Yen Jepang Terpuruk ke Level Terendah dalam 40 Tahun
Pesanan Baru Melonjak
Produksi manufaktur meningkat pada laju tercepat kedua sejak Januari 2022, hanya kalah dari pertumbuhan yang tercatat pada April tahun ini.
Kenaikan produksi terutama ditopang oleh industri barang antara (intermediate goods) dan barang modal (investment goods), sementara produksi barang konsumsi justru mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.
Sementara itu, pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Januari 2022. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya permintaan domestik serta aksi penimbunan stok oleh pelanggan sebagai antisipasi terhadap potensi kelangkaan pasokan dan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Permintaan ekspor juga tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Rabu (1/7) Pagi, Brent ke US$ 73,45 & WTI ke US$ 70,13
Penyerapan Tenaga Kerja Terus Meningkat
Survei tersebut juga menunjukkan, perusahaan manufaktur Jepang terus menambah tenaga kerja.
Jumlah pekerja meningkat selama 19 bulan berturut-turut, dengan laju perekrutan menjadi yang tercepat, menyamai rekor sejak April 2018.
Namun, beban pekerjaan yang belum terselesaikan (backlog of work) juga meningkat selama enam bulan berturut-turut dan mencapai laju tercepat sejak Februari 2014, mengindikasikan kapasitas produksi masih menghadapi tekanan.
Baca Juga: Panduan Aturan Extra Time dan Adu Penalti di Fase Gugur Piala Dunia 2026
Tekanan Biaya Masih Tinggi
Di sisi lain, tekanan biaya produksi masih tinggi akibat keterbatasan pasokan bahan baku dan keterlambatan pengiriman dari pemasok.
Inflasi biaya input bertahan pada level tertinggi sejak September 2022, sama seperti bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi harga jual hanya sedikit melandai dari posisi tertinggi dalam beberapa tahun yang tercatat pada Mei.
Baca Juga: Microsoft Bersiap PHK Ribuan Karyawan Lagi, Divisi Xbox hingga Penjualan Terdampak
Optimisme Tetap Terjaga
Ke depan, pelaku industri manufaktur Jepang tetap optimistis produksi akan terus meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Optimisme tersebut didorong oleh prospek permintaan yang kuat dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, serta meningkatnya belanja modal perusahaan.
Meski demikian, tingkat optimisme masih berada di bawah rata-rata historis karena pelaku usaha tetap mencermati sejumlah risiko, mulai dari konflik AS-Israel dengan Iran, tingginya biaya produksi, kekurangan tenaga kerja, hingga pelemahan nilai tukar yen.














