Sumber: Channel News Asia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Venezuela sendiri beralih pengakuan diplomatik ke China sejak 1974, hubungan yang semakin erat di era Hugo Chávez setelah ia berkuasa pada 1998. Chávez menjauh dari Washington, memuji model pemerintahan Partai Komunis China, dan memimpin kemunduran demokrasi di dalam negeri.
Kedekatan itu berlanjut setelah Chávez wafat pada 2013 dan Maduro mengambil alih kekuasaan, bahkan menyekolahkan putranya ke Universitas Peking pada 2016.
Sebagai imbalannya, Beijing menggelontorkan dana ke kilang minyak dan infrastruktur Venezuela, menjadi penopang ekonomi saat AS dan sekutunya memperketat sanksi sejak 2017.
China membeli sekitar US$ 1,6 miliar barang dari Venezuela pada 2024, menurut data bea cukai China, dengan minyak menyumbang sekitar separuh total perdagangan.
“Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin terlihat sebagai sahabat yang bisa diandalkan bagi Venezuela,” ujar seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui pertemuan antara Maduro dan utusan khusus China untuk Amerika Latin dan Karibia, Qiu Xiaoqi, beberapa jam sebelum Maduro ditangkap.
Tonton: RI Jadi Negara Paling Bahagia, Prabowo: Saya Terharu, Sebagian Besar Hidup Sangat Sederhana
Kesimpulan
Penangkapan Maduro oleh AS menyingkap batas nyata diplomasi non-intervensi China: kuat secara retorika dan forum multilateral, namun lemah dalam perlindungan nyata terhadap mitra strategis ketika kekuatan militer AS turun tangan. Kasus ini bukan hanya ujian kredibilitas China di Amerika Latin, tetapi juga menantang narasi Global Security Initiative sebagai alternatif tatanan keamanan global. Tanpa instrumen pencegah yang konkret, pengaruh China berisiko terlihat simbolik, yakni tampak kuat di kata-kata, tapi rapuh saat krisis.













