kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Pukulan bagi Beijing: Maduro Jatuh, Kredibilitas China Dipertanyakan


Selasa, 06 Januari 2026 / 08:10 WIB
Pukulan bagi Beijing: Maduro Jatuh, Kredibilitas China Dipertanyakan
ILUSTRASI. Diplomat tertinggi China menuduh Amerika Serikat bertindak seperti hakim dunia setelah menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. (REUTERS/HANDOUT)


Sumber: Channel News Asia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Diplomat tertinggi China menuduh Amerika Serikat bertindak seperti “hakim dunia” setelah menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, untuk diadili di New York. Beijing bersiap menghadapi Washington di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait legalitas langkah tersebut.

Melansir Channel News Asia, China menganut kebijakan non-intervensi dan secara rutin mengkritik aksi militer yang dilakukan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB.

Penggulingan pemimpin salah satu mitra strategis “all-weather” China dari ibu kotanya pada tengah malam oleh militer AS menjadi ujian nyata atas klaim Beijing bahwa mereka mampu berperan dalam penyelesaian konflik global tanpa mengikuti jalur militer ala Washington.

“Kami tidak pernah percaya bahwa negara mana pun bisa bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima bahwa satu negara dapat mengklaim diri sebagai hakim dunia,” kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi kepada mitranya dari Pakistan dalam pertemuan di Beijing, Minggu (4/1), merujuk pada “perkembangan mendadak di Venezuela” tanpa menyebut AS secara langsung.

“Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya oleh hukum internasional,” tambah Wang Yi, dalam pernyataan pertamanya sejak foto Maduro yang diborgol dan ditutup matanya pada Sabtu lalu mengejutkan dunia.

Baca Juga: Geger! Trump Sebut Kuba “Siap Runtuh” Usai Penangkapan Maduro

Di saat bersamaan, Dewan Keamanan PBB akan menggelar pertemuan atas permintaan Kolombia (didukung China dan Rusia) untuk membahas keputusan Presiden AS Donald Trump menangkap Maduro. Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan langkah tersebut dapat menjadi “preseden berbahaya”.

“China saat ini tidak punya banyak dukungan material yang bisa diberikan kepada Venezuela, tetapi secara retorika Beijing akan sangat penting saat memimpin upaya di PBB dan bersama negara-negara berkembang untuk membangun opini menentang AS,” ujar Eric Olander, pendiri China-Global South Project.

Ia menambahkan, dalam kasus Zimbabwe dan Iran yang sama-sama terkena sanksi Barat, China menunjukkan komitmen melalui perdagangan dan investasi, bahkan dalam situasi sulit.

Pukulan Besar bagi China

Dengan Trump juga mengancam aksi militer terhadap Kolombia dan Meksiko, serta menyebut rezim komunis Kuba “siap runtuh”, negara-negara Amerika Latin yang telah menandatangani Global Security Initiative (GSI) Presiden Xi Jinping kini mungkin mempertanyakan seberapa jauh pakta tersebut mampu melindungi mereka jika benar-benar diuji.

Pada Senin, Xi Jinping menyerukan semua negara untuk mematuhi hukum internasional dan prinsip PBB. Ia menyatakan kekuatan besar harus memberi teladan, tanpa menyebut langsung AS atau Venezuela.

China cukup sukses meyakinkan negara-negara Amerika Latin untuk memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan dan beralih ke Beijing. Kosta Rika, Panama, Republik Dominika, El Salvador, Nikaragua, dan Honduras telah berpihak ke ekonomi senilai US$ 19 triliun itu dalam dua dekade terakhir.

Baca Juga: Investor Berburu Aset Aman Usai Penangkapan Maduro: Emas Rekor, Perak Meroket 7%

Venezuela sendiri beralih pengakuan diplomatik ke China sejak 1974, hubungan yang semakin erat di era Hugo Chávez setelah ia berkuasa pada 1998. Chávez menjauh dari Washington, memuji model pemerintahan Partai Komunis China, dan memimpin kemunduran demokrasi di dalam negeri.

Kedekatan itu berlanjut setelah Chávez wafat pada 2013 dan Maduro mengambil alih kekuasaan, bahkan menyekolahkan putranya ke Universitas Peking pada 2016.

Sebagai imbalannya, Beijing menggelontorkan dana ke kilang minyak dan infrastruktur Venezuela, menjadi penopang ekonomi saat AS dan sekutunya memperketat sanksi sejak 2017.

China membeli sekitar US$ 1,6 miliar barang dari Venezuela pada 2024, menurut data bea cukai China, dengan minyak menyumbang sekitar separuh total perdagangan.

“Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin terlihat sebagai sahabat yang bisa diandalkan bagi Venezuela,” ujar seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui pertemuan antara Maduro dan utusan khusus China untuk Amerika Latin dan Karibia, Qiu Xiaoqi, beberapa jam sebelum Maduro ditangkap.

Tonton: RI Jadi Negara Paling Bahagia, Prabowo: Saya Terharu, Sebagian Besar Hidup Sangat Sederhana

Kesimpulan 

Penangkapan Maduro oleh AS menyingkap batas nyata diplomasi non-intervensi China: kuat secara retorika dan forum multilateral, namun lemah dalam perlindungan nyata terhadap mitra strategis ketika kekuatan militer AS turun tangan. Kasus ini bukan hanya ujian kredibilitas China di Amerika Latin, tetapi juga menantang narasi Global Security Initiative sebagai alternatif tatanan keamanan global. Tanpa instrumen pencegah yang konkret, pengaruh China berisiko terlihat simbolik, yakni tampak kuat di kata-kata, tapi rapuh saat krisis.

Selanjutnya: Melambung Tinggi, Cek Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Selasa (6/1)

Menarik Dibaca: Melambung Tinggi, Cek Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Selasa (6/1)




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×