Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - OMAHA. Raksasa investasi asal Amerika Serikat (AS), Berkshire Hathaway, mencatat posisi kas fantastis yang memecahkan rekor.
Hingga akhir Maret 2026, dana tunai perusahaan mencapai US$ 380,2 miliar atau sekitar Rp 6.577 triliun (kurs Rp 17.300), menjadi sorotan utama dalam pertemuan tahunan pemegang saham.
CEO Berkshire Hathaway Greg Abel menegaskan komitmennya untuk mengelola kas jumbo tersebut secara disiplin dan hati-hati di tengah transisi kepemimpinan pasca Warren Buffett.
"Kami tidak harus menginvestasikan seluruh uang hanya demi bergerak cepat," tegas Abel seperti dilansir dari Reuters.
Baca Juga: Gaji CEO Baru Berkshire Greg Abel 250 Kali Lipat Buffett: Selisih Rp 420 Miliar!
Dalam debutnya sebagai CEO di forum tahunan di Omaha, Abel berupaya meyakinkan investor bahwa ia mampu melanjutkan filosofi investasi jangka panjang ala Buffett tanpa terjebak birokrasi.
Ia juga memastikan Berkshire tidak akan dipecah, dan tetap fokus memperkuat portofolio bisnis yang ada.
Di tengah besarnya kas yang mengendap, Berkshire justru belum agresif berbelanja. Sepanjang kuartal I-2026, perusahaan hanya melakukan pembelian kembali saham (buyback) sebesar US$ 234 juta.
Langkah ini mencerminkan sikap hati-hati manajemen dalam mencari peluang investasi yang dinilai benar-benar layak.
Dari sisi kinerja, Berkshire mencatat laba operasional sebesar US$ 11,35 miliar, naik 18% secara tahunan.
Kinerja ini ditopang pemulihan bisnis asuransi dan kontribusi dari sejumlah unit usaha besar seperti kereta api dan energi, meski bisnis ritel masih tertekan lemahnya daya beli.
Baca Juga: Eks Bos Unilever Schumacher Ditunjuk Jadi CEO Baru Barry Callebaut
Sementara itu, Buffett yang kini menjabat sebagai chairman tetap memberikan dukungan penuh kepada Abel. "Greg melakukan semua yang saya lakukan, bahkan lebih," ujarnya.
Namun, tantangan Abel tidak ringan. Perubahan selera investor yang kini condong ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan membuat daya tarik model bisnis konglomerasi seperti Berkshire mulai diuji.
Hal ini tercermin dari kinerja saham perusahaan yang tertinggal dibanding indeks S&P 500 sejak pengumuman pengunduran diri Buffett.
Di sisi lain, jumlah peserta rapat tahunan juga menurun dibanding era Buffett dan mendiang Charlie Munger, yang sebelumnya selalu menarik puluhan ribu investor.
Baca Juga: Era Baru Berkshire, Warisan Lama: Inilah 5 Saham Penguasa Portofolio Warren Buffett
Meski begitu, dengan cadangan kas terbesar dalam sejarah perusahaan, Berkshire dinilai masih memiliki ruang besar untuk ekspansi. Abel menegaskan pihaknya akan tetap selektif dan sabar dalam menempatkan dana.
"Kami ingin menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," katanya.












