Sumber: Yahoo News | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendiri hedge fund terbesar dunia, Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan risiko serius dari lonjakan utang nasional Amerika Serikat yang kini menembus US$ 38 triliun.
Ia menilai beban tersebut pada akhirnya akan ditanggung oleh generasi mendatang melalui pelemahan nilai dolar AS.
Dalam wawancara di David Rubenstein Show, Dalio menyebut bahwa anak dan cucunya bahkan yang belum lahir, akan membayar utang tersebut dalam mata uang yang nilainya telah tergerus inflasi. Menurutnya, arah kebijakan fiskal AS saat ini tidak berkelanjutan.
Dalio, yang dikenal sebagai pengkaji sejarah siklus keuangan global, menjelaskan bahwa negara dengan tingkat utang berlebihan jarang menyelesaikan masalah melalui pemangkasan belanja atau gagal bayar secara terbuka.
Baca Juga: Ray Dalio Ingatkan AS Masuk Spiral Utang, Ini Aset Aman Pilihan Investasi
Sebaliknya, pemerintah cenderung memilih jalan devaluasi mata uang dan pencetakan uang.
“Ketika negara pada dasarnya bangkrut, mereka mencetak uang, menurunkan nilai mata uang, dan menahan suku bunga pada level rendah secara artifisial,” ujar Dalio. Kondisi ini, menurut dia, merugikan pemegang obligasi karena imbal hasil riil tidak mampu mengimbangi inflasi.
Dalio menarik paralel dengan perubahan sistem moneter pada awal 1970-an, khususnya keputusan Presiden AS Richard Nixon pada 1971 yang memutus kaitan dolar dengan emas. Sejak era mata uang fiat, ia menilai sebagian besar nilai uang global telah terdepresiasi secara signifikan.
Ia menegaskan emas tetap menjadi aset yang relevan karena tidak bergantung pada kewajiban pihak lain. Dalio juga menyebut meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dunia sebagai respons atas risiko geopolitik dan sanksi internasional, seperti yang dialami Rusia pascaperang Ukraina.
Baca Juga: Ray Dalio: Utang Tinggi Mengguncang Tatanan Moneter Amerika Serikat
Dalio melihat kondisi ekonomi global saat ini mendekati titik balik serupa dekade 1970-an, ditandai oleh meningkatnya kecenderungan negara-negara untuk membangun kemandirian ekonomi, termasuk dalam energi, industri, dan pembiayaan.
Perubahan ini dinilai akan mempercepat tekanan terhadap mata uang dan sistem keuangan global.













