Sumber: Yahoo News | Editor: Noverius Laoli
Menanggapi pertanyaan mengapa pasar obligasi belum bereaksi keras terhadap lonjakan utang AS, Dalio menyoroti kebuntuan kebijakan di Washington. Ia menyebut pembuat kebijakan berasumsi pasar obligasi akan tetap stabil, sementara pelaku pasar berharap pemerintah akan bertindak sebelum krisis memburuk.
Namun, Dalio mengingatkan bahwa krisis utang biasanya berkembang perlahan sebelum akhirnya terjadi secara tiba-tiba. Ia juga meragukan efektivitas kebijakan jangka pendek seperti tarif atau paket legislasi besar dalam menyelesaikan persoalan struktural utang.
Meski mengakui tarif dapat menjadi sumber penerimaan negara dan mendukung kemandirian industri, Dalio menegaskan bahwa solusi utama tetap akan ditempuh melalui pelemahan nilai mata uang.
Baca Juga: Ray Dalio: Emas Akan Jadi Aset Terkuat di Tengah Krisis Utang Global
Strategi Hadapi Inflasi
Dalam menghadapi potensi stagflasi, Dalio menyarankan investor menilai kekayaan dalam nilai riil, bukan nominal. Ia merekomendasikan dua instrumen utama sebagai pelindung inflasi, yakni obligasi pemerintah yang dilindungi inflasi (Treasury Inflation-Protected Securities/TIPS) dan emas, dengan porsi emas sekitar 10%–15% dari portofolio.
Selain itu, Dalio kembali menekankan pentingnya diversifikasi. Ia menyarankan investor memiliki sekitar 15 sumber imbal hasil yang tidak saling berkorelasi untuk menekan risiko portofolio secara signifikan. Ia juga mengingatkan investor ritel agar tidak berspekulasi jangka pendek di pasar keuangan.
Baca Juga: Ray Dalio Sarankan 15% Portofolio di Emas Saat Harga Tembus Rekor US$4.000
Meski menyampaikan peringatan keras, Dalio menutup dengan nada optimistis. Ia meyakini Amerika Serikat akan melewati fase sulit ini, dengan catatan keberhasilan tersebut sangat bergantung pada solidaritas dan kohesi sosial masyarakatnya.












