kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.870   24,00   0,14%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Ray Dalio: Utang AS US$ 38 Triliun Dibayar Generasi Mendatang lewat Pelemahan Dolar


Senin, 12 Januari 2026 / 16:30 WIB
Ray Dalio: Utang AS US$ 38 Triliun Dibayar Generasi Mendatang lewat Pelemahan Dolar
Pertemuan antara pengusaha dengan Ray Dalio ( ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)


Sumber: Yahoo News | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendiri hedge fund terbesar dunia, Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan risiko serius dari lonjakan utang nasional Amerika Serikat yang kini menembus US$ 38 triliun.

Ia menilai beban tersebut pada akhirnya akan ditanggung oleh generasi mendatang melalui pelemahan nilai dolar AS.

Dalam wawancara di David Rubenstein Show, Dalio menyebut bahwa anak dan cucunya bahkan yang belum lahir, akan membayar utang tersebut dalam mata uang yang nilainya telah tergerus inflasi. Menurutnya, arah kebijakan fiskal AS saat ini tidak berkelanjutan.

Dalio, yang dikenal sebagai pengkaji sejarah siklus keuangan global, menjelaskan bahwa negara dengan tingkat utang berlebihan jarang menyelesaikan masalah melalui pemangkasan belanja atau gagal bayar secara terbuka.

Baca Juga: Ray Dalio Ingatkan AS Masuk Spiral Utang, Ini Aset Aman Pilihan Investasi

Sebaliknya, pemerintah cenderung memilih jalan devaluasi mata uang dan pencetakan uang.

“Ketika negara pada dasarnya bangkrut, mereka mencetak uang, menurunkan nilai mata uang, dan menahan suku bunga pada level rendah secara artifisial,” ujar Dalio. Kondisi ini, menurut dia, merugikan pemegang obligasi karena imbal hasil riil tidak mampu mengimbangi inflasi.

Dalio menarik paralel dengan perubahan sistem moneter pada awal 1970-an, khususnya keputusan Presiden AS Richard Nixon pada 1971 yang memutus kaitan dolar dengan emas. Sejak era mata uang fiat, ia menilai sebagian besar nilai uang global telah terdepresiasi secara signifikan.

Ia menegaskan emas tetap menjadi aset yang relevan karena tidak bergantung pada kewajiban pihak lain. Dalio juga menyebut meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dunia sebagai respons atas risiko geopolitik dan sanksi internasional, seperti yang dialami Rusia pascaperang Ukraina.

Baca Juga: Ray Dalio: Utang Tinggi Mengguncang Tatanan Moneter Amerika Serikat

Dalio melihat kondisi ekonomi global saat ini mendekati titik balik serupa dekade 1970-an, ditandai oleh meningkatnya kecenderungan negara-negara untuk membangun kemandirian ekonomi, termasuk dalam energi, industri, dan pembiayaan.

Perubahan ini dinilai akan mempercepat tekanan terhadap mata uang dan sistem keuangan global.

Kebuntuan Kebijakan di Washington

Menanggapi pertanyaan mengapa pasar obligasi belum bereaksi keras terhadap lonjakan utang AS, Dalio menyoroti kebuntuan kebijakan di Washington. Ia menyebut pembuat kebijakan berasumsi pasar obligasi akan tetap stabil, sementara pelaku pasar berharap pemerintah akan bertindak sebelum krisis memburuk.

Namun, Dalio mengingatkan bahwa krisis utang biasanya berkembang perlahan sebelum akhirnya terjadi secara tiba-tiba. Ia juga meragukan efektivitas kebijakan jangka pendek seperti tarif atau paket legislasi besar dalam menyelesaikan persoalan struktural utang.

Meski mengakui tarif dapat menjadi sumber penerimaan negara dan mendukung kemandirian industri, Dalio menegaskan bahwa solusi utama tetap akan ditempuh melalui pelemahan nilai mata uang.

Baca Juga: Ray Dalio: Emas Akan Jadi Aset Terkuat di Tengah Krisis Utang Global

Strategi Hadapi Inflasi

Dalam menghadapi potensi stagflasi, Dalio menyarankan investor menilai kekayaan dalam nilai riil, bukan nominal. Ia merekomendasikan dua instrumen utama sebagai pelindung inflasi, yakni obligasi pemerintah yang dilindungi inflasi (Treasury Inflation-Protected Securities/TIPS) dan emas, dengan porsi emas sekitar 10%–15% dari portofolio.

Selain itu, Dalio kembali menekankan pentingnya diversifikasi. Ia menyarankan investor memiliki sekitar 15 sumber imbal hasil yang tidak saling berkorelasi untuk menekan risiko portofolio secara signifikan. Ia juga mengingatkan investor ritel agar tidak berspekulasi jangka pendek di pasar keuangan.

Baca Juga: Ray Dalio Sarankan 15% Portofolio di Emas Saat Harga Tembus Rekor US$4.000

Meski menyampaikan peringatan keras, Dalio menutup dengan nada optimistis. Ia meyakini Amerika Serikat akan melewati fase sulit ini, dengan catatan keberhasilan tersebut sangat bergantung pada solidaritas dan kohesi sosial masyarakatnya.

Selanjutnya: Profil Calista Maya: Outside Hitter Bandung BJB Ancam Dominasi Senior di Proliga 2026

Menarik Dibaca: Era Digital Bikin Bisnis Harus Gesit, Ini Langkah Awalnya


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×