Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Meski demikian, Beijing mulai menunjukkan kesadaran bahwa ekspor industri perlu dikendalikan agar keberhasilan tersebut berkelanjutan. Para pemimpin China kian terbuka mengakui adanya ketidakseimbangan dalam perekonomian nasional serta masalah citra yang ditimbulkan oleh lonjakan ekspor yang terlalu besar.
Setelah data surplus US$ 1 triliun dirilis pada November, Perdana Menteri China Li Qiang pekan lalu dikutip televisi nasional menyerukan agar pemerintah secara proaktif memperluas impor dan mendorong perkembangan impor dan ekspor yang lebih seimbang.
China juga menghapus insentif pajak ekspor yang menyerupai subsidi bagi industri panel surya, isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan negara-negara Uni Eropa.
Bulan lalu, parlemen China meloloskan revisi Undang-Undang Perdagangan Luar Negeri hanya dalam dua kali pembacaan, lebih cepat dari biasanya tiga kali. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kepada anggota perjanjian dagang trans-Pasifik bahwa China siap mengurangi subsidi industri dan bergerak menuju perdagangan yang lebih bebas dan terbuka.
Tonton: Hotman Paris Pasang Badan Bela Timothy Ronald: Tidak Ada Penipuan!
Meski Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati gencatan senjata tarif selama setahun pada akhir Oktober, bea masuk AS atas barang-barang China masih berada di level 47,5%. Angka ini jauh di atas ambang sekitar 35% yang menurut analis masih memungkinkan perusahaan China mengekspor ke AS dengan keuntungan.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
