Sekjen NATO Stoltenberg Menyebut Ancaman Nuklir Putin Sebagai Eskalasi Berbahaya

Kamis, 22 September 2022 | 09:15 WIB Sumber: Reuters
Sekjen NATO Stoltenberg Menyebut Ancaman Nuklir Putin Sebagai Eskalasi Berbahaya

ILUSTRASI. Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato saat menerima surat kepercayaan dari duta besar asing yang baru diangkat di Kremlin di Moskow, Rusia, 20 September 2022.


KONTAN.CO.ID -  NEW YORK. Ancaman terselubung Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menggunakan senjata nuklir setelah kemunduran Rusia di Ukraina merupakan retorika yang berbahaya dan sembrono.

Sekretaris jenderal NATO Jens Stoltenberg pada hari Rabu mengatakan, bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri perang adalah dengan membuktikan Moskow tidak akan menang di medan perang.

Stoltenberg juga mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara bahwa pengumuman Putin tentang mobilisasi militer pertama Rusia sejak Perang Dunia Kedua akan meningkatkan konflik dan menelan lebih banyak korban jiwa. Tapi, ia menambahkan, itu juga merupakan bukti bahwa Putin telah membuat "kesalahan besar" dengan keputusan Rusia untuk menyerang tetangganya pada 24 Februari.

Baca Juga: Vladimir Putin Bakal Kirim 300.000 Tentara Cadangan untuk Bertempur di Ukraina

Stoltenberg, berbicara kepada Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni di New York di sela-sela pertemuan tahunan Majelis Umum PBB, mengatakan aliansi pertahanan Barat yang beranggotakan 30 negara akan tetap tenang dan tidak terlibat dalam retorika nuklir yang sembrono dan berbahaya seperti itu. 

"Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini adalah dengan membuktikan bahwa Presiden Putin tidak akan menang di medan perang. Ketika dia menyadari itu, dia harus duduk dan merundingkan kesepakatan yang masuk akal dengan Ukraina," kata Stoltenberg.

Dalam pidatonya kepada Rusia sebelumnya, Putin mengumumkan bahwa dia akan memanggil 300.000 pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina dan mendukung rencana untuk mencaplok bagian-bagian negara itu, mengisyaratkan kepada Barat bahwa dia siap menggunakan senjata nuklir untuk membela Rusia. 

"Jika integritas teritorial negara kami terancam, kami akan menggunakan semua cara yang tersedia untuk melindungi rakyat kami - ini bukan gertakan," kata Putin.

Baca Juga: AS Menyambut Baik Komentar Modi Terkait Perdamaian Antara Rusia-Ukraina

Rusia memiliki "banyak senjata untuk membalas," tambah Putin.

Pidato Putin menyusul meningkatnya korban dan kemunduran medan perang bagi pasukan Rusia, yang telah diusir dari daerah yang mereka kuasai di timur laut Ukraina dalam serangan balasan Ukraina bulan ini dan macet di selatan.

"Pidato Presiden Putin menunjukkan bahwa perang tidak berjalan sesuai dengan rencana Presiden Putin," kata Stoltenberg.

"Dia membuat kesalahan besar, kesalahan strategis," kata Stoltenberg tentang Putin, sambil membuat prediksi suram.

"Lebih banyak pasukan akan meningkatkan konflik. Itu berarti lebih banyak penderitaan, lebih banyak korban jiwa - nyawa Ukraina, tetapi juga nyawa Rusia," kata Stoltenberg.

Baca Juga: Cerita Erdogan: Situasi Rusia pada Perang Ukraina Cukup Bermasalah

Putin mengatakan, tanpa memberikan bukti, bahwa para pejabat di negara-negara anggota NATO telah mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk melawan Rusia, dan bahwa Rusia "juga memiliki berbagai alat pemusnah."

NATO belum melihat adanya perubahan dalam postur dan kesiapan nuklir Rusia, kata Stoltenberg, tetapi menambahkan bahwa kuncinya adalah untuk mencegah eskalasi semacam itu.

“Kami akan memastikan bahwa tidak ada kesalahpahaman di Moskow tentang keseriusan penggunaan senjata nuklir. … Dan itulah alasan mengapa kami sangat jelas dalam komunikasi kami dengan Rusia tentang konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tentang fakta bahwa perang nuklir tidak bisa dimenangkan oleh Rusia."

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Noverius Laoli

Terbaru