Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Topan Bavi terus bergerak di perairan tenggara Taiwan pada Kamis (9/7/2026). Sementara otoritas di Taiwan, China, dan Jepang meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi dampak badai yang diperkirakan menjadi salah satu topan terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Mengutip Reuters, kecepatan angin Topan Bavi sedikit melemah dalam semalam menjadi hampir 200 kilometer per jam (km/jam).
Baca Juga: Ancaman Baru untuk Bitcoin, Komputer Kuantum Bisa Bobol Dompet Kripto
Meski demikian, otoritas tetap mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan kebutuhan pokok dan bersiap menghadapi dampak badai.
Pusat Meteorologi Nasional China memperkirakan Bavi akan bergerak melintasi utara Taiwan sebelum mendarat di Provinsi Fujian, China timur, pada Sabtu (11/7) malam.
Topan tersebut memiliki diameter sekitar 1.000 kilometer, atau hampir selebar wilayah Prancis.
Peramal cuaca dari Central Weather Administration Taiwan, Jason Chang, mengatakan Bavi berpotensi menjadi topan terbesar berdasarkan ukuran yang melintasi Taiwan sejak 1987.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.070 Per Dolar AS, Terburuk di Asia Pagi Ini
"Topan dengan ukuran sebesar ini tergolong sangat jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Para ilmuwan menilai kawasan Asia Timur, termasuk China, Taiwan, dan Jepang, semakin rentan terhadap cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim.
Tahun ini juga menjadi perhatian karena kemunculan fenomena El Nino diperkirakan meningkatkan suhu laut dan memicu topan yang lebih sering serta lebih kuat.
Lembaga prakiraan cuaca AccuWeather memperkirakan, apabila intensitasnya bertahan, Bavi akan menjadi topan terkuat sejak Topan Super Kong-rey pada 2024.
Pakar prakiraan internasional AccuWeather Jason Nicholls mengatakan, meski kecepatan angin diperkirakan mulai melemah sejak Kamis, Bavi masih akan menjadi badai yang sangat berbahaya saat melintasi Taiwan dan China timur hingga awal pekan depan.
Di Jepang, Badan Meteorologi Jepang mengimbau warga di Prefektur Okinawa tetap waspada terhadap angin kencang, tanah longsor, banjir, serta gelombang badai pada Jumat dan Sabtu.
Baca Juga: Inflasi Produsen China Capai Level Tertinggi Hampir Empat Tahun pada Juni
Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te melalui akun Facebook mengajak masyarakat mempersiapkan kebutuhan darurat, mulai dari makanan, senter, hingga tas siaga yang berisi perlengkapan untuk bertahan hidup selama tiga hari.
Peneliti siklon tropis dari Imperial College London, Xiangbo Feng, mengatakan Bavi menghabiskan waktu cukup lama menguat di atas Samudra Pasifik sehingga menyerap energi dari suhu laut yang hangat dan mengumpulkan kelembapan dalam jumlah besar.
Menurutnya, ketika badai tersebut mendekati atau mencapai wilayah pesisir, potensi kerusakan bisa sangat besar. Bahkan, sedikit perubahan jalur pergerakan Bavi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap wilayah yang dilaluinya.














