kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Trump di Persimpangan: Harga BBM, Selat Hormuz, dan Ancaman Nuklir Iran


Jumat, 29 Mei 2026 / 09:44 WIB
Trump di Persimpangan: Harga BBM, Selat Hormuz, dan Ancaman Nuklir Iran
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema besar dalam upayanya mengakhiri perang melawan Iran. (REUTERS/Kevin Lamarque)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Pembukaan kembali Selat Hormuz tentu akan disambut positif pasar global. Namun, kondisi itu pada dasarnya hanya mengembalikan kelancaran distribusi minyak dunia seperti sebelum perang dimulai.

Sementara itu, tekanan politik dan ekonomi terhadap Trump juga terus meningkat. Tingkat kepuasan publik terhadapnya dilaporkan mencapai titik terendah baru.

Pemilu sela AS pada November mendatang juga semakin dekat, ketika Partai Republik tengah berupaya mempertahankan kendali atas Kongres. Sejumlah proyeksi terbaru memperingatkan konflik berkepanjangan dapat menimbulkan dampak serius bagi ekonomi global.

Iran sendiri disebut tengah mendorong pelonggaran sanksi ekonomi di awal kesepakatan guna membantu perekonomiannya yang terpuruk. Hal itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pengkritik Trump bahwa presiden AS tersebut mungkin akan sulit menolak tuntutan Iran demi mencapai kesepakatan penghentian perang.

Meski begitu, dalam rapat kabinet pada Rabu lalu, Trump kembali menegaskan posisi kerasnya dan mengatakan dirinya tidak peduli terhadap pemilu sela. Padahal, sejumlah ajudannya dikabarkan khawatir harga bensin yang tinggi dapat merugikan elektabilitas Partai Republik.

Analis menilai Iran kini merasa berada di posisi lebih kuat setelah mampu bertahan dari serangan militer sekaligus menunjukkan kemampuannya mengganggu hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: RI Tidak Termasuk, Ini 15 Negara yang Paling Dipercaya Investor di 2026

Presiden Program Timur Tengah di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, Jon Alterman, mengatakan Trump tampak ingin segera mengakhiri konflik tersebut.

“Semakin terlihat Trump ingin perang ini segera berakhir, semakin keras Iran bertahan pada posisinya,” ujarnya.

Perubahan sikap Trump dalam sepekan terakhir dinilai bukan hal baru. Saat kampanye, Trump berjanji menghindari perang yang tidak perlu, namun kini justru membawa AS masuk lebih dalam ke konflik luar negeri tanpa penjelasan strategi yang sepenuhnya jelas.

Cara Trump mengakhiri konflik dengan Iran diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan warisan kebijakan luar negerinya pada masa jabatan kedua.

Tabel 1. Poin Utama Kerangka Kesepakatan AS-Iran

Aspek Isi Kesepakatan Sementara
Gencatan senjata Diperpanjang
Selat Hormuz Dibuka kembali untuk pelayaran
Program nuklir Iran Pembahasan ditunda
Sanksi ekonomi Masih dinegosiasikan
Uranium Iran Status belum jelas
Dampak ekonomi Potensi turunkan harga energi global

Tabel 2. Dilema Politik Donald Trump

Tekanan yang Dihadapi Risiko
Menurunkan harga bensin Harus kompromi dengan Iran
Membuka Selat Hormuz Dikritik kubu hawkish Republik
Menghindari perang berkepanjangan Dinilai lemah terhadap Iran
Menjelang pemilu sela Elektabilitas Partai Republik terancam




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×