kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Trump di Persimpangan: Harga BBM, Selat Hormuz, dan Ancaman Nuklir Iran


Jumat, 29 Mei 2026 / 09:44 WIB
Trump di Persimpangan: Harga BBM, Selat Hormuz, dan Ancaman Nuklir Iran
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema besar dalam upayanya mengakhiri perang melawan Iran. (REUTERS/Kevin Lamarque)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema besar dalam upayanya mengakhiri perang melawan Iran. Di satu sisi, ia berada di bawah tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan harga bensin di Amerika Serikat. Namun di sisi lain, Trump juga menghadapi potensi penolakan dari kelompok garis keras anti-Iran di Partai Republik apabila memberikan konsesi kepada Teheran.

Mengutip Reuters, dilema itu terlihat jelas dalam sepekan terakhir yang diwarnai diplomasi intensif terkait munculnya kerangka awal kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, kesepakatan sementara itu mencakup perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, sementara pembahasan mengenai program nuklir Iran ditunda ke putaran negosiasi berikutnya.

Jika disetujui kedua pihak, kesepakatan interim ini akan menjadi langkah paling signifikan menuju perdamaian sejak Trump bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Kesepakatan tersebut juga berpotensi meredakan lonjakan harga energi global akibat konflik.

Namun, langkah itu juga berisiko memicu kemarahan sebagian pendukung utama Trump, terutama kelompok Republikan yang mendesak agar pemerintah “menuntaskan pekerjaan” dengan kembali menyerang Iran demi menghentikan ambisi nuklir Teheran.

Sejumlah tokoh senior Partai Republik seperti Senator Lindsey Graham, Roger Wicker, dan Ted Cruz bahkan memperingatkan Trump agar tidak berkompromi terlalu jauh dengan Iran. Mereka menilai kesepakatan yang sedang dibahas berpotensi tak jauh berbeda dengan perjanjian nuklir Iran 2015 era Presiden Barack Obama yang sebelumnya dibatalkan Trump saat masa jabatan pertamanya.

Trump merespons kritik itu dengan menegaskan dirinya “tidak terburu-buru” dan hanya akan menerima kesepakatan yang “hebat”.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Stabil Jumat (29/5), Rupiah dan Won Korea Melemah

Di tengah tuntutan untuk segera menurunkan harga bensin dan menghentikan ancaman nuklir Iran, ruang gerak Trump dinilai semakin sempit.

Pakar Timur Tengah dari Johns Hopkins University, Laura Blumenfeld, mengatakan perubahan sikap dan pernyataan Trump yang kerap berubah dalam sepekan terakhir menunjukkan presiden AS itu sedang berusaha menghentikan perang besar dalam situasi yang sangat rumit.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan negosiasi berjalan baik dan Trump telah menetapkan “garis merah” yang jelas.

“Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika, yang harus memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir,” kata pejabat tersebut.

Meski demikian, bocoran isi nota kesepahaman yang beredar di media menunjukkan masih banyak persoalan penting yang belum terjawab. Di antaranya adalah status jangka panjang Selat Hormuz, nasib stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga mendekati level senjata nuklir, serta rincian kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.

Kerangka kesepakatan yang tengah dibahas saat ini dinilai masih jauh dari tuntutan awal Trump yang sebelumnya meminta “penyerahan tanpa syarat” dan pembongkaran total program nuklir Iran. Sementara Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya hanya bertujuan damai.

Direktur kebijakan organisasi United Against Nuclear Iran, Jason Brodsky, menilai Iran tampaknya justru memperoleh keuntungan lebih besar dalam kesepakatan sementara tersebut.

Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan teks akhir kesepakatan juga belum difinalisasi. Trump sendiri sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan kesepakatan dengan Iran hampir tercapai, namun upaya tersebut selalu gagal.

Di tengah negosiasi yang berlangsung, ketegangan militer antara kedua negara juga belum benar-benar reda. Pekan ini masih terjadi serangan terbatas yang memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran.

Para analis menilai Trump kini berusaha mencari titik keseimbangan antara memaksa Iran memberikan konsesi penting sambil tetap menjaga agar kompromi yang diberikan AS tidak terlihat terlalu besar di mata publik domestik.

Tonton: Iran Balas Serang Pangkalan AS di Teluk Timur Tengah Kembali Memanas

Pembukaan kembali Selat Hormuz tentu akan disambut positif pasar global. Namun, kondisi itu pada dasarnya hanya mengembalikan kelancaran distribusi minyak dunia seperti sebelum perang dimulai.

Sementara itu, tekanan politik dan ekonomi terhadap Trump juga terus meningkat. Tingkat kepuasan publik terhadapnya dilaporkan mencapai titik terendah baru.

Pemilu sela AS pada November mendatang juga semakin dekat, ketika Partai Republik tengah berupaya mempertahankan kendali atas Kongres. Sejumlah proyeksi terbaru memperingatkan konflik berkepanjangan dapat menimbulkan dampak serius bagi ekonomi global.

Iran sendiri disebut tengah mendorong pelonggaran sanksi ekonomi di awal kesepakatan guna membantu perekonomiannya yang terpuruk. Hal itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pengkritik Trump bahwa presiden AS tersebut mungkin akan sulit menolak tuntutan Iran demi mencapai kesepakatan penghentian perang.

Meski begitu, dalam rapat kabinet pada Rabu lalu, Trump kembali menegaskan posisi kerasnya dan mengatakan dirinya tidak peduli terhadap pemilu sela. Padahal, sejumlah ajudannya dikabarkan khawatir harga bensin yang tinggi dapat merugikan elektabilitas Partai Republik.

Analis menilai Iran kini merasa berada di posisi lebih kuat setelah mampu bertahan dari serangan militer sekaligus menunjukkan kemampuannya mengganggu hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: RI Tidak Termasuk, Ini 15 Negara yang Paling Dipercaya Investor di 2026

Presiden Program Timur Tengah di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, Jon Alterman, mengatakan Trump tampak ingin segera mengakhiri konflik tersebut.

“Semakin terlihat Trump ingin perang ini segera berakhir, semakin keras Iran bertahan pada posisinya,” ujarnya.

Perubahan sikap Trump dalam sepekan terakhir dinilai bukan hal baru. Saat kampanye, Trump berjanji menghindari perang yang tidak perlu, namun kini justru membawa AS masuk lebih dalam ke konflik luar negeri tanpa penjelasan strategi yang sepenuhnya jelas.

Cara Trump mengakhiri konflik dengan Iran diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan warisan kebijakan luar negerinya pada masa jabatan kedua.

Tabel 1. Poin Utama Kerangka Kesepakatan AS-Iran

Aspek Isi Kesepakatan Sementara
Gencatan senjata Diperpanjang
Selat Hormuz Dibuka kembali untuk pelayaran
Program nuklir Iran Pembahasan ditunda
Sanksi ekonomi Masih dinegosiasikan
Uranium Iran Status belum jelas
Dampak ekonomi Potensi turunkan harga energi global

Tabel 2. Dilema Politik Donald Trump

Tekanan yang Dihadapi Risiko
Menurunkan harga bensin Harus kompromi dengan Iran
Membuka Selat Hormuz Dikritik kubu hawkish Republik
Menghindari perang berkepanjangan Dinilai lemah terhadap Iran
Menjelang pemilu sela Elektabilitas Partai Republik terancam




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×