kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.909   -48,00   -0,28%
  • IDX 8.992   -18,15   -0,20%
  • KOMPAS100 1.239   1,44   0,12%
  • LQ45 875   3,69   0,42%
  • ISSI 330   0,16   0,05%
  • IDX30 448   2,63   0,59%
  • IDXHIDIV20 528   6,59   1,26%
  • IDX80 138   0,26   0,19%
  • IDXV30 146   2,21   1,53%
  • IDXQ30 144   1,54   1,08%

Uni Eropa Tinjau Ulang Hubungan dengan AS Meski Trump Melunak soal Greenland


Kamis, 22 Januari 2026 / 20:31 WIB
Uni Eropa Tinjau Ulang Hubungan dengan AS Meski Trump Melunak soal Greenland
ILUSTRASI. Ancaman tarif dan klaim Greenland oleh Trump memicu pertemuan darurat UE. Eropa kini melihat peluang untuk lebih mandiri, tapi bagaimana strateginya? (REUTERS/Denis Balibouse)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Para pemimpin Uni Eropa (UE) akan meninjau ulang hubungan mereka dengan Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan darurat pada Kamis (22/1/2026), menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terkait penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa serta pernyataannya soal kemungkinan aksi militer untuk menguasai Greenland.

Pernyataan Trump tersebut disebut telah mengguncang kepercayaan terhadap hubungan transatlantik, menurut sejumlah diplomat UE.

Trump pada Rabu (21/1/2026) secara mendadak menarik kembali ancamannya untuk mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa, menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland—wilayah semi-otonom milik Denmark yang juga anggota NATO—serta menyiratkan adanya kesepakatan untuk meredakan ketegangan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyambut baik perubahan sikap Trump terkait Greenland. Ia mengingatkan negara-negara Eropa agar tidak terlalu cepat mengesampingkan kemitraan transatlantik yang telah terjalin lama.

Baca Juga: Trump Luncurkan Dewan Perdamaian, Dinilai Berpotensi Bersaing dengan Peran PBB

Namun demikian, pemerintah-pemerintah UE tetap waspada terhadap potensi perubahan sikap Trump di masa mendatang. Presiden AS itu dinilai semakin menunjukkan pendekatan konfrontatif, sehingga Eropa merasa perlu menyusun strategi jangka panjang dalam menghadapi AS, baik di bawah pemerintahan saat ini maupun pemerintahan berikutnya.

“Trump telah melewati Rubicon. Dia bisa melakukannya lagi. Tidak ada jalan kembali seperti sebelumnya. Dan para pemimpin akan membahas hal ini,” ujar seorang diplomat UE. Ia menambahkan bahwa blok Eropa perlu mengurangi ketergantungan yang terlalu besar pada AS di berbagai sektor.

“Kita perlu tetap menjaga kedekatan dengan Trump, sambil secara bertahap menjadi lebih mandiri dari AS. Ini adalah proses panjang,” lanjut diplomat tersebut.

Ketergantungan Uni Eropa pada Amerika Serikat

Selama puluhan tahun, Uni Eropa bergantung pada AS dalam bidang pertahanan melalui aliansi NATO.

Hingga kini, UE masih kekurangan kapabilitas penting seperti intelijen, transportasi militer, pertahanan rudal, serta kapasitas produksi senjata untuk menghadapi potensi ancaman, termasuk dari Rusia. Kondisi ini memberikan AS pengaruh yang signifikan terhadap Eropa.

Baca Juga: Peta Baru Perdagangan Global Terbentuk di Davos Imbas Tarif Trump

Di sektor ekonomi, AS merupakan mitra dagang terbesar UE. Hal ini membuat Eropa rentan terhadap kebijakan Trump, terutama terkait penerapan tarif guna menekan defisit perdagangan AS, serta untuk mencapai tujuan politik lain seperti dalam isu Greenland.

“Kita perlu membahas di mana garis merah kita, bagaimana menghadapi perundungan dari seberang Atlantik, dan di mana kekuatan kita,” ujar diplomat UE lainnya.

Ia juga mempertanyakan konsistensi kebijakan Trump. “Trump mengatakan tidak ada tarif hari ini, tapi apakah itu juga berlaku besok? Kita perlu menyiapkan langkah jika ia kembali berubah pikiran,” katanya.

Sebelumnya, Uni Eropa sempat mempertimbangkan paket tarif balasan senilai 93 miliar euro atau sekitar US$108,74 miliar terhadap impor dari AS, termasuk kemungkinan penerapan langkah anti-koersi. Namun, UE menyadari bahwa langkah tersebut juga berisiko merugikan perekonomian Eropa sendiri.

Ketidakjelasan Kesepakatan Greenland

Sejumlah diplomat menilai detail kesepakatan baru terkait Greenland masih belum jelas. Kesepakatan tersebut disebut dicapai antara Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss.

“Belum banyak yang berubah. Kami masih menunggu detail kesepakatan Greenland. Kami lelah dengan perundungan semacam ini. UE perlu memperkuat ketahanan, persatuan, pasar internal, dan daya saing. Dan tidak lagi menerima tekanan tarif,” ujar seorang diplomat UE.

Baca Juga: Putin Angkat Bicara Soal Ambisi Trump Kuasai Greenland: Bukan Urusan Rusia!

Dalam wawancara dengan Reuters di Davos, Mark Rutte menyatakan bahwa berdasarkan kerangka kesepakatan dengan Trump, negara-negara Barat perlu meningkatkan kehadiran mereka di kawasan Arktik.

Ia juga menegaskan bahwa pembicaraan lanjutan akan dilakukan antara Denmark, Greenland, dan AS mengenai isu-isu spesifik.

Para diplomat menekankan bahwa meskipun pertemuan darurat UE di Brussels kini tidak lagi seurgens sebelumnya, persoalan jangka panjang mengenai bagaimana mengelola hubungan dengan AS tetap menjadi perhatian utama.

“Pendekatan front persatuan dalam solidaritas dengan Denmark dan Greenland, sambil fokus pada deeskalasi, telah berhasil,” ujar diplomat UE lainnya. “Namun, sudah saatnya kita merefleksikan kondisi hubungan ini dan bagaimana kita ingin membentuknya ke depan, berdasarkan pengalaman dalam sepekan terakhir.”

Selanjutnya: Kelas Atas Tahan Belanja, Pajak Barang Mewah Tak Lagi Wah

Menarik Dibaca: 5 Makanan Ultra Olahan yang Masih Aman Dikonsumsi untuk Kesehatan Tubuh




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×